alexametrics
22.4 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

NU Sarankan PKB Jember Tidak Muluk-Muluk

Raih 12 Kursi Dulu

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KELAHIRAN PKB dengan lambang bumi dikelilingi sembilan bintang tidak bisa dilepaskan dari ulama. Dengan demikian, banyak tokoh yang tetap memperhatikan arah gerakan dan perjuangannya. Bagaimana tokoh NU memandang PKB saat ini dan bagaimana peluangnya ke depan?

Ketua NU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, perjalanan perjuangan PKB sejauh ini masih dalam koridor cita-citanya sejak didirikan dulu. “Secara resmi, kelahiran PKB dibidangi para ulama. Selama ini, masih sangat konsisten menyalurkan aspirasi warga NU secara konstitusional melalui jalur parlemen,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Aab tersebut.

Roh perjuangan politik PKB, menurutnya, banyak diterima warga, sampai meraih kejayaan dua periode di Jember pada awal berdirinya dulu. Itu karena PKB memiliki prinsip. “Perjuangan politik kebangsaan yang rahmatan lilalamin sesuai prinsip mabadi khaira ummah,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di mata NU, arah perjuangan politik PKB juga tak jauh berbeda dengan di tingkat pusat maupun provinsi. Di mana, apabila ada hal penting tentang urusan negara, PKB banyak melakukan konsultasi kepada para ulama. “Pada hal-hal krusial, PKB selalu konsultasi dengan NU. Apa yang menjadi keputusan NU, biasanya ditindaklanjuti oleh PKB,” ungkap Gus Aab. Kendati kerap konsultasi, namun PKB dan NU tetap memiliki jalur perjuangan masing-masing.

PKB Jember, lanjut Gus Aab, harus fokus pada partai dengan garis tugas yang jelas. Seperti pengawasan, penganggaran, serta legislasi. “Itu diamalkan sesuai dengan prinsip ahlussunnah wal jamaah,” tegasnya.

Untuk itulah, PKB maupun para kader dan simpatisan layak untuk melanjutkan perjuangan para pendirinya dengan prinsip-prinsip di atas. Bagi NU, PKB cukup menjalankan tugasnya dengan baik, demi memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Harus merawat, melanjutkan, dan menjaga apa yang menjadi komitmen founding father yang meletakkan prinsip berpolitik ala ahlussunnah wal jamaah yang rahmatan lilalamin,” paparnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KELAHIRAN PKB dengan lambang bumi dikelilingi sembilan bintang tidak bisa dilepaskan dari ulama. Dengan demikian, banyak tokoh yang tetap memperhatikan arah gerakan dan perjuangannya. Bagaimana tokoh NU memandang PKB saat ini dan bagaimana peluangnya ke depan?

Ketua NU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, perjalanan perjuangan PKB sejauh ini masih dalam koridor cita-citanya sejak didirikan dulu. “Secara resmi, kelahiran PKB dibidangi para ulama. Selama ini, masih sangat konsisten menyalurkan aspirasi warga NU secara konstitusional melalui jalur parlemen,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Aab tersebut.

Roh perjuangan politik PKB, menurutnya, banyak diterima warga, sampai meraih kejayaan dua periode di Jember pada awal berdirinya dulu. Itu karena PKB memiliki prinsip. “Perjuangan politik kebangsaan yang rahmatan lilalamin sesuai prinsip mabadi khaira ummah,” katanya.

Di mata NU, arah perjuangan politik PKB juga tak jauh berbeda dengan di tingkat pusat maupun provinsi. Di mana, apabila ada hal penting tentang urusan negara, PKB banyak melakukan konsultasi kepada para ulama. “Pada hal-hal krusial, PKB selalu konsultasi dengan NU. Apa yang menjadi keputusan NU, biasanya ditindaklanjuti oleh PKB,” ungkap Gus Aab. Kendati kerap konsultasi, namun PKB dan NU tetap memiliki jalur perjuangan masing-masing.

PKB Jember, lanjut Gus Aab, harus fokus pada partai dengan garis tugas yang jelas. Seperti pengawasan, penganggaran, serta legislasi. “Itu diamalkan sesuai dengan prinsip ahlussunnah wal jamaah,” tegasnya.

Untuk itulah, PKB maupun para kader dan simpatisan layak untuk melanjutkan perjuangan para pendirinya dengan prinsip-prinsip di atas. Bagi NU, PKB cukup menjalankan tugasnya dengan baik, demi memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Harus merawat, melanjutkan, dan menjaga apa yang menjadi komitmen founding father yang meletakkan prinsip berpolitik ala ahlussunnah wal jamaah yang rahmatan lilalamin,” paparnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – KELAHIRAN PKB dengan lambang bumi dikelilingi sembilan bintang tidak bisa dilepaskan dari ulama. Dengan demikian, banyak tokoh yang tetap memperhatikan arah gerakan dan perjuangannya. Bagaimana tokoh NU memandang PKB saat ini dan bagaimana peluangnya ke depan?

Ketua NU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin mengatakan, perjalanan perjuangan PKB sejauh ini masih dalam koridor cita-citanya sejak didirikan dulu. “Secara resmi, kelahiran PKB dibidangi para ulama. Selama ini, masih sangat konsisten menyalurkan aspirasi warga NU secara konstitusional melalui jalur parlemen,” kata pria yang akrab dipanggil Gus Aab tersebut.

Roh perjuangan politik PKB, menurutnya, banyak diterima warga, sampai meraih kejayaan dua periode di Jember pada awal berdirinya dulu. Itu karena PKB memiliki prinsip. “Perjuangan politik kebangsaan yang rahmatan lilalamin sesuai prinsip mabadi khaira ummah,” katanya.

Di mata NU, arah perjuangan politik PKB juga tak jauh berbeda dengan di tingkat pusat maupun provinsi. Di mana, apabila ada hal penting tentang urusan negara, PKB banyak melakukan konsultasi kepada para ulama. “Pada hal-hal krusial, PKB selalu konsultasi dengan NU. Apa yang menjadi keputusan NU, biasanya ditindaklanjuti oleh PKB,” ungkap Gus Aab. Kendati kerap konsultasi, namun PKB dan NU tetap memiliki jalur perjuangan masing-masing.

PKB Jember, lanjut Gus Aab, harus fokus pada partai dengan garis tugas yang jelas. Seperti pengawasan, penganggaran, serta legislasi. “Itu diamalkan sesuai dengan prinsip ahlussunnah wal jamaah,” tegasnya.

Untuk itulah, PKB maupun para kader dan simpatisan layak untuk melanjutkan perjuangan para pendirinya dengan prinsip-prinsip di atas. Bagi NU, PKB cukup menjalankan tugasnya dengan baik, demi memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Harus merawat, melanjutkan, dan menjaga apa yang menjadi komitmen founding father yang meletakkan prinsip berpolitik ala ahlussunnah wal jamaah yang rahmatan lilalamin,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/