alexametrics
26.6 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Duet Pemimpin Ideal

Harapan NU: Jadi Jembatan Aspirasi Umat

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terpilihnya Ayub Junaidi dan M Itqon Syauqi menakhodai partai berlogo bumi bintang sembilan itu menjadi catatan tersendiri. Utamanya bagi Nahdlatul Ulama (NU) di Jember. Sebagaimana diketahui, PKB memiliki sanad yang kuat terhadap keberadaan NU. Bahkan, tak heran jika PKB disebut-sebut sebagai anak kandung NU.

Sekretaris PCNU Jember Abdul Hamid Pujiono menyatakan, selama ini PKB masih dianggap memiliki tren positif dalam tiap pesta demokrasi di berbagai level pemerintah, tak terkecuali di Jember. Potensi itu terlihat tatkala M Itqon Syauqi didapuk sebagai Ketua DPRD Jember, yang merupakan representasi dari kader PKB, sekaligus NU. “Dilihat dari komposisi saat ini, Mas Ayub dan Mas Itqon, saya rasa PKB masih memiliki potensi yang bagus ke depannya,” ujarnya.

Menurut dia, komposisi Ayub dan Itqon sudah dirasa pas karena bisa berjalan dua arah sekaligus. Pertama, keduanya dinilai cukup representatif atas keterwakilan pemuda atau kalangan milenial. Representasi keduanya dinilai mampu mendongkrak tren positif PKB maupun NU di kalangan kawula muda. Kedua, lanjut dia, meski PKB bukan bagian dari partai pengusung atas bupati hari ini, tapi keberadaan Itqon sebagai pimpinan dewan di Jember dirasa bakal memiliki nilai tawar yang kuat terhadap jalannya pemerintahan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia optimistis, nakhoda baru PKB itu mampu mengemban amanah, sebagaimana amanah yang diisyaratkan oleh para sesepuh di tubuh NU. “Tentu saja semuanya tidak lepas dari pengawalan yang dilakukan NU. Ketika PKB ditegur pun, PKB tetap manut sebagaimana yang sering didengar selama ini, manut kiai,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagaimana partai besar, tentu kepiawaian manajemen jelas dibutuhkan. Hal itu diakui Pujiono. Terlebih, menurut dia, ada misi yang tidak kalah penting yang harus terus jadi fokus PKB sepanjang kepengurusan dan mampu menjangkau segenap aspirasi masyarakat. Bahkan, di level akar rumput, yakni bagaimana mengawal masyarakat bisa terpenuhi hak-haknya, sekaligus memengaruhi kebijakan pemerintah yang dirasa kurang pro rakyat. “Kalau itu terus diupayakan, kami masih yakin PKB terus memiliki tren positif, dan memiliki cara berpolitik yang dinamis pula,” imbuh pria yang juga dosen di IAIN Jember itu.

Keberadaan PKB di Jember juga bisa dibilang memiliki eksistensi cukup mentereng. Kendati sempat gagal mengusung calon di Pilkada Jember 2020 lalu, tapi hal itu dinilai tidak mengurangi superioritas partai besutan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.

Terpisah, Ketua PCNU Kencong Zainil Ghulam mengutarakan hampir serupa. Menurut dia, terpilihnya pemimpin baru DPC PKB Jember, Ayub dan Itqon, tak lantas hanya menjadi simbol keterwakilan warga nahdliyin di politik. Namun, seyogianya benar-benar bisa menjadi jembatan aspirasi. “Bagaimanapun PKB dilahirkan dari NU, salah satu catatan pentingnya adalah bagaimana PKB bisa mengawal aspirasi warga nahdliyin,” bebernya.

Bentuk pengawalan itu, ia jelentrehkan sederhana. Misalnya, dibentuknya peraturan daerah tentang pesantren, memperhatikan aspirasi pesantren, dan kepentingan aspek keumatan lainnya. “Karena sebagaimana diketahui, di Jember cukup banyak pesantren. Dan itu dari NU,” jelasnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terpilihnya Ayub Junaidi dan M Itqon Syauqi menakhodai partai berlogo bumi bintang sembilan itu menjadi catatan tersendiri. Utamanya bagi Nahdlatul Ulama (NU) di Jember. Sebagaimana diketahui, PKB memiliki sanad yang kuat terhadap keberadaan NU. Bahkan, tak heran jika PKB disebut-sebut sebagai anak kandung NU.

Sekretaris PCNU Jember Abdul Hamid Pujiono menyatakan, selama ini PKB masih dianggap memiliki tren positif dalam tiap pesta demokrasi di berbagai level pemerintah, tak terkecuali di Jember. Potensi itu terlihat tatkala M Itqon Syauqi didapuk sebagai Ketua DPRD Jember, yang merupakan representasi dari kader PKB, sekaligus NU. “Dilihat dari komposisi saat ini, Mas Ayub dan Mas Itqon, saya rasa PKB masih memiliki potensi yang bagus ke depannya,” ujarnya.

Menurut dia, komposisi Ayub dan Itqon sudah dirasa pas karena bisa berjalan dua arah sekaligus. Pertama, keduanya dinilai cukup representatif atas keterwakilan pemuda atau kalangan milenial. Representasi keduanya dinilai mampu mendongkrak tren positif PKB maupun NU di kalangan kawula muda. Kedua, lanjut dia, meski PKB bukan bagian dari partai pengusung atas bupati hari ini, tapi keberadaan Itqon sebagai pimpinan dewan di Jember dirasa bakal memiliki nilai tawar yang kuat terhadap jalannya pemerintahan.

Ia optimistis, nakhoda baru PKB itu mampu mengemban amanah, sebagaimana amanah yang diisyaratkan oleh para sesepuh di tubuh NU. “Tentu saja semuanya tidak lepas dari pengawalan yang dilakukan NU. Ketika PKB ditegur pun, PKB tetap manut sebagaimana yang sering didengar selama ini, manut kiai,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagaimana partai besar, tentu kepiawaian manajemen jelas dibutuhkan. Hal itu diakui Pujiono. Terlebih, menurut dia, ada misi yang tidak kalah penting yang harus terus jadi fokus PKB sepanjang kepengurusan dan mampu menjangkau segenap aspirasi masyarakat. Bahkan, di level akar rumput, yakni bagaimana mengawal masyarakat bisa terpenuhi hak-haknya, sekaligus memengaruhi kebijakan pemerintah yang dirasa kurang pro rakyat. “Kalau itu terus diupayakan, kami masih yakin PKB terus memiliki tren positif, dan memiliki cara berpolitik yang dinamis pula,” imbuh pria yang juga dosen di IAIN Jember itu.

Keberadaan PKB di Jember juga bisa dibilang memiliki eksistensi cukup mentereng. Kendati sempat gagal mengusung calon di Pilkada Jember 2020 lalu, tapi hal itu dinilai tidak mengurangi superioritas partai besutan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.

Terpisah, Ketua PCNU Kencong Zainil Ghulam mengutarakan hampir serupa. Menurut dia, terpilihnya pemimpin baru DPC PKB Jember, Ayub dan Itqon, tak lantas hanya menjadi simbol keterwakilan warga nahdliyin di politik. Namun, seyogianya benar-benar bisa menjadi jembatan aspirasi. “Bagaimanapun PKB dilahirkan dari NU, salah satu catatan pentingnya adalah bagaimana PKB bisa mengawal aspirasi warga nahdliyin,” bebernya.

Bentuk pengawalan itu, ia jelentrehkan sederhana. Misalnya, dibentuknya peraturan daerah tentang pesantren, memperhatikan aspirasi pesantren, dan kepentingan aspek keumatan lainnya. “Karena sebagaimana diketahui, di Jember cukup banyak pesantren. Dan itu dari NU,” jelasnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terpilihnya Ayub Junaidi dan M Itqon Syauqi menakhodai partai berlogo bumi bintang sembilan itu menjadi catatan tersendiri. Utamanya bagi Nahdlatul Ulama (NU) di Jember. Sebagaimana diketahui, PKB memiliki sanad yang kuat terhadap keberadaan NU. Bahkan, tak heran jika PKB disebut-sebut sebagai anak kandung NU.

Sekretaris PCNU Jember Abdul Hamid Pujiono menyatakan, selama ini PKB masih dianggap memiliki tren positif dalam tiap pesta demokrasi di berbagai level pemerintah, tak terkecuali di Jember. Potensi itu terlihat tatkala M Itqon Syauqi didapuk sebagai Ketua DPRD Jember, yang merupakan representasi dari kader PKB, sekaligus NU. “Dilihat dari komposisi saat ini, Mas Ayub dan Mas Itqon, saya rasa PKB masih memiliki potensi yang bagus ke depannya,” ujarnya.

Menurut dia, komposisi Ayub dan Itqon sudah dirasa pas karena bisa berjalan dua arah sekaligus. Pertama, keduanya dinilai cukup representatif atas keterwakilan pemuda atau kalangan milenial. Representasi keduanya dinilai mampu mendongkrak tren positif PKB maupun NU di kalangan kawula muda. Kedua, lanjut dia, meski PKB bukan bagian dari partai pengusung atas bupati hari ini, tapi keberadaan Itqon sebagai pimpinan dewan di Jember dirasa bakal memiliki nilai tawar yang kuat terhadap jalannya pemerintahan.

Ia optimistis, nakhoda baru PKB itu mampu mengemban amanah, sebagaimana amanah yang diisyaratkan oleh para sesepuh di tubuh NU. “Tentu saja semuanya tidak lepas dari pengawalan yang dilakukan NU. Ketika PKB ditegur pun, PKB tetap manut sebagaimana yang sering didengar selama ini, manut kiai,” jelasnya.

Ia menambahkan, sebagaimana partai besar, tentu kepiawaian manajemen jelas dibutuhkan. Hal itu diakui Pujiono. Terlebih, menurut dia, ada misi yang tidak kalah penting yang harus terus jadi fokus PKB sepanjang kepengurusan dan mampu menjangkau segenap aspirasi masyarakat. Bahkan, di level akar rumput, yakni bagaimana mengawal masyarakat bisa terpenuhi hak-haknya, sekaligus memengaruhi kebijakan pemerintah yang dirasa kurang pro rakyat. “Kalau itu terus diupayakan, kami masih yakin PKB terus memiliki tren positif, dan memiliki cara berpolitik yang dinamis pula,” imbuh pria yang juga dosen di IAIN Jember itu.

Keberadaan PKB di Jember juga bisa dibilang memiliki eksistensi cukup mentereng. Kendati sempat gagal mengusung calon di Pilkada Jember 2020 lalu, tapi hal itu dinilai tidak mengurangi superioritas partai besutan Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur ini.

Terpisah, Ketua PCNU Kencong Zainil Ghulam mengutarakan hampir serupa. Menurut dia, terpilihnya pemimpin baru DPC PKB Jember, Ayub dan Itqon, tak lantas hanya menjadi simbol keterwakilan warga nahdliyin di politik. Namun, seyogianya benar-benar bisa menjadi jembatan aspirasi. “Bagaimanapun PKB dilahirkan dari NU, salah satu catatan pentingnya adalah bagaimana PKB bisa mengawal aspirasi warga nahdliyin,” bebernya.

Bentuk pengawalan itu, ia jelentrehkan sederhana. Misalnya, dibentuknya peraturan daerah tentang pesantren, memperhatikan aspirasi pesantren, dan kepentingan aspek keumatan lainnya. “Karena sebagaimana diketahui, di Jember cukup banyak pesantren. Dan itu dari NU,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/