Jumat, 20 Jul 2018
radarjember
icon featured
Features
Suhri; Melawan Keterbatasan Mata

Kaget Ketika Bisa Lulus SIM D Khusus Difabel

Kamis, 15 Mar 2018 07:15 | editor : Dzikri Abdi Setia

Disabilitas,

MELAWAN KETERBATASAN: Keterbatasan penglihatan tidak menjadikan Suhri sebagai pribadi yang malas. Bahkan, pria asal Kalisat ini bisa mengendarai sepeda motor sendiri setiap harinya. (Wawan Dwi Siswanto/Radar Jember)

Tak sedikit penyandang disabilitas yang memilih mendobrak keterbatasan mereka dan beraktivitas layaknya masyarakat lain. Salah satunya Suhri, penyandang tunanetra dengan keterbatasan penglihatan yang cukup berat. Hebatnya, dia tetap bisa mengendarai sepeda motor dalam kesehariannya.

Suara sepeda motor perlahan terdengar memasuki pelataran SLB Negeri Branjangan, Bintoro, Patrang, hari itu. Seorang pria yang membonceng istrinya beranjak turun setelah memarkir sepeda motor bebek sederhana. Sepintas, tak ada perbedaan antara sang pengendara dengan orang lain, namun ketika diteliti lebih spesifik, ada kekurangan yang cukup jelas terlihat.

Suhri, pengendara motor tersebut, merupakan salah satu penyandang disabilitas. Tepatnya, ada gangguan pada penglihatannya, sehingga kedua bola matanya tidak presisi. Hal ini membuatnya tak dapat melihat dengan jelas. Kondisi ini sudah dia dapat sejak lahir, meskipun tak ada kakak dan adik-adiknya yang mengalami kondisi yang sama.

Pria asal Kalisat ini tak paham benar berapa persen kebutaan yang dia alami. Jarak pandangnya pun sangat terbatas, tak lebih dari sepuluh meter. “Kalau lihat tulisan agak besar dan jauh di depan saya sudah nggak kelihatan, tapi tahu kalau di sana ada tulisan,” ujarnya ketika ditemui Jawa Pos Radar Jember.

Ketika diperiksa oleh dokter, Suhri sempat disarankan untuk memakai kacamata khusus. Namun, itu justru membuatnya pusing, sehingga tidak pernah dia pakai. “Mau pakai kacamata jauh juga nggak bisa, malah tambah pusing,” imbuhnya. Daripada semakin membuat matanya terganggu, Suhri memutuskan menjalani hari-harinya tanpa alat bantu apa pun.

Dengan kondisi yang dia alami, Suhri hanya mencecap bangku pendidikan reguler hingga SD. Selepas itu, dirinya melanjutkan pendidikan di SLB Negeri Branjangan (dulu SLB Bintoro) hingga lulus SMA. Ada beberapa pertimbangan hingga akhirnya orang tuanya memindahkan Suhri ke SLB. “Salah satunya ya karena nggak bisa lihat jauh ke depan,” kata pria kelahiran 15 Maret 1991 tersebut.

Setelah lulus, tak ada pemikiran bahwa Suhri hendak menjalani pendidikan lanjutan di bangku kuliah. Hal yang dia pikirkan hanyalah bagaimana bisa bertahan hidup dan bekerja sebagai seorang tunanetra. Oleh karena itu, dia memilih ikut pelatihan sebagai seorang pemijat atau massage di Malang.

“Waktu SMA pernah dapat pelatihan ke Malang dalam program sekolah. Kemudian, setelah lulus saya berpikir, bagaimana nasib saya nanti. Saya tidak mungkin bekerja terlalu berat. Jadi, saya nyari yang ringan tapi tetap menghasilkan,” kenangnya. 

Setelah empat tahun lebih bekerja di Malang, anak kedua dari lima bersaudara ini kembali ke Kalisat dan menjajal peruntungannya sebagai ahli pijat. Namun, dia enggan keliling dari rumah ke rumah akibat keterbatasan yang dia miliki. “Kalau di rumah saya sudah menyediakan tempat sesuai dengan kondisi saya, baik tinggi maupun jaraknya. Kalau di rumah orang kan sungkan mau naik-naik ke tempat tidur orang,” akunya. Meski begitu, jika ada permintaan khusus, Suhri berkenan untuk datang ke rumah pasiennya.

Salah satu kelebihan lain yang bisa Suhri jalani adalah mengendarai sepeda motor. Ini menjadi keunikan tersendiri, sebab tak banyak tunanetra yang mampu berkendara, apalagi sepeda motor. “Jalannya ya pelan-pelan,” selorohnya.

