Minggu, 22 Jul 2018
radarjember
icon featured
Radar Ijen

Tiga Mapel Jadi Ujung Tombak

Rabu, 13 Dec 2017 12:40 | editor : Dzikri Abdi Setia

Dispendik Bondowoso, Radar Ijen,

BAHAS KARAKTER: Perpres No 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter harus berdampak di Bondowoso. Hal ini dibicarakan oleh Dewan Pendidikan dengan MGMP PAI, Sejarah dan PKn. (Sholikhul Huda/Radar Ijen)

Perpres No 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter menjadi salah satu hal yang selama ini intens dibahas Dewan Pendidikan. Hal itu dilakukan karena pemerintah daerah, dalam hal ini Bupati Amin Said Husni, ingin ada formulasi tentang pelaksanaan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di Bondowoso.

Ketua Dewan Pendidikan M Syaeful Bahar mengungkapkan, Perpres itu sudah jelas, yakni top down. Namun dari Prepres itu memberi ruang dari bawah, yakni partisipasi pemerintah daerah. Dalam menguatkan Prepres PPK, pemerintah melalui Dewan Pendidikan mengumpulkan aspirasi para pelaku pendidikan dilapangan. “Sudah ada beberapa kali petemuan yang kami lakukan dalam mencari formulasi,” ungkapnya.

Pertama adalah mengumpulkan Kepala SMP dan guru ngaji di Bondowoso, kedua melakukan pembahasan keterlibatan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) pada 10 Perguruan Tinggi di Bondowoso dan berikutnya adalah mengumpulkan para guru Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) di Bondowoso. 

Kegiatan yang berada pada poin ketiga itulah yang dilaksanakan akhir pekan kemarin (9/12) di Aula Dispendik. Kegiatan itu ingin mencari formulasi Penguatan Pendidikan Karakter yang baik, cepat dan tidak menyulitkan perencanaan. Akhirnya dipetakanlah tiga matapelajaran yang bisa mempercepat internalisasi penguatan pendidikan karakter. “Dalam pemetaan yang menjadi ujung tombak adalah MGMP PAI, MGMP Sejarah dan MGMP PKn,” terangnya.

Dalam forum itu, Hairul Anam, salah seorang guru dari SMPN Klabang mengungkapkan, pihaknya sangat apresiasi dengan adanya Prepres tersebut. Hanya saja, cara setiap lembaga mengejawantahkan prepres itu berbeda-beda. Dirinya sendiri memiliki formulasi Litrasi. “Dimana dengan penguatan literasi, akan kuat juga pendidikan karakter seseorang,” ujarnya.

Satu hal yang mendasar menjadi alasannya, yakni wahyu pertama adalah Iqro yang artinya bacalah. Hal itu bermaksud, jika literasi bisa menjadi solusi. Hanya saja perlu formulasi. “Seperti saya, membuat reading emergency zone,” ungkapnya.

Reading emergency zone sendiri adalah membuat ruang terbuka, menjadi perpustakaan. Misalnya tempat nongkrong saat istirahat, tempat basket, dan tempat lainnya. Sehingga literasi tidak harus memaksa anak untuk datang ke perpustakaan. Namun justru mengeluarkan buku dari perpustakaan, agar lebih dekat dan lebih dibaca.

Selain itu, masih banyak masukan dari para guru lainnya. Sehingga dalam forum yang dibuat dengan tema Rembug Perpres 87 2017, mendapat solusi dan sharing yang bermanfaat dari tiga guru mata pelajaran tersebut. 

(jr/hud/wah/das/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia