Sabtu, 21 Jul 2018
radarjember
icon featured
Features
Drum Custom, Furnitur Unik dari Drum Bekas

Kaget Dihubungi Polisi, Ternyata Mau Pesan Set Furnitur

Jumat, 15 Jun 2018 08:25 | editor : Dzikri Abdi Setia

Drum Custom,

UNIK: Salah satu bentuk satu set furnitur yang terbuat dari drum bekas yang dirancang oleh Jatmiko Wahyudi. Pemasaran drum custom ini sudah mencapai luar kota, bahkan luar pulau. (Jatmiko Wahyudi for Radar Jember)

Mungkin ini yang dinamakan reduce, reuse, recycle. Setelah memanfaatkan isinya, drum bekas ini diubah menjadi seperangkat furnitur yang cukup unik. Jika awalnya hanya dijadikan hobi, saat ini drum custom bisa dipasarkan dengan nilai mencapai jutaan rupiah. Bagaimana cara pembuatannya?

Sepintas dilihat, sebuah area di kawasan Pakusari ini hanya tampak seperti tempat tumpukan drum-drum bekas. Tak ada yang menarik dari tempat tersebut. Orang akan melihatnya sebagai tempat loakan besi-besi bekas. 

Namun, sedikit bergeser, terdapat sebuah bengkel yang diisi beberapa personel tengah ‘menyulap’ drum tersebut. Bukan sulap bukan sihir, drum ini berubah bentuk. Drum bekas yang awalnya sedikit berkarat, berganti menjadi kursi, meja, dan lemari yang sangat fashionable. Dengan warna yang terang dan logo-logo produsen terkenal.

Inilah yang dikerjakan Jatmiko Wahyudi, seorang kontraktor yang juga mengembangkan ide kreatifnya di bengkel workshop miliknya. Pria asal Jogjakarta tersebut memiliki ‘kadar seni’ yang sedikit berlebih, dan mengubah drum-drum bekas tersebut menjadi furnitur siap pakai. Melongok ke display store-nya, bisa dilihat seperangkat meja, kursi, dan lemari sudah tersimpan rapi dengan beragam desain.

Pria yang akrab disapa Yudi ini memang bukan pertama kali mengubah sesuatu dengan desain yang unik. Dirinya pernah bergabung dengan salah satu brand kaus terkenal di Jogja yang identik dengan plesetan logonya. Sejak pertengahan tahun lalu, Yudi menjajal kembali kreativitasnya dalam mengubah drum bekas menjadi seperangkat furnitur.

Drum custom, begitu Yudi menyebut karyanya. Custom berarti pihaknya mengikuti permintaan konsumen. Desain yang dia buat hampir tidak pernah memiliki pakem tertentu. “Custom ini bahasa kita, artinya sebuah bentuk yang bisa keluar dari relnya,” tuturnya.

Ide menyulap drum bekas ini muncul dari tumpukan drum yang dia miliki. Sebagai seorang kontraktor dengan banyak properti dump truck, tak sedikit limbah drum yang dia hasilkan dari pekerjaan sehari-harinya. Karena tidak ingin menumpuk barang bekas, Yudi mencoba memotong-motong drum tersebut ke berbagai bentuk furnitur.

“Karena saya juga hobi trail, saya buat kursi dan meja dengan desain warna dan logo berkonsep trail. Ternyata banyak teman-teman komunitas trail yang suka, dan mereka membelinya,” ungkap Yudi.

Di workshop miliknya, Yudi sudah mempersiapkan berbagai perlengkapan, termasuk alat potong khusus untuk membentuk drum yang memiliki ketebalan dan bahan dasar kukuh. Hampir setiap hari proses produksi dilakukan oleh sekitar tujuh karyawannya. “Dalam seminggu kita bisa produksi empat sampai lima set,” akunya.

Awalnya, Yudi tak berniat menjual, namun ketika banyak jaringan komunitasnya yang tertarik untuk membeli kreasi Yudi, dirinya mulai banting setir menjadikan hobinya sebagai bisnis. “Paling murah dijual seharga Rp 500 ribu untuk meja, Rp 750 ribu untuk sofa. Bahkan ada yang sampai dijual seharga Rp  2,5 juta,” tutur pria kelahiran 17 Juni 1975 tersebut.

Pemasarannya pun tak main-main. Meski bisnis ‘anak bawang’ ini baru dimulai pada Oktober tahun lalu, pembelinya sudah merambah ke luar pulau. “Ini saya baru mengirim ke Lampung,” imbuhnya.

Penggemarnya pun berasal dari berbagai kalangan. Mayoritas mendengar karya Yudi dari komunitas trail yang dia ikuti, kemudian tersebar hingga ke nasional. Tak hanya itu, instansi-instansi besar pun melirik furnitur custom buatannya. “Saya kaget ketika dihubungi Polda Jawa Timur, ternyata mau pesan,” ujarnya sembari tertawa.

Tak hanya itu, banyak restoran dan kafe juga memesan furnitur drum custom ini dari tangannya. Kekuatan word of mouth menjadi andalan, dan didukung dengan promosi di media sosial. “Karena yang beli kan belum lihat sendiri produk jadinya, hanya lewat foto atau video. Jadi, saya tidak main-main dengan kualitasnya. Dengan begitu orang nanti akan puas telah order di saya, dan disebarkan ke teman-temannya,” papar Yudi.

Untuk sofanya, Yudi memanfaatkan bahan standar dengan kain oscar sebagai penutupnya. Namun, jika pelanggan ingin modifikasi lain, dia tak keberatan. “Kadang ada yang minta dibikinin pakai bahan beludru, nggak mau oscar. Ya kita terima,” kata dia.

Kualitasnya, kata dia, tidak perlu diragukan lagi. Untuk membuktikannya, dia berpesan pada personel yang bertugas di display store untuk tidak menyimpan produk drum custom tersebut jika hujan. “Kita nggak takut cuaca, mau kehujanan atau kepanasan ya dibiarin,” selorohnya.

Tidak hanya di bengkel workshop dan display store, Yudi juga menjadikan drum custom sebagai furnitur di kafe miliknya. Tempat nongkrong di daerah Kaliwates ini menjadi media baginya untuk mempersilakan masyarakat melihat sendiri kreasinya. “Nuansanya pun trail,” pungkasnya. 

(jr/lin/hdi/das/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia