alexametrics
22.4 C
Jember
Tuesday, 16 August 2022

Perketat Kunjungan Peternakan Sapi Perah Rembangan

Mobile_AP_Rectangle 1

KEMUNING LOR, Radar Jember – Rembangan merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Jember. Berbagai destinasi wisata di daerah itu menjadi daya tarik bagi masyarakat Jember maupun luar jember. Salah satu yang menjadi ciri khas dari wisata Rembangan adalah peternakan sapi perah.

Peternakan sapi perah yang berada di desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, itu berada di lereng Gunung Argopuro dengan ketinggian kurang lebih 600 mdpl. Kawasan tersebut cocok untuk peternak sapi perah.

Dengan adanya wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jember yang semakin meluas, peternakan sapi perah Rembangan mulai melakukan antisipasi agar tidak tertular. Yaitu memperketat kunjungan masyarakat untuk melihat langsung proses pemerahan susu sapi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pengelola peternakan sapi perah Rembangan, Moch Havid,  mengatakan, peternakan sapi perah di Rembangan tidak sekadar peternakan yang menghasilkan susu. Namun, juga diminati masyarakat sebagai jujukan wisata alternatif dan edukatif. “Baik muda, tua, ataupun anak-anak juga sering mengunjungi peternakan sapi perah. Tapi, sejak PMK, kami memperketat kunjungan sebagai langkah untuk mengurangi risiko penularan PMK. Selain petugas peternakan, dilarang masuk,” tuturnya.

Tak hanya penjagaan yang ketat, lanjut Havid, pihaknya tidak sembarangan memanggil dokter hewan atau mantri. “Kami tidak tahu dokter hewan yang datang ke Rembangan ini habis mengobati sapi seperti apa. Takutnya penularan penyakit PMK bisa melalui dokter hewan yang sebelumnya mengobati sapi yang sakit PMK,” jelasnya.

- Advertisement -

KEMUNING LOR, Radar Jember – Rembangan merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Jember. Berbagai destinasi wisata di daerah itu menjadi daya tarik bagi masyarakat Jember maupun luar jember. Salah satu yang menjadi ciri khas dari wisata Rembangan adalah peternakan sapi perah.

Peternakan sapi perah yang berada di desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, itu berada di lereng Gunung Argopuro dengan ketinggian kurang lebih 600 mdpl. Kawasan tersebut cocok untuk peternak sapi perah.

Dengan adanya wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jember yang semakin meluas, peternakan sapi perah Rembangan mulai melakukan antisipasi agar tidak tertular. Yaitu memperketat kunjungan masyarakat untuk melihat langsung proses pemerahan susu sapi.

Pengelola peternakan sapi perah Rembangan, Moch Havid,  mengatakan, peternakan sapi perah di Rembangan tidak sekadar peternakan yang menghasilkan susu. Namun, juga diminati masyarakat sebagai jujukan wisata alternatif dan edukatif. “Baik muda, tua, ataupun anak-anak juga sering mengunjungi peternakan sapi perah. Tapi, sejak PMK, kami memperketat kunjungan sebagai langkah untuk mengurangi risiko penularan PMK. Selain petugas peternakan, dilarang masuk,” tuturnya.

Tak hanya penjagaan yang ketat, lanjut Havid, pihaknya tidak sembarangan memanggil dokter hewan atau mantri. “Kami tidak tahu dokter hewan yang datang ke Rembangan ini habis mengobati sapi seperti apa. Takutnya penularan penyakit PMK bisa melalui dokter hewan yang sebelumnya mengobati sapi yang sakit PMK,” jelasnya.

KEMUNING LOR, Radar Jember – Rembangan merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Jember. Berbagai destinasi wisata di daerah itu menjadi daya tarik bagi masyarakat Jember maupun luar jember. Salah satu yang menjadi ciri khas dari wisata Rembangan adalah peternakan sapi perah.

Peternakan sapi perah yang berada di desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, itu berada di lereng Gunung Argopuro dengan ketinggian kurang lebih 600 mdpl. Kawasan tersebut cocok untuk peternak sapi perah.

Dengan adanya wabah penyakit kuku dan mulut (PMK) di Jember yang semakin meluas, peternakan sapi perah Rembangan mulai melakukan antisipasi agar tidak tertular. Yaitu memperketat kunjungan masyarakat untuk melihat langsung proses pemerahan susu sapi.

Pengelola peternakan sapi perah Rembangan, Moch Havid,  mengatakan, peternakan sapi perah di Rembangan tidak sekadar peternakan yang menghasilkan susu. Namun, juga diminati masyarakat sebagai jujukan wisata alternatif dan edukatif. “Baik muda, tua, ataupun anak-anak juga sering mengunjungi peternakan sapi perah. Tapi, sejak PMK, kami memperketat kunjungan sebagai langkah untuk mengurangi risiko penularan PMK. Selain petugas peternakan, dilarang masuk,” tuturnya.

Tak hanya penjagaan yang ketat, lanjut Havid, pihaknya tidak sembarangan memanggil dokter hewan atau mantri. “Kami tidak tahu dokter hewan yang datang ke Rembangan ini habis mengobati sapi seperti apa. Takutnya penularan penyakit PMK bisa melalui dokter hewan yang sebelumnya mengobati sapi yang sakit PMK,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/