alexametrics
22.3 C
Jember
Tuesday, 9 August 2022

Tamu Agung Sindir Pejabat Haus Kekuasaan

Mobile_AP_Rectangle 1

JAKARTA, RADARJEMBER.ID– Alkisah, menjelang purna tugas sang pemimpin kota (Butet Kartaredjasa), ingin merayakan keberhasilan dalam menjalankan tugas dan sudah dua periode berkuasa. Untuk itu, dia mengumpulkan semua bawahan, seperti Sekda (Marwoto), Kepala Dinas 1 (Wisben), Kepala Dinas 2 (Joned) dan kepala Dinas 3 (Muncle).

BACA JUGA : Basket Jember Melaju ke Empat Besar setelah Menang dari Kota Probolinggo

Tak Cuma itu turut serta hadir pegawai pemerintah kota lain seperti Cak Lontong (Lies Hartono) dan anak buah, Akbar (Insan Nur Akbar).Saat hendak melakukan perayaan, bawahan pemimpin kota, Sekda Marwoto berusaha membujuk agar pemimpin kota menjabat lagi sebagai pemimpin. Agar pemimpin kota tertarik dia, Sekda pun membeberkan semua capaian kinerja.
.
“Anda sudah begitu banyak berprestasi. Di antaranya mendapat penghargaan dari Unicef, kedua dari Unesco, ketiga dari Uniclo dan terakhir dari Unisex…., ” kata Sekda Marwoto, disambut tawa penonton, saat pentas di Ciputra Artpreneur Theater.Atas berbagai penghargaan didapat atasan, Sekda pun berharap sang pemimpin kota mengikuti saran tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Bapak pemimpin kota sudah dua periode, apa tidak mau satu periode lagi,” kata Sekda mencoba menjebak pemimpin kota. Mendapat pertanyaan tersebut, pemimpin kota tak bergeming dan tegas menolak rayuan bawah. “Saya ini orang taat konstitusi, saya akan menaati konstitusi,” tegas pemimpin kota lugas, di hadapan sejumlah bawahannya.

Menurut pemimpin kota, menjadi pemimpin itu tugasnya satu, harus bisa ngerem keserakahan. Oleh karena itu, dirinya kembali menegaskan tak akan mencalonkan lagi sebagai pimpinan kota, karena dia tahu para pejabatnya hanya akan memanfaatkan dirinya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Syahdan, seorang pemberi kabar (Joind Bayuwinanda) tiba-tiba datang di hadapan pemimpin kota dan sejumlah bawahannya. Lalu membacakan sebuah surat rahasia.

“Akan datang Tamu Agung. Tamu Agung yang akan membawa perubahan. Tamu Agung akan memilih pemimpin berikutnya. Oleh sebab itu, barang siapa yang disukai Tamu Agung, maka dialah akan jadi pemimpin berikutnya,” kata seorang pemberi kabar membacakan surat rahasia.

Tak lama kemudian, usai surat rahasia dibacakan, sejumlah pejabat di bawah pemimpin kota berlomba-lomba mencari muka. Ada yang akan mempersiapkan makanan enak, hingga akan membuat pesta agar bisa mengambil hati sang Tamu AgungTak mau kalah dengan yang lainnya, pegawai kota lain.

Cak Lontong dan bawahannya juga ikut bersiasat, agar dirinya bisa menjadi pemimpin kota. Saat dirinya tengah merencanakan sesuatu, tiba-tiba seorang perempuan tua ( Yu Ningsih) dan seorang perempuan muda yang menjadi anak angkat perempuan tua, (Woro Mustika) muncul sembari mengamen di hadapan Cak Lontong dan Akbar.

- Advertisement -

JAKARTA, RADARJEMBER.ID– Alkisah, menjelang purna tugas sang pemimpin kota (Butet Kartaredjasa), ingin merayakan keberhasilan dalam menjalankan tugas dan sudah dua periode berkuasa. Untuk itu, dia mengumpulkan semua bawahan, seperti Sekda (Marwoto), Kepala Dinas 1 (Wisben), Kepala Dinas 2 (Joned) dan kepala Dinas 3 (Muncle).

BACA JUGA : Basket Jember Melaju ke Empat Besar setelah Menang dari Kota Probolinggo

Tak Cuma itu turut serta hadir pegawai pemerintah kota lain seperti Cak Lontong (Lies Hartono) dan anak buah, Akbar (Insan Nur Akbar).Saat hendak melakukan perayaan, bawahan pemimpin kota, Sekda Marwoto berusaha membujuk agar pemimpin kota menjabat lagi sebagai pemimpin. Agar pemimpin kota tertarik dia, Sekda pun membeberkan semua capaian kinerja.
.
“Anda sudah begitu banyak berprestasi. Di antaranya mendapat penghargaan dari Unicef, kedua dari Unesco, ketiga dari Uniclo dan terakhir dari Unisex…., ” kata Sekda Marwoto, disambut tawa penonton, saat pentas di Ciputra Artpreneur Theater.Atas berbagai penghargaan didapat atasan, Sekda pun berharap sang pemimpin kota mengikuti saran tersebut.

“Bapak pemimpin kota sudah dua periode, apa tidak mau satu periode lagi,” kata Sekda mencoba menjebak pemimpin kota. Mendapat pertanyaan tersebut, pemimpin kota tak bergeming dan tegas menolak rayuan bawah. “Saya ini orang taat konstitusi, saya akan menaati konstitusi,” tegas pemimpin kota lugas, di hadapan sejumlah bawahannya.

Menurut pemimpin kota, menjadi pemimpin itu tugasnya satu, harus bisa ngerem keserakahan. Oleh karena itu, dirinya kembali menegaskan tak akan mencalonkan lagi sebagai pimpinan kota, karena dia tahu para pejabatnya hanya akan memanfaatkan dirinya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Syahdan, seorang pemberi kabar (Joind Bayuwinanda) tiba-tiba datang di hadapan pemimpin kota dan sejumlah bawahannya. Lalu membacakan sebuah surat rahasia.

“Akan datang Tamu Agung. Tamu Agung yang akan membawa perubahan. Tamu Agung akan memilih pemimpin berikutnya. Oleh sebab itu, barang siapa yang disukai Tamu Agung, maka dialah akan jadi pemimpin berikutnya,” kata seorang pemberi kabar membacakan surat rahasia.

Tak lama kemudian, usai surat rahasia dibacakan, sejumlah pejabat di bawah pemimpin kota berlomba-lomba mencari muka. Ada yang akan mempersiapkan makanan enak, hingga akan membuat pesta agar bisa mengambil hati sang Tamu AgungTak mau kalah dengan yang lainnya, pegawai kota lain.

Cak Lontong dan bawahannya juga ikut bersiasat, agar dirinya bisa menjadi pemimpin kota. Saat dirinya tengah merencanakan sesuatu, tiba-tiba seorang perempuan tua ( Yu Ningsih) dan seorang perempuan muda yang menjadi anak angkat perempuan tua, (Woro Mustika) muncul sembari mengamen di hadapan Cak Lontong dan Akbar.

JAKARTA, RADARJEMBER.ID– Alkisah, menjelang purna tugas sang pemimpin kota (Butet Kartaredjasa), ingin merayakan keberhasilan dalam menjalankan tugas dan sudah dua periode berkuasa. Untuk itu, dia mengumpulkan semua bawahan, seperti Sekda (Marwoto), Kepala Dinas 1 (Wisben), Kepala Dinas 2 (Joned) dan kepala Dinas 3 (Muncle).

BACA JUGA : Basket Jember Melaju ke Empat Besar setelah Menang dari Kota Probolinggo

Tak Cuma itu turut serta hadir pegawai pemerintah kota lain seperti Cak Lontong (Lies Hartono) dan anak buah, Akbar (Insan Nur Akbar).Saat hendak melakukan perayaan, bawahan pemimpin kota, Sekda Marwoto berusaha membujuk agar pemimpin kota menjabat lagi sebagai pemimpin. Agar pemimpin kota tertarik dia, Sekda pun membeberkan semua capaian kinerja.
.
“Anda sudah begitu banyak berprestasi. Di antaranya mendapat penghargaan dari Unicef, kedua dari Unesco, ketiga dari Uniclo dan terakhir dari Unisex…., ” kata Sekda Marwoto, disambut tawa penonton, saat pentas di Ciputra Artpreneur Theater.Atas berbagai penghargaan didapat atasan, Sekda pun berharap sang pemimpin kota mengikuti saran tersebut.

“Bapak pemimpin kota sudah dua periode, apa tidak mau satu periode lagi,” kata Sekda mencoba menjebak pemimpin kota. Mendapat pertanyaan tersebut, pemimpin kota tak bergeming dan tegas menolak rayuan bawah. “Saya ini orang taat konstitusi, saya akan menaati konstitusi,” tegas pemimpin kota lugas, di hadapan sejumlah bawahannya.

Menurut pemimpin kota, menjadi pemimpin itu tugasnya satu, harus bisa ngerem keserakahan. Oleh karena itu, dirinya kembali menegaskan tak akan mencalonkan lagi sebagai pimpinan kota, karena dia tahu para pejabatnya hanya akan memanfaatkan dirinya untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Syahdan, seorang pemberi kabar (Joind Bayuwinanda) tiba-tiba datang di hadapan pemimpin kota dan sejumlah bawahannya. Lalu membacakan sebuah surat rahasia.

“Akan datang Tamu Agung. Tamu Agung yang akan membawa perubahan. Tamu Agung akan memilih pemimpin berikutnya. Oleh sebab itu, barang siapa yang disukai Tamu Agung, maka dialah akan jadi pemimpin berikutnya,” kata seorang pemberi kabar membacakan surat rahasia.

Tak lama kemudian, usai surat rahasia dibacakan, sejumlah pejabat di bawah pemimpin kota berlomba-lomba mencari muka. Ada yang akan mempersiapkan makanan enak, hingga akan membuat pesta agar bisa mengambil hati sang Tamu AgungTak mau kalah dengan yang lainnya, pegawai kota lain.

Cak Lontong dan bawahannya juga ikut bersiasat, agar dirinya bisa menjadi pemimpin kota. Saat dirinya tengah merencanakan sesuatu, tiba-tiba seorang perempuan tua ( Yu Ningsih) dan seorang perempuan muda yang menjadi anak angkat perempuan tua, (Woro Mustika) muncul sembari mengamen di hadapan Cak Lontong dan Akbar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/