Pertama kali Suhri belajar naik motor ketika masih duduk di bangku SD. Kala itu, dia minta ke salah seorang pamannya untuk diajari mengemudikan sepeda motor. Tak tanggung-tanggung, sang paman langsung mengajaknya latihan di Jalan Kalimantan. “Dulu latihannya malam, jam 11 gitu, jadi jalanan sepi. Itu juga didampingi, jadi bisa latihan. Kalau sekarang ya nggak berani,” kata putra pasangan Dahlan dan Siti Fatimah tersebut.

Keterbatasan penglihatan tak menjadikan Suhri enggan berkendara. Sejak masih belum ada SIM D atau SIM khusus difabel, kala itu Suhri pede saja keliling kota. Meskipun masih punya setitik kekhawatiran akan keselamatan, namun ditepisnya kekhawatiran itu.

Motornya pun merupakan motor bebek dengan persneling. Suhri mengaku malah kurang lancar mengendarai motor matic. “Saya malah bingung kalau pakai matic, soalnya cuma ngegas sama ngerem aja, malah bingung,” akunya.

Karena masih belum punya SIM, pria berambut lurus tersebut sempat ditilang oleh polisi setempat. Kala itu, dirinya masih duduk di bangku SMA. “Nggak pakai helm, nggak punya SIM, dan nggak bawa STNK. Ya sudah, sepeda motornya yang diambil,” kenangnya sembari tertawa. 

Ketika ditanya apakah polisinya menyadari kondisi Suhri, rupanya Suhri tidak menangkap gelagat aneh. “Mungkin karena waktu itu banyak yang ditilang, jadi polisinya nggak begitu memperhatikan kondisi saya,” lanjutnya.

Namun, bukan berarti Suhri bebas dari kecelakaan. Pernah sekali waktu, dirinya berkendara pulang dari tempat kerjanya di SLB Negeri Branjangan. Meskipun sudah berkendara perlahan dan di pinggir, masih ada saja mobil yang menyerempetnya. “Saya lihat di belakang saya ada pikap, jadi saya nyetirnya minggir. Tapi, tetap dipepet sama mobilnya, sampai nabrak setir saya yang kanan, padahal posisi saya sudah di pinggir, antara aspal dan tanah,” tuturnya. Ironisnya, pengendara mobil itu justru tak bertanggung jawab dan meninggalkan Suhri yang waktu itu membonceng istrinya.

Pengalaman lainnya terjadi ketika dirinya berkendara ke Kalisat petang hari. Karena sudah mulai gelap, Suhri tak menyadari ada polisi tidur yang cukup tinggi di jalan. “Karena kaget, saya langsung rem sampai jatuh, untung tidak terjadi hal buruk,” kenangnya. 

Pernah juga Suhri nyaris ‘lewat’ ketika dirinya berpapasan dengan truk di belokan. Beruntung, dirinya masih bisa mengendalikan motornya, sehingga tidak terjadi hal yang buruk. Namun demikian, hingga kini Suhri bersyukur selama dirinya berkendara tidak pernah mengalami kecelakaan berat. “Jangan sampai deh,” harapnya.

Sang calon ayah ini tidak pernah menghitung kecepatan yang dia tempuh. Namun, jika dihitung waktu, umumnya dia berkendara selama 30 menit dari Patrang menuju rumahnya di Kalisat. “Biasanya paling sekitar 15 menit,” imbuh Suhri.

Jika dulu Suhri masih bersedia naik sepeda motor jarak jauh, kini hal tersebut enggan dia lakukan. Dirinya ingat, jarak terjauh yang pernah dia tempuh adalah menuju Gumukmas, tempat tinggal sang istri. “Tapi kalau sekarang ya nggak berani, soalnya kendaraan kan makin padat, kalau dulu masih sepi,” tegasnya.

Memasuki 2016, pemerintahan setempat telah menginisiasi adanya SIM D khusus untuk difabel. Berbekal kemampuannya mengendarai sepeda motor, Suhri mencoba untuk tes bersama dua rekannya yang juga penyandang disabilitas. 

Berbeda dengan tes SIM pada umumnya, Suhri bercerita bahwa ada perbedaan signifikan dalam tes praktik. Para penyandang disabilitas hanya menjalani tes U-turn atau putaran U. “Kalau tes tulisnya sama saja dengan yang lain,” imbuhnya.

Lucunya, dari tiga orang yang waktu itu menjajal aplikasi SIM D, hanya Suhri yang dinyatakan langsung lulus. Padahal, awalnya dia yang justru dikhawatirkan teman-temannya. “Mereka khawatir, Suhri gimana tesnya nanti, soalnya nggak bisa lihat jauh. Eh, malah saya yang langsung lulus hari itu juga,” ujarnya sembari tertawa.

Meski sudah memilik SIM, namun dirinya tetap enggan berkendara di malam hari. Jika tak ada kondisi darurat, Suhri lebih memilih menghabiskan malam di rumahnya. “Sekarang banyak ojek, kalau mau keluar malam ya naik ojek. Kalau siang masih nggak apa-apa,” pungkasnya.

(jr/lin/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia