Jumat, 20 Jul 2018
radarjember
icon featured
Radar Semeru

Belum Tersentuh Layanan Sampah

Jumat, 15 Jun 2018 10:35 | editor : Dzikri Abdi Setia

Layanan Sampah, Kabupaten Lumajang,

TUNJUKKAN: Agung Kuncoro menunjukkan peta persebaran pelayanan sampah di Kabupaten Lumajang. Tujuh diantaranya belum terlayani. (Khawas Auskarni/RAME)

Dinas Lingkungan Hidup (DHL) Kabupaten Lumajang menyatakan belum bisa memberi layanan sampah secara merata di semua wilayah. Masih ada tujuh kecamatan yang sama sekali belum mendapatkan layanan sampah dari DLH. Semua itu terjadi karena belum ada anggaran. 

Kasi Sarana Dan Prasarana DLH Kabupaten Lumajang Agung Kuncoro menyebut, dari total 21 kecamatan yang ada di Lumajang, hanya 14 kecamatan saja yang tersentuh layanan sampah. Sementara tujuh kecamatan lainnya tidak memiliki tempat pembuangan sementara (TPS) yang tersistemisasi. 

Tidak meratanya penyediaan TPS, kata Agung, disebabkan alasan klasik, yaitu terbatasnya anggaran yang dimiliki DLH. Serta, belum adanya pembahasan dalam penganggaran tahunan untuk pengadaan TPS di tujuh kecamatan yang masih belum terkaver. 

Tujuh kecamatan yang belum dilengkapi dengan fasilitas pembuangan sampah sementara adalah Ranuyoso, Gucialit, Padang, Rowokangkung, Tempursari, Pronojiwo, serta Pasrujambe. Agung mengaku, sejauh ini belum tahu persis ke mana masyarakat di tujuh kecamatan itu mendistribusikan sampah-sampah yang diproduksi setiap harinya. "Kami masih belum tahu ke mana mereka membuang sampah," ucapnya. 

Di sisi lain, Kabupaten Lumajang memiliki banyak destinasi wisata yang masuk dalam Kawasan Pariwisata Strategis Nasional (KSPN) Bromo Tengger Semeru. Sejatinya, lanjut Agung, status tersebut menuntut pengembangan infrastruktur pengelolaan sampah daerah yang optimal. 

Lebih jauh dia menjelaskan, upaya yang bisa dilakukan DLH dalam optimalisasi sampah adalah dengan memberdayakan bank sampah. Inovasi ini menuntut keterlibatan aktif masyarakat sebagai pihak penghasil sampah. "Inovasi bank sampah bisa mengatasi kekurangan TPS di sejumlah daerah. Masyarakat bisa mendapatkan nilai ekonomi dengan menukar sampah yang mereka produksi menjadi rupiah melalui bank sampah," jelas Agung. 

Saat ini sudah 33 desa dari 198 desa dan 7 kelurahan di Kabupaten Lumajang yang sudah memiliki bank sampah. Dua desa yang secara aktif mengoperasikan bank sampah adalah Desa Gesang dan Pasirian. "Hasil ini kita capai melalui sosialisasi manfaat bank sampah ke desa-desa di Kabupaten Lumajang. Target sosialisasinya mencakup seluruh desa," pungkasnya. 

(jr/was/das/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia