Kamis, 19 Jul 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Angkot Sepi, Sehari Dapat 50 Ribu

Sabtu, 16 Jun 2018 08:10 | editor : Dzikri Abdi Setia

Angkot, Lin, Ojek,

SAMA-SAMA SEPI: Pendapatan sopir angkutan kota (angkot) turun drastis sejak adanya transportasi berbasis online. Penurunan pendapatan juga dirasakan driver ojek online, karena persaingan antar driver sangat ketat. (dwi siswanto/radar jember)

Pendapatan para sopir angkutan kota atau lin kuning turun drastis akibat masifnya transportasi berbasis online (daring). Ojek pangkalan pun juga mengalami demikian, hingga tak jarang mereka bentrok dengan driver ojek online (daring).

Pengakuan Abdul Hadi, sopir lin K, kondisi transportasi saat ini tidak menguntungkan. Dia mengaku sejak hadirnya ojek online (daring), pendapatannya tergerus drastis. “Mulai pagi sampai sore itu hanya Rp 50 ribu,” katanya.

Pendapatan Rp 50 ribu itu pun belum di potong bensin dan uang setoran. Bahkan, kata dia, pemilik lin menerima dengan lapang dada lantaran uang yang disetorkan tak sesuai setoran. “Sebenarnya setorannya itu 50 ribu per hari. Tapi karena kondisi seperti ini, ya biar sama-sama enaknya,” tambahnya.

Dia mengaku, angkutan lin dulu jadi transportasi andalan dan menggiurkan untuk mengumpulkan rupiah. Sebelum tahun 2000, kata dia, pendapatannya bisa ratusan ribu per hari. Memasuki tahun 2000 ke atas, pendapatan lin mulai turun. Tepatnya, sejak kemudahan masyarakat mendapatkan kredit motor. 

Meski demikian, pria asal Sempolan ini menambahkan, saat itu lin bisa bertahan dan pendapatan tidak turun drastis seperti munculnya ojek online . “Sebelum ada ojek online ini per hari itu dapat Rp 90 ribu – Rp 100 ribu,” jelasnya.

Hadi memantau rata-rata penumpangnya sekarang adalah mereka yang tak punya smartphone. “Dulu masih mengandalkan anak sekolah. Sekarang anak sekolah SMP sudah pakai ojek online. Kalau anak SMA sudah naik motor sendiri. Ya rata-rata penumpangnya yang tidak punya HP canggih,” katanya.

Memang, sejak hadirnya transportasi online, ojek online benar-benar menggoda. Upah yang tinggi, hingga jam kerja yang begitu fleksibel. Tapi untuk saat ini, mereka juga sedang seret. 

Menurut Ali Rafi, driver Gojek, awal hadirnya perusahaan berbasis online di Jember memang menjanjikan. Pria yang bekerja mulai Oktober tahun kemarin tersebut menuturkan, kerja 4-5 hari bisa mendapatkan uang Rp 200 ribu. “Kerja saya santai, karena masih kuliah,” katanya. 

Dua sampai tiga bulan pertama dia kerja, untuk target meraih 20 poin dalam sehari begitu mudah. “Kalau target terpenuhi, dapat bonus Rp 80 ribu,” katanya.

Menurut Ali, penurunan pendapatan mulai terasa sekitar Februari. Puncaknya terjadi mulai Maret sampai saat ini. Setiap hari dapat 5-6 penumpang, kata dia, itu sudah bagus. Untuk memenuhi target 20 poin pun sangat susah. “Bisa jadi kerja mulai pagi dan pulang sampai larut,’’ katanya. 

Saat ini, kata dia, pendapatan driver ojek online turun 50 sampai 70 persen. Ini karena banyak sekali ojek online di Jember. “Sekarang bukan lagi persaingan dengan ojek pangkalan. Tapi sesama ojek online, persaingannya ketat,” pungkas mahasiswa Unej ini. 

(jr/dwi/ras/das/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia