Kamis, 19 Jul 2018
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Lagi Ngetren, Kawin Usia Muda

Senin, 18 Jun 2018 14:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

NIkah Muda, Tren remaja, Pengadilan Agama Lumajang,

Nikah muda jadi tren di Lumajang saat ini. Makin banyak remaja yang kebelet nikah. Mereka menikah pada usia di bawah 19 tahun untuk laki-laki, dan 16 tahun untuk perempuan. Sebagian karena hamil lebih dulu. Fenomena naiknya angka pernikahan dini, salah satunya bisa dilihat dari jumlah pemohon dispensasi kawin di Pengadilan Agama (PA) Kelas I A Lumajang. 

Panitera Muda Hukum PA Kelas I A Lumajang Teguh Santoso menyebut, total jumlah remaja pemohon dispensasi kawin naik dalam kurun dua tahun terakhir. ”Usia mereka sebenarnya masih usia sekolah,” ucapnya. 

Dispensasi kawin adalah permohonan pernikahan yang diajukan calon mempelai yang masih berusia di bawah usia perkawinan. Ketentuan ini sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 7 ayat 1 dan 2. Undang-undang itu menjelaskan, proses pernikahan secara sah oleh negara hanya bisa dilakukan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun. Sementara, batas usia minimal pernikahan untuk perempuan adalah 16 tahun.

Apabila calon mempelai atau salah satunya masih berada di bawah usia pernikahan sebagaimana undang-undang di atas, orang tua bisa memintakan dispensasi kawin ke PA agar anaknya bisa dinikahkan secara sah menurut hukum negara. 

Data PA Lumajang menunjukkan, sepanjang 2016 ada sebanyak 139 pemohon dispensasi kawin. Sementara, data 2017 membengkak menjadi 180 pemohon dispensasi. Tahun ini pun, sepertinya total pemohon dispensasi kawin belum akan mengalami penurunan. Sepanjang pekan terakhir Mei 2018 saja, jumlah pemohon sudah 78 calon mempelai. Selisihnya cukup kecil jika dibandingkan dengan akhir Mei 2017, yang memiliki jumlah pemohon dispensasi kawin sebanyak 80 orang.  

Teguh mengungkapkan, dari semua pengajuan dispensasi kawin, sebagian di antaranya dalam kondisi hamil sebelum menikah. Itulah kemudian, kata dia, yang membuat Pengadilan Kelas I A mengabulkan permohonan dispensasi. “Mereka masih usia sekolah. Sebagian masih berstatus sebagai siswa aktif di sejumlah sekolah. Sehingga, menurut saya, beberapa hal yang bisa ditempuh untuk menekan angka pernikahan dini di Lumajang adalah dengan lebih memahamkan hukum agama dan perbaikan moral kepada generasi muda. Serta yang juga tidak kalah penting terkait kontrol pemanfaatan IT,” paparnya. 

Lebih dari itu, kata Teguh, jumlah pernikahan dini sebagaimana tercatat oleh petugas Pengadilan Agama I A Lumajang bisa dianggap puncak gunung es. Fakta di lapangan, tidak sedikit pula pasangan usia dini yang memilih jalur nikah siri. “Kalau nikah siri kan tidak terpantau oleh kami,” pungkasnya. 

(jr/was/aro/das/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia