Senin, 23 Jul 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Jangan Lupa Sisihkan Dana Cadangan

Minggu, 17 Jun 2018 08:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Dana Simpanan, Lebaran,

PENTINGNYA DANA SIMPANAN: Pengeluaran di momen Lebaran biasanya mengalami peningkatan, namun masyarakat harus lihai menyiapkan dana cadangan yang disisihkan dari THR maupun gaji bulanan. (Lintang Anis Bena Kinanti/Radar Jember)

Merayakan Lebaran tidak hanya pada hari H saja, namun sejatinya berkelanjutan hingga beberapa hari berikutnya. Ada saja agenda mendadak yang dilakukan, misalnya kunjungan ke sanak saudara dan teman-teman lainnya. Untuk mengantisipasi hal tersebut tentu dibutuhkan perencanaan keuangan yang tepat, sebab seusai momen Lebaran masih banyak momen lain yang akan disongsong. Jangan sampai setelah Lebaran kantong justru kobol-kobol.

Pada hakikatnya tunjangan hari raya (THR) memang digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang biasanya muncul pada saat puasa dan menjelang Lebaran. Namun konsultan keuangan personal Galih Rahmawati tidak menyarankan THR tersebut langsung dihabiskan pada saat itu saja. “Jika memungkinkan bisa dicadangkan sebagian untuk mengantisipasi kebutuhan mendesak,”ungkapnya.

Idealnya, presentase penggunaan THR untuk kebutuhan konsumtif yaitu 60-70 persen dari total yang diterima. Sisanya bisa dialokasikan untuk ditabung. “Prediksi kebutuhan Lebaran sebenarnya bisa diantisipasi dengan mencadangkan sebagian dari pemasukan bulanan yang diterima sebelum memasuki bulan Ramadan,” terang Galih.

Jika jauh-jauh hari dana untuk keperluan Lebaran sudah dipersiapkan secara bertahap, seharusnya tidak ada masalah dengan pengelolaan dana THR. Apalagi jumlah THR yang diterima tidak bisa diperhitungkan sebelumnya. “Salah satu cara terbaik adalah membuat perencanaan pengeluaran yang diprediksi terjadi ketika Lebaran,” lanjutnya.

Terlebih lagi sejak tahun lalu, masa lebaran jatuh tak jauh dengan tahun ajaran baru pendidikan. Maka dari itu tak sedikit para orang tua yang puyeng, karena THR yang diterima sudah habis duluan ketika bersilaturahmi ke sanak saudara. Padahal di waktu berikutnya, ada kebutuhan yang tak kalah mendesak untuk dipenuhi.

Belum lagi saat ini kondisi perekonomian Indonesia sedang mengalami penurunan. “Tahun ini kita harus pandai me-manage keuangan keluarga terutama dalam kategori pengendalian diri,” ujarnya.

Agar dapat melewati momen Ramadan dan Lebaran dengan ‘selamat’, paling tidak perencanaan harus dibuat minimal sejak satu bulan sebelum dan satu bulan sesudah bulan puasa. “Buat pembagian pos-pos yang penting untuk dana yang dikeluarkan sebelum dan sesudah Lebaran,” tuturnya.

Sementara itu praktisi keuangan Prof Dr Isti Fadah MSi sejak awal sudah menekankan bahwa pengaturan keuangan sangat penting. Berkaca dari pengalaman pribadinya, dirinya sudah mempersiapkan alokasi anggaran yang akan dikeluarkan selama masa lebaran dan tahun ajaran baru. “Kebetulan anak-anak saya juga masih menempuh pendidikan tinggi, jadi harus dialokasikan biaya kuliahnya,” tuturnya.

Dia melanjutkan, pengalokasian anggaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan rumah tangga masing-masing. Namun demikian pengawasan keuangan keluarga selama dan pasca Lebaran memang sangat penting. Sebab kaitannya dengan penganggaran dana di bulan-bulan selanjutnya. “Jangan semuanya dihabiskan di waktu lebaran. Memang biasanya pemegang anggaran suka emosional, menghabiskan uang untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif,” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember tersebut.

Belum lagi pengeluaran yang tak terduga, misalnya kebutuhan kesehatan yang mendadak harus dikeluarkan karena pola makan di saat lebaran yang kurang teratur. Termasuk juga biaya pembelian seragam dan alat tulis jelang masuk sekolah nanti. “Jangan sampai besar pasak daripada tiang,” tegasnya. 

(jr/lin/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia