alexametrics
22.9 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pangkas Ranting Jeruk Atasi Hama Penyakit

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jeruk menjadi salah satu buah yang banyak ditanam oleh petani Jember. Sayang, ada hal yang kerap diabaikan dalam perawatan pohon jeruk tersebut. Salah satunya adalah enggan untuk melakukan pemangkasan, padahal cara tersebut menjadi penting untuk menghindari munculnya hama penyakit.

Karena itu, sejumlah mahasiswa Produksi Pertanian (PP) Politeknik Negeri Jember (Polije) melakukan pemotongan ranting, kemarin (27/6). Tidak hanya bagian atas, tapi juga bawah. Praktek pemangkasan tersebut menjadi salah satu penilaian ujian kompetensi mahasiswa.

Kepala Program Studi Produksi Tanaman Hortikultura Refa Firgiyanto mengatakan, faktor yang mendukung tanaman jeruk dari segi budi daya yang paling utama adalah bibit dan pembibitan. “Banyak sekali masyarakat tidak memakai benih bersertifikat,” ucapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain bibit yang bisa mempengaruhi produktivitas dan kualitas, yang kerap dilupakan petani jeruk adalah pemeliharaan. “Pemeliharaan itu juga pemupukan dan pemangkasan. Untuk petani di Jember dan sekitarnya, cenderung tidak melakukan pemangkasan,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, karena jeruk keluar atau berbuah dari cabang, petani tidak memangkas karena beranggapan akan mempengaruhi produksi. Bila tidak dipangkas justru memicu serangan hama penyakit sehingga menyebabkan gagal panen.

Pemangkasan dilakukan agar cahaya matahari bisa masuk ke semua sela tanaman jeruk. Dengan demikian, kelembapan bisa terjaga. “Bila tidak dipangkas, kelembapan bisa tinggi. Itu bisa berdampak pada munculnya hama penyakit,” tuturnya.

Adanya pemangkasan tersebut juga membuat proses fotosintesis berjalan dengan lebih baik. Selain itu, pemangkasan tersebut juga berfungsi untuk arsitektur yang tujuan akhirnya untuk mempermudah proses panen.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jeruk menjadi salah satu buah yang banyak ditanam oleh petani Jember. Sayang, ada hal yang kerap diabaikan dalam perawatan pohon jeruk tersebut. Salah satunya adalah enggan untuk melakukan pemangkasan, padahal cara tersebut menjadi penting untuk menghindari munculnya hama penyakit.

Karena itu, sejumlah mahasiswa Produksi Pertanian (PP) Politeknik Negeri Jember (Polije) melakukan pemotongan ranting, kemarin (27/6). Tidak hanya bagian atas, tapi juga bawah. Praktek pemangkasan tersebut menjadi salah satu penilaian ujian kompetensi mahasiswa.

Kepala Program Studi Produksi Tanaman Hortikultura Refa Firgiyanto mengatakan, faktor yang mendukung tanaman jeruk dari segi budi daya yang paling utama adalah bibit dan pembibitan. “Banyak sekali masyarakat tidak memakai benih bersertifikat,” ucapnya.

Selain bibit yang bisa mempengaruhi produktivitas dan kualitas, yang kerap dilupakan petani jeruk adalah pemeliharaan. “Pemeliharaan itu juga pemupukan dan pemangkasan. Untuk petani di Jember dan sekitarnya, cenderung tidak melakukan pemangkasan,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, karena jeruk keluar atau berbuah dari cabang, petani tidak memangkas karena beranggapan akan mempengaruhi produksi. Bila tidak dipangkas justru memicu serangan hama penyakit sehingga menyebabkan gagal panen.

Pemangkasan dilakukan agar cahaya matahari bisa masuk ke semua sela tanaman jeruk. Dengan demikian, kelembapan bisa terjaga. “Bila tidak dipangkas, kelembapan bisa tinggi. Itu bisa berdampak pada munculnya hama penyakit,” tuturnya.

Adanya pemangkasan tersebut juga membuat proses fotosintesis berjalan dengan lebih baik. Selain itu, pemangkasan tersebut juga berfungsi untuk arsitektur yang tujuan akhirnya untuk mempermudah proses panen.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jeruk menjadi salah satu buah yang banyak ditanam oleh petani Jember. Sayang, ada hal yang kerap diabaikan dalam perawatan pohon jeruk tersebut. Salah satunya adalah enggan untuk melakukan pemangkasan, padahal cara tersebut menjadi penting untuk menghindari munculnya hama penyakit.

Karena itu, sejumlah mahasiswa Produksi Pertanian (PP) Politeknik Negeri Jember (Polije) melakukan pemotongan ranting, kemarin (27/6). Tidak hanya bagian atas, tapi juga bawah. Praktek pemangkasan tersebut menjadi salah satu penilaian ujian kompetensi mahasiswa.

Kepala Program Studi Produksi Tanaman Hortikultura Refa Firgiyanto mengatakan, faktor yang mendukung tanaman jeruk dari segi budi daya yang paling utama adalah bibit dan pembibitan. “Banyak sekali masyarakat tidak memakai benih bersertifikat,” ucapnya.

Selain bibit yang bisa mempengaruhi produktivitas dan kualitas, yang kerap dilupakan petani jeruk adalah pemeliharaan. “Pemeliharaan itu juga pemupukan dan pemangkasan. Untuk petani di Jember dan sekitarnya, cenderung tidak melakukan pemangkasan,” ucapnya.

Padahal, lanjut dia, karena jeruk keluar atau berbuah dari cabang, petani tidak memangkas karena beranggapan akan mempengaruhi produksi. Bila tidak dipangkas justru memicu serangan hama penyakit sehingga menyebabkan gagal panen.

Pemangkasan dilakukan agar cahaya matahari bisa masuk ke semua sela tanaman jeruk. Dengan demikian, kelembapan bisa terjaga. “Bila tidak dipangkas, kelembapan bisa tinggi. Itu bisa berdampak pada munculnya hama penyakit,” tuturnya.

Adanya pemangkasan tersebut juga membuat proses fotosintesis berjalan dengan lebih baik. Selain itu, pemangkasan tersebut juga berfungsi untuk arsitektur yang tujuan akhirnya untuk mempermudah proses panen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/