Minggu, 22 Jul 2018
radarjember
icon-featured
Perspektif
Jelajah Destinasi Wisata Turki (11)

Naik Kapal Pesiar Membedah Benua Asia-Eropa

Minggu, 29 Oct 2017 04:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

MASJID ORTAKOY, Turki, Radar Jember

MASJID ORTAKOY: Terlihat megah dan modern dengan latar belakang jembatan Fatih Sultan Mehmet yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. (CHOLIQ BAYA/RADAR JEMBER)

Sebagaimana halnya naik balon udara di Kapadokya, ke Istanbul tanpa menyusuri selat Bosphorus, rasanya kurang afdol. Dengan naik kapal pesiar, kita bisa menikmati indahnya panorama yang ada di dua benua. Seperti apa sih indahnya?

SEHARI menjelang balik ke Indonesia, saya sudah tiba kembali di Kota Istanbul. Sebelumnya, Istanbul menjadi kota pertama yang saya singgahi ketika datang di Turki. Dari kota paling ramai di benua Eropa ini, saya memulai perjalanan keliling Turki. Dengan mengendarai minibus Mercy, saya bersama sembilan direktur Jawa Pos Radar mengelilingi negerinya Erdogan selama seminggu. 

Ada tujuh kota yang Kami singgahi. Mulai dari Istanbul, Bursa, Pamukkale, Konya, Kapadokya, Ankara hingga Bolu. Banyak destinasi wisata Kami singgahi. Mulai dari istana, benteng, masjid, museum, makam, kota bawah tanah, air panas alami, naik balon udara, industri handmad hingga danau garam, sudah tuntas saya singgahi. Total jarak yang Kami tempuh sekitar 2000 km.  

Kini saya sudah tiba kembali di Kota Istanbul, setelah melakukan perjalanan panjang dari Kota Bolu. Usai makan siang dan salat dhuhur jamak qasar takdim di masjid setempat, Kami bergegas menuju dermaga. Wow… Kami akan berwisata dengan naik cruise alias kapal pesiar. Tujuannya mengelilingi indahnya selat Borphorus.

Sejak zaman kejayaan Yunani sebelum era Byzantium dan Usmani, Bosphorus Istanbul telah menjadi bandar rempah yang ramai. Selat ini memiliki panjang 32 km. Lebar maksimum hanya 3.700 meter dan minimum 750 meter. Kedalaman selat ini dari 36 meter sampai 124 meter. Di kanan kiri selat ini kita bisa merasakan sensasi dan melihat keindahan Kota Istanbul.

Setelah dibelikan tiket oleh Ali Ekinci, pemandu wisata lokal, Kami langsung naik ke kapal pesiar. Barisan kapal pesiar dan kapal wisata yang sandar di dermaga terlihat cantik dan menawan. Airnya juga jernih dan bersih. Sangat menarik dipandang mata.

Tepat  pukul 13.30 kapal pesiar yang Kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan dermaga. Kapal mulai menyusuri selat Bhosporus yang membelah daratan Eropa dan Asia dalam satu waktu sekaligus. Selat sepanjang 20 mil ini menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Hitam.

Angin kencang yang menerpa saya terasa sangat dingin menusuk tulang. Maklum saat itu saya tidak memakai jaket. Apalagi saat itu saya duduk di dek luar yang terbuka, tanpa halangan. Akhirnya saya pindah ke tempat yang lebih aman. 

Dari sini hamparan pemandangan indah mulai tersaji. Di sisi kiri dan kanan kapal para penumpang bisa menyaksikan beragam landmark dan bangunan berarsitektur khas Eropa, Asia, bahkan Mediterania. Pemandangan mengagumkan seperti ini akan terus terlihat mulai dari sisi utara Bosphorus hingga bagian selatan.

Saat kapal berlayar, saya juga bisa menikmati keindahan jembatan Bosphorus. Namanya jembatan Fatih Sultan Mehmet yang menghubungkan benua Asia dan Eropa. Jembatan ini selesai dibangun tahun 1988. Saat itu menjadi jembatan gantung terpanjang ke-5 di dunia. Sekarang jembatan tersebut berada pada urutan ke-19. 

Selat Bosphorus menjadi saksi Sultan Alfatih saat menaklukkan Konstantinopel. Melalui selat inilah Alfatih masuk dan mengalahkan Romawi yang berkuasa saat itu. Bersama pasukannya yang membawa 70 kapal, Alfatih berhasil menerobos benteng pertahanan Romawi yang luasnya 21 km di kegelapan malam.

Bosphorus juga menjadi saksi Istanbul yang selama ribuan tahun menjadi ibu kota Kekaisaran Bizantium, Kesultanan Usmani, dan Republik Turki, sebelum dipindah Mustafa Kemal Ataturk ke Ankara pada 1937.

Dari atas kapal pesiar, saya bisa melihat kompleks Topkapi Palace. Yaitu, istana kesultanan Usmaniyah (Ottoman) yang ditempati antara tahun 1465-1853. Letaknya masih di kawasan Sultan Ahmet. Hanya beberapa puluh meter dari Grand Mosque, Hagia Sophia dan Grand Bazaar (Baca tulisan saya edisi kedua).

Naluri saya pun terusik untuk bangkit. Kemudian mengabadikan obyek-obyek cantik dan menarik itu dengan kamera. Diantaranya istana Dolmabahce, yang dibangun menyerupai istana-istana di Eropa. Dengan segala kemewahan, kebesaran dan kemegahannya. Istana ini merupakan pusat administrasi utama dari Kesultanan Usmani.

Tampak pula Masjid Ortakoy yang terlihat sangat megah. Bangunan masjid ini memang tidak semegah Blue Mosque. Namun, lokasinya yang berada di pinggir selat Bosphorus membuat Ortakoy Mosque menjadi sudut Istanbul paling menarik untuk diabadikan. Ditambah pemandangan jembatan Bosphorus sebagai latar belakangnya.

Dari atas kapal saya juga bisa melihat dan mengambil gambar benteng Rumeli Hisari. Benteng ini dibangun pada tahun 1452 oleh Sultan Mehmed II atau Muhammad Alfatih untuk mengamankan selat Bosphorus dan mengawasi logistik di Konstantinopel.

Pemandangan lainnya yang bisa dilihat dari atas kapal antara lain, istana Dolmabache peninggalan Kesultanan Usmaniyah. Juga Maiden’s Tower yang terletak di tengah-tengah selat bagaikan sebuah pulau kecil. Termasuk menara Leander yang berdiri kokoh di selat Bosphorous. Dan, banyak bangunan bersejarah lainnya.

Selama perjalanan terlihat burung-burung camar dan elang laut berkeliaran. Tampaknya mereka sedang mencari ikan di selat Bosphorus. Bahkan, tak jarang burung-burung itu mengelilingi kapal Kami yang sedang berlayar. Sepertinya ingin mengajak bermain.

Tak terasa sudah 1.5 jam saya menikmati perjalanan di selat yang membelah Asia dan Eropa ini. Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan. Angin, udara, bangunan, suasana, dan semuanya tentang bosphorus sangat berkesan mendalam di hati. (choliq baya)

(jr/das/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia