Minggu, 22 Jul 2018
radarjember
icon featured
Ekonomi Bisnis

Bondowoso Pernah Menjadi Produsen Besar Vanili

Jumat, 15 Jun 2018 09:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Vanili, bondowoso produsen vanili,

HARGA MAHAL: Dua tahun ini Rudi Ginting mengembangkan vanili di Bondowoso. Barang ekspor ini harganya cukup mahal. (Ginting for Radar Ijen)

Vanili atau yang dalam bahasa latin disebut vanilla planifolia adalah tanaman penghasil bubuk vanili. Kegunaannya biasa dijadikan pengharum makanan, parfum, kosmetik, es krim, dan lainnya. Bondowoso pernah menjadi produsen tanaman ini. Namun, saat ini tinggal pabrik pengolahannya, di Jalan Santawi. Tetapi, vanili mulai dikembangkan kembali dalam dua tahun ini oleh Rudi Ginting.

Rudi Ginting adalah warga Jalan Supriyadi, No. 21 Perum Kademangan, Bondowoso. Dia adalah alumnus IPB. Pria yang juga anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) ini mengembangkan vanili di Bondowoso. “Saya mengembangkan di Sumber Wringin,” terangnya.

Tanaman yang dikenal pertama kali oleh orang-orang Indian dan Meksiko ini rupanya tumbuh subur di Bondowoso. Cara menanamnya dengan tumpang sari. Di lahan-lahan yang ada tegakan pohon seperti sengon, kopi, dan lain sebagainya. 

Vanili, merupakan tanaman ekspor yang saat ini tengah naik daun. Sebab, nilai satu kilogramnya saja di kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6,2 juta. Selama ini, Rudi membudidayakan para petani di Sumber Wringin. Mulai membuat bibit, sampai menanamnya.

Rudi yang juga menjadi ketua perkumpulan Petani Vanili Indonesia ini sudah berpengalaman menanam vanili sebelumnya. Dia banyak mengambil pengalaman di Kalimantan. Selanjutnya, saat ke Bondowoso, ilmunya itu dituangkan dalam bentuk praktik dan pengembangan vanili. “Kebetulan saya berkeluarga orang Bondowoso,” ungkap alumnus IPB tersebut. 

Selain mengedukasi para petani, Rudi Ginting juga aktif menjadi pemateri di berbagai forum. Bahkan, dia aktif dalam berbagai forum internasional. April lalu, dia bertemu para investor dari Amerika. Dia melakukan presentasi. Hal yang mencengangkan, kebutuhan perusahaan dari Amerika itu 4 ribu ton kering. “Dan ternyata minatnya kepada vanili cukup tinggi. Oleh karena itu, tanaman ini harus dikembangkan di Bondowoso, itu tekad saya,” terangnya. 

(jr/hud/aro/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia