alexametrics
24.9 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Refleksi Momentum Harlah Ke-23 PKB

Saatnya Mengulang Kejayaan

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Pertarungan di tengah sistem demokrasi cukup dirasakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Indonesia, termasuk di Jember. PKB yang lahir pasca-runtuhnya Orde Baru itu sudah banyak merasakan asa garam politik di negeri ini. Sementara di Jember, PKB sempat memimpin perolehan suara dan kursi. Meski dalam perjalanannya juga terjadi pasang surut.

Menilik ke belakang, pada pemilu langsung tahap perdana dan kedua pada 1999 dan 2004 lalu, PKB merajai perolehan suara dan kursi parlemen di Kota Jember ini. Pemilu ketiga 2009 sempat terpangkas separuhnya dan kemudian bangkit lagi pada pemilu berikutnya, 2014. Karena itu, pemilu 2019 lalu memberi harapan akan kejayaan yang pernah diraih di masa sebelumnya untuk diulang kembali.

PKB yang lahir 23 Juli 1998 atau era Reformasi itu, menurut Ketua PKB Jember Ayub Junaidi, tidak terjadi begitu saja. Ada alasan mendasar dari para tokoh ulama dan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menginginkan agar kaum nahdliyin punya wadah penyaluran aspirasi politik. “Dari sejarah itu, lahirlah Tim 9 dan Tim 5. Salah satunya almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember dalam acara persiapan hari lahir (harlah) ke-23 PKB, (22/7) kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Proses pembentukan partai yang diusulkan warga NU saat itu, kata dia, banyak memantik perdebatan. Namun, disambut kegembiraan oleh banyak orang, termasuk para tokoh di Jember. Perdebatan itu pun bukan saja soal pendiriannya, tetapi penentuan namanya juga memakan waktu yang cukup lama. “Lahirlah PKB, dan di Jember almarhum orang tua saya langsung bergabung di dalamnya,” papar politisi yang karib disapa Cak Ayub tersebut.

Partai yang lahir atas hasil ikhtiar di tengah kondisi negara yang saat itu serba sulit dideklarasikan di Jakarta pada 29 Rabiul Awal 1419 H, atau bertepatan dengan 23 Juli 1998. Tanggal 23 itulah yang ditetapkan menjadi harlah, yang hingga kini selalu diperingati oleh kader dan simpatisan PKB. “Besok (hari ini, Red) DPC PKB Jember mengadakan harlah. Kami undang beberapa orang untuk pengajian,” jelas mantan anggota dewan sekaligus mantan Ketua GP Ansor Jember tersebut.

Lahirnya PKB yang disertai deklarasi kala itu bisa jadi banyak hal yang tidak diingat, termasuk oleh kader atau simpatisan PKB sendiri. Namun, Ayub mengingatkan bahwa PKB dideklarasikan demi memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam deklarasinya disebut, cita-cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah terwujudnya suatu bangsa yang merdeka, bersatu, adil dan makmur, serta untuk mewujudkan pemerintahan NKRI. Dalam deklarasi itu pula, juga disebut perlindungan, kesejahteraan, perdamaian, serta keadilan sosial untuk seluruh masyarakat.

Oleh karena itu, capaian PKB Jember pada pemilu perdana cukup mengejutkan. Yakni menang total dengan perolehan suara terbanyak dan mendapatkan 17 kursi. Pada pemilu kedua, partai ini juga mampu bertahan. Namun demikian, polemik di tubuh partai membuat hasil pemilu di tahun 2009 jatuh. “Tetapi, PKB Jember mulai bangkit kembali pada 2014 dan 2019, dan menunjukkan hasil yang baik,” ujar Cak Ayub.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Pertarungan di tengah sistem demokrasi cukup dirasakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Indonesia, termasuk di Jember. PKB yang lahir pasca-runtuhnya Orde Baru itu sudah banyak merasakan asa garam politik di negeri ini. Sementara di Jember, PKB sempat memimpin perolehan suara dan kursi. Meski dalam perjalanannya juga terjadi pasang surut.

Menilik ke belakang, pada pemilu langsung tahap perdana dan kedua pada 1999 dan 2004 lalu, PKB merajai perolehan suara dan kursi parlemen di Kota Jember ini. Pemilu ketiga 2009 sempat terpangkas separuhnya dan kemudian bangkit lagi pada pemilu berikutnya, 2014. Karena itu, pemilu 2019 lalu memberi harapan akan kejayaan yang pernah diraih di masa sebelumnya untuk diulang kembali.

PKB yang lahir 23 Juli 1998 atau era Reformasi itu, menurut Ketua PKB Jember Ayub Junaidi, tidak terjadi begitu saja. Ada alasan mendasar dari para tokoh ulama dan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menginginkan agar kaum nahdliyin punya wadah penyaluran aspirasi politik. “Dari sejarah itu, lahirlah Tim 9 dan Tim 5. Salah satunya almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember dalam acara persiapan hari lahir (harlah) ke-23 PKB, (22/7) kemarin.

Proses pembentukan partai yang diusulkan warga NU saat itu, kata dia, banyak memantik perdebatan. Namun, disambut kegembiraan oleh banyak orang, termasuk para tokoh di Jember. Perdebatan itu pun bukan saja soal pendiriannya, tetapi penentuan namanya juga memakan waktu yang cukup lama. “Lahirlah PKB, dan di Jember almarhum orang tua saya langsung bergabung di dalamnya,” papar politisi yang karib disapa Cak Ayub tersebut.

Partai yang lahir atas hasil ikhtiar di tengah kondisi negara yang saat itu serba sulit dideklarasikan di Jakarta pada 29 Rabiul Awal 1419 H, atau bertepatan dengan 23 Juli 1998. Tanggal 23 itulah yang ditetapkan menjadi harlah, yang hingga kini selalu diperingati oleh kader dan simpatisan PKB. “Besok (hari ini, Red) DPC PKB Jember mengadakan harlah. Kami undang beberapa orang untuk pengajian,” jelas mantan anggota dewan sekaligus mantan Ketua GP Ansor Jember tersebut.

Lahirnya PKB yang disertai deklarasi kala itu bisa jadi banyak hal yang tidak diingat, termasuk oleh kader atau simpatisan PKB sendiri. Namun, Ayub mengingatkan bahwa PKB dideklarasikan demi memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam deklarasinya disebut, cita-cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah terwujudnya suatu bangsa yang merdeka, bersatu, adil dan makmur, serta untuk mewujudkan pemerintahan NKRI. Dalam deklarasi itu pula, juga disebut perlindungan, kesejahteraan, perdamaian, serta keadilan sosial untuk seluruh masyarakat.

Oleh karena itu, capaian PKB Jember pada pemilu perdana cukup mengejutkan. Yakni menang total dengan perolehan suara terbanyak dan mendapatkan 17 kursi. Pada pemilu kedua, partai ini juga mampu bertahan. Namun demikian, polemik di tubuh partai membuat hasil pemilu di tahun 2009 jatuh. “Tetapi, PKB Jember mulai bangkit kembali pada 2014 dan 2019, dan menunjukkan hasil yang baik,” ujar Cak Ayub.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Pertarungan di tengah sistem demokrasi cukup dirasakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Indonesia, termasuk di Jember. PKB yang lahir pasca-runtuhnya Orde Baru itu sudah banyak merasakan asa garam politik di negeri ini. Sementara di Jember, PKB sempat memimpin perolehan suara dan kursi. Meski dalam perjalanannya juga terjadi pasang surut.

Menilik ke belakang, pada pemilu langsung tahap perdana dan kedua pada 1999 dan 2004 lalu, PKB merajai perolehan suara dan kursi parlemen di Kota Jember ini. Pemilu ketiga 2009 sempat terpangkas separuhnya dan kemudian bangkit lagi pada pemilu berikutnya, 2014. Karena itu, pemilu 2019 lalu memberi harapan akan kejayaan yang pernah diraih di masa sebelumnya untuk diulang kembali.

PKB yang lahir 23 Juli 1998 atau era Reformasi itu, menurut Ketua PKB Jember Ayub Junaidi, tidak terjadi begitu saja. Ada alasan mendasar dari para tokoh ulama dan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang menginginkan agar kaum nahdliyin punya wadah penyaluran aspirasi politik. “Dari sejarah itu, lahirlah Tim 9 dan Tim 5. Salah satunya almarhum KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, mantan Presiden Republik Indonesia,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jember dalam acara persiapan hari lahir (harlah) ke-23 PKB, (22/7) kemarin.

Proses pembentukan partai yang diusulkan warga NU saat itu, kata dia, banyak memantik perdebatan. Namun, disambut kegembiraan oleh banyak orang, termasuk para tokoh di Jember. Perdebatan itu pun bukan saja soal pendiriannya, tetapi penentuan namanya juga memakan waktu yang cukup lama. “Lahirlah PKB, dan di Jember almarhum orang tua saya langsung bergabung di dalamnya,” papar politisi yang karib disapa Cak Ayub tersebut.

Partai yang lahir atas hasil ikhtiar di tengah kondisi negara yang saat itu serba sulit dideklarasikan di Jakarta pada 29 Rabiul Awal 1419 H, atau bertepatan dengan 23 Juli 1998. Tanggal 23 itulah yang ditetapkan menjadi harlah, yang hingga kini selalu diperingati oleh kader dan simpatisan PKB. “Besok (hari ini, Red) DPC PKB Jember mengadakan harlah. Kami undang beberapa orang untuk pengajian,” jelas mantan anggota dewan sekaligus mantan Ketua GP Ansor Jember tersebut.

Lahirnya PKB yang disertai deklarasi kala itu bisa jadi banyak hal yang tidak diingat, termasuk oleh kader atau simpatisan PKB sendiri. Namun, Ayub mengingatkan bahwa PKB dideklarasikan demi memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dalam deklarasinya disebut, cita-cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia adalah terwujudnya suatu bangsa yang merdeka, bersatu, adil dan makmur, serta untuk mewujudkan pemerintahan NKRI. Dalam deklarasi itu pula, juga disebut perlindungan, kesejahteraan, perdamaian, serta keadilan sosial untuk seluruh masyarakat.

Oleh karena itu, capaian PKB Jember pada pemilu perdana cukup mengejutkan. Yakni menang total dengan perolehan suara terbanyak dan mendapatkan 17 kursi. Pada pemilu kedua, partai ini juga mampu bertahan. Namun demikian, polemik di tubuh partai membuat hasil pemilu di tahun 2009 jatuh. “Tetapi, PKB Jember mulai bangkit kembali pada 2014 dan 2019, dan menunjukkan hasil yang baik,” ujar Cak Ayub.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/