24 C
Jember
Sunday, 2 April 2023

Asprov Anggap Dualisme Persid Belum Tuntas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persatuan Sepakbola Indonesia Djember (Persid) telah melekat menjadi tim kebanggaan masyarakat Jember. Hanya saja, Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Jawa Timur menilai Persid masih terjadi dualisme. Meski sebelumnya yayasan versi Sunardi telah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Persid kepada bupati.

Wakil Ketua Asprov PSSI Jatim Amir Burhanudin mengatakan, terkait dualisme di tubuh Persid, Asprov tidak punya wewenang. “Persid silakan duduk bersama. Kalau kami normatif saja. Bila ada satu tim lebih dari satu kelompok, maka dualisme,” terangnya.

Menurut dia, Persid adalah punya warga Jember yang dikelola oleh pengurus bernama yayasan. Bagaimana mekanisme yayasan itu, menurut Amir, tentu kembali ke Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART). “Ketika bersengketa, maka ranah hukum yang dipakai bukan PSSI. Tapi hukum negara. Kami akan patuh dengan keputusan pengadilan bila terjadi sengketa,” tegasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Amir menambahkan, sepak bola di daerah induk organisasinya adalah Askab PSSI. Pembinanya adalah KONI, dan pelindung atau penasihat adalah bupati. Sehingga, Amir menyarankan agar segera komunikasi dengan pihak tersebut.

Asprov sendiri telah berkirim surat kepada kedua belah pihak dan mengusulkan agar berkonsultasi ke Askab. “Askab dulu juga memfasilitasi untuk bertemu,” paparnya. Namun, lagi-lagi hasilnya masih buntu. “Bila sekarang eranya wes wayahe. Maka ya wes wayahe legawa, hingga bersatu,” tuturnya. Menurut catatan Asprov PSSI Jatim, Persid sudah tujuh tahun lamanya tidak berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, yaitu Liga II.

Ketua Pengurus Yayasan Persid Jember (YPJ) Sholahuddin Amrullah mengatakan, dari pengurus dan suporter sepakat untuk menyudahi konflik dengan solusinya mengembalikan ke pemkab. Walau pengurus YPJ sepakat itu, tapi yang punya wewenang adalah pembina. “Kalau keinginan pengurus dan suporter ingin dikembalikan tanpa syarat. Bagi saya, jabatan itu sementara, tapi Persid itu selamanya,” ucap pria yang akrab disapa Jo tersebut.

Jo mengaku, dualisme Persid ini bisa dikatakan beruntung. Sebab, tidak berdampak pada keikutsertaan kompetisi. Sebab, kata dia, selama 2020 sampai saat ini kompetisi resmi belum digulirkan. Bila pada 2020 kompetisi digulirkan, maka yang terjadi Persid tidak akan mengikuti kompetisi karena faktor dualisme.

Sementara, bila 2021 juga digulirkan kompetisi dan tidak ada pandemi, serta dualisme masih terjadi, dampaknya akan fatal. Tidak sekadar pelarangan ikut kompetisi, tapi nama Persid akan dihapus dari keanggotaan.

Perlu diketahui, dualisme terjadi setidaknya seusai kompetisi Liga III 2019 lalu. Sekitar Maret 2020, pembina YPJ membuat yayasan baru dan menunjuk Jo sebagai Ketua Pengurus YPJ. Sementara itu, Ketua Pengurus YPJ sebelumnya, Sunardi, juga masih merasa punya hak yang sama.

Akibatnya, pada 2020 Persid terjadi dualisme dan itu diketahui saat Liga III hendak diputar. Di meja pendaftaran, ada dua nama Persid Jember yang mendaftar. Beruntung, kompetisi ditunda karena pandemi. Namun, Persid versi Sunardi akhirnya melepaskan dan menyerahkan ke Bupati Jember Hendy Siswanto seusai pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA PPAS) di gedung DPRD Jember, Selasa (30/3) lalu.

Sebelumnya, Suparno, Ketua Pembina YPJ, mengatakan, sejauh ini pihaknya menunggu pertemuan dengan bupati dan telah dua kali mengajukan surat untuk bertemu bupati. Setelah berjumpa dengan bupati inilah, kata dia, pembina akan bersikap dan menentukan langkah.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persatuan Sepakbola Indonesia Djember (Persid) telah melekat menjadi tim kebanggaan masyarakat Jember. Hanya saja, Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Jawa Timur menilai Persid masih terjadi dualisme. Meski sebelumnya yayasan versi Sunardi telah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Persid kepada bupati.

Wakil Ketua Asprov PSSI Jatim Amir Burhanudin mengatakan, terkait dualisme di tubuh Persid, Asprov tidak punya wewenang. “Persid silakan duduk bersama. Kalau kami normatif saja. Bila ada satu tim lebih dari satu kelompok, maka dualisme,” terangnya.

Menurut dia, Persid adalah punya warga Jember yang dikelola oleh pengurus bernama yayasan. Bagaimana mekanisme yayasan itu, menurut Amir, tentu kembali ke Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART). “Ketika bersengketa, maka ranah hukum yang dipakai bukan PSSI. Tapi hukum negara. Kami akan patuh dengan keputusan pengadilan bila terjadi sengketa,” tegasnya.

Amir menambahkan, sepak bola di daerah induk organisasinya adalah Askab PSSI. Pembinanya adalah KONI, dan pelindung atau penasihat adalah bupati. Sehingga, Amir menyarankan agar segera komunikasi dengan pihak tersebut.

Asprov sendiri telah berkirim surat kepada kedua belah pihak dan mengusulkan agar berkonsultasi ke Askab. “Askab dulu juga memfasilitasi untuk bertemu,” paparnya. Namun, lagi-lagi hasilnya masih buntu. “Bila sekarang eranya wes wayahe. Maka ya wes wayahe legawa, hingga bersatu,” tuturnya. Menurut catatan Asprov PSSI Jatim, Persid sudah tujuh tahun lamanya tidak berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, yaitu Liga II.

Ketua Pengurus Yayasan Persid Jember (YPJ) Sholahuddin Amrullah mengatakan, dari pengurus dan suporter sepakat untuk menyudahi konflik dengan solusinya mengembalikan ke pemkab. Walau pengurus YPJ sepakat itu, tapi yang punya wewenang adalah pembina. “Kalau keinginan pengurus dan suporter ingin dikembalikan tanpa syarat. Bagi saya, jabatan itu sementara, tapi Persid itu selamanya,” ucap pria yang akrab disapa Jo tersebut.

Jo mengaku, dualisme Persid ini bisa dikatakan beruntung. Sebab, tidak berdampak pada keikutsertaan kompetisi. Sebab, kata dia, selama 2020 sampai saat ini kompetisi resmi belum digulirkan. Bila pada 2020 kompetisi digulirkan, maka yang terjadi Persid tidak akan mengikuti kompetisi karena faktor dualisme.

Sementara, bila 2021 juga digulirkan kompetisi dan tidak ada pandemi, serta dualisme masih terjadi, dampaknya akan fatal. Tidak sekadar pelarangan ikut kompetisi, tapi nama Persid akan dihapus dari keanggotaan.

Perlu diketahui, dualisme terjadi setidaknya seusai kompetisi Liga III 2019 lalu. Sekitar Maret 2020, pembina YPJ membuat yayasan baru dan menunjuk Jo sebagai Ketua Pengurus YPJ. Sementara itu, Ketua Pengurus YPJ sebelumnya, Sunardi, juga masih merasa punya hak yang sama.

Akibatnya, pada 2020 Persid terjadi dualisme dan itu diketahui saat Liga III hendak diputar. Di meja pendaftaran, ada dua nama Persid Jember yang mendaftar. Beruntung, kompetisi ditunda karena pandemi. Namun, Persid versi Sunardi akhirnya melepaskan dan menyerahkan ke Bupati Jember Hendy Siswanto seusai pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA PPAS) di gedung DPRD Jember, Selasa (30/3) lalu.

Sebelumnya, Suparno, Ketua Pembina YPJ, mengatakan, sejauh ini pihaknya menunggu pertemuan dengan bupati dan telah dua kali mengajukan surat untuk bertemu bupati. Setelah berjumpa dengan bupati inilah, kata dia, pembina akan bersikap dan menentukan langkah.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Persatuan Sepakbola Indonesia Djember (Persid) telah melekat menjadi tim kebanggaan masyarakat Jember. Hanya saja, Asosiasi Provinsi (Asprov) Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Jawa Timur menilai Persid masih terjadi dualisme. Meski sebelumnya yayasan versi Sunardi telah menyerahkan sepenuhnya pengelolaan Persid kepada bupati.

Wakil Ketua Asprov PSSI Jatim Amir Burhanudin mengatakan, terkait dualisme di tubuh Persid, Asprov tidak punya wewenang. “Persid silakan duduk bersama. Kalau kami normatif saja. Bila ada satu tim lebih dari satu kelompok, maka dualisme,” terangnya.

Menurut dia, Persid adalah punya warga Jember yang dikelola oleh pengurus bernama yayasan. Bagaimana mekanisme yayasan itu, menurut Amir, tentu kembali ke Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD-ART). “Ketika bersengketa, maka ranah hukum yang dipakai bukan PSSI. Tapi hukum negara. Kami akan patuh dengan keputusan pengadilan bila terjadi sengketa,” tegasnya.

Amir menambahkan, sepak bola di daerah induk organisasinya adalah Askab PSSI. Pembinanya adalah KONI, dan pelindung atau penasihat adalah bupati. Sehingga, Amir menyarankan agar segera komunikasi dengan pihak tersebut.

Asprov sendiri telah berkirim surat kepada kedua belah pihak dan mengusulkan agar berkonsultasi ke Askab. “Askab dulu juga memfasilitasi untuk bertemu,” paparnya. Namun, lagi-lagi hasilnya masih buntu. “Bila sekarang eranya wes wayahe. Maka ya wes wayahe legawa, hingga bersatu,” tuturnya. Menurut catatan Asprov PSSI Jatim, Persid sudah tujuh tahun lamanya tidak berkompetisi di kasta kedua Liga Indonesia, yaitu Liga II.

Ketua Pengurus Yayasan Persid Jember (YPJ) Sholahuddin Amrullah mengatakan, dari pengurus dan suporter sepakat untuk menyudahi konflik dengan solusinya mengembalikan ke pemkab. Walau pengurus YPJ sepakat itu, tapi yang punya wewenang adalah pembina. “Kalau keinginan pengurus dan suporter ingin dikembalikan tanpa syarat. Bagi saya, jabatan itu sementara, tapi Persid itu selamanya,” ucap pria yang akrab disapa Jo tersebut.

Jo mengaku, dualisme Persid ini bisa dikatakan beruntung. Sebab, tidak berdampak pada keikutsertaan kompetisi. Sebab, kata dia, selama 2020 sampai saat ini kompetisi resmi belum digulirkan. Bila pada 2020 kompetisi digulirkan, maka yang terjadi Persid tidak akan mengikuti kompetisi karena faktor dualisme.

Sementara, bila 2021 juga digulirkan kompetisi dan tidak ada pandemi, serta dualisme masih terjadi, dampaknya akan fatal. Tidak sekadar pelarangan ikut kompetisi, tapi nama Persid akan dihapus dari keanggotaan.

Perlu diketahui, dualisme terjadi setidaknya seusai kompetisi Liga III 2019 lalu. Sekitar Maret 2020, pembina YPJ membuat yayasan baru dan menunjuk Jo sebagai Ketua Pengurus YPJ. Sementara itu, Ketua Pengurus YPJ sebelumnya, Sunardi, juga masih merasa punya hak yang sama.

Akibatnya, pada 2020 Persid terjadi dualisme dan itu diketahui saat Liga III hendak diputar. Di meja pendaftaran, ada dua nama Persid Jember yang mendaftar. Beruntung, kompetisi ditunda karena pandemi. Namun, Persid versi Sunardi akhirnya melepaskan dan menyerahkan ke Bupati Jember Hendy Siswanto seusai pembahasan Kebijakan Umum Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA PPAS) di gedung DPRD Jember, Selasa (30/3) lalu.

Sebelumnya, Suparno, Ketua Pembina YPJ, mengatakan, sejauh ini pihaknya menunggu pertemuan dengan bupati dan telah dua kali mengajukan surat untuk bertemu bupati. Setelah berjumpa dengan bupati inilah, kata dia, pembina akan bersikap dan menentukan langkah.

 

 

Jurnalis : Dwi Siswanto
Fotografer : Istimewa
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca