alexametrics
28.4 C
Jember
Saturday, 25 June 2022

Jangan Hanya Jual Gabah, Petani Harus Mampu Mandiri

Dorong Petani Produksi Beras Mandiri

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Petani yang mandiri dan sejahtera telah lama diimpikan. Namun, kenyataannya hingga kini nasib petani tetap begitu-begitu saja. Tiadanya pendampingan dan akses modal untuk mengolah produk pertanian pascapanen membuat mereka hanya menjual gabah, bukan beras. Padahal, selisih antara harga beras dan gabah bisa sampai dua kali lipat.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya yaitu lewat penjualan beras, bukan gabah lagi. Dia mengakui, hingga kini petani selalu menjual gabah, tidak ditingkatkan menjadi jual beras. “Sebenarnya produksi beras kecil-kecilan di tingkat petani itu bisa,” tuturnya.

Dengan teknologi pertanian saat ini, tentu saja menggiling gabah untuk menjadi beras tidak seperti dulu lagi. Artinya, tidak perlu alat super besar. “Giling gabah keliling atau disebut grandong itu contohnya. Lewat alat kecil, bisa produksi beras sendiri,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jumantoro menyebut, alat penggilingan beras mini harganya juga cukup terjangkau. Sekitar Rp 5-6 juta. Alat tersebut juga cocok untuk petani kecil yang ingin menjual beras atau produksi beras sendiri.

Bila saat panen raya tiba, harga gabah cenderung jatuh sekitar Rp 3.700 per kilogram. Sedangkan untuk menjual beras kisaran harganya Rp 7.000 sampai Rp 9.000 per kilogram. “Selisihnya sudah berapa? Dua kali lipat dari harga gabah,” paparnya. Dengan menggiling gabah sendiri, petani juga lebih untung karena dapat bekatul yang bisa digunakan untuk pakan ternak.

Menurut Jumantoro, agar beras produksi petani secara mandiri itu lebih banyak diterima konsumen secara luas, maka butuh peralatan lebih lagi. Seperti mesin poles atau lainnya. Karena itu, menurutnya, gabungan kelompok tani (gapoktan) inilah yang seharusnya jadi jembatan agar petani memiliki alat sebanding dengan pabrik penggilingan. “Karena gapoktan adalah gabungan kelompok tani dan modalnya kuat. Maka, itu bisa tercipta,” tuturnya.

Selain itu, mengapa petani lebih memilih menjual gabah saja? Menurut Jumantoro, tidak semua petani kecil itu memiliki lantai jemur sendiri. “Jemurnya seadanya. Bisa di lapangan, di atas terpal, dan lainnya,” terangnya.

Selain itu, petani juga tidak memiliki gudang penyimpanan, sehingga mereka memilih langsung menjual gabah setelah panen, tidak menunda-nundanya lagi. Diharapkan, pabrik atau penggilingan beras itu bisa bermitra dengan petani untuk menghindari petani terjerat utang.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Petani yang mandiri dan sejahtera telah lama diimpikan. Namun, kenyataannya hingga kini nasib petani tetap begitu-begitu saja. Tiadanya pendampingan dan akses modal untuk mengolah produk pertanian pascapanen membuat mereka hanya menjual gabah, bukan beras. Padahal, selisih antara harga beras dan gabah bisa sampai dua kali lipat.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya yaitu lewat penjualan beras, bukan gabah lagi. Dia mengakui, hingga kini petani selalu menjual gabah, tidak ditingkatkan menjadi jual beras. “Sebenarnya produksi beras kecil-kecilan di tingkat petani itu bisa,” tuturnya.

Dengan teknologi pertanian saat ini, tentu saja menggiling gabah untuk menjadi beras tidak seperti dulu lagi. Artinya, tidak perlu alat super besar. “Giling gabah keliling atau disebut grandong itu contohnya. Lewat alat kecil, bisa produksi beras sendiri,” katanya.

Jumantoro menyebut, alat penggilingan beras mini harganya juga cukup terjangkau. Sekitar Rp 5-6 juta. Alat tersebut juga cocok untuk petani kecil yang ingin menjual beras atau produksi beras sendiri.

Bila saat panen raya tiba, harga gabah cenderung jatuh sekitar Rp 3.700 per kilogram. Sedangkan untuk menjual beras kisaran harganya Rp 7.000 sampai Rp 9.000 per kilogram. “Selisihnya sudah berapa? Dua kali lipat dari harga gabah,” paparnya. Dengan menggiling gabah sendiri, petani juga lebih untung karena dapat bekatul yang bisa digunakan untuk pakan ternak.

Menurut Jumantoro, agar beras produksi petani secara mandiri itu lebih banyak diterima konsumen secara luas, maka butuh peralatan lebih lagi. Seperti mesin poles atau lainnya. Karena itu, menurutnya, gabungan kelompok tani (gapoktan) inilah yang seharusnya jadi jembatan agar petani memiliki alat sebanding dengan pabrik penggilingan. “Karena gapoktan adalah gabungan kelompok tani dan modalnya kuat. Maka, itu bisa tercipta,” tuturnya.

Selain itu, mengapa petani lebih memilih menjual gabah saja? Menurut Jumantoro, tidak semua petani kecil itu memiliki lantai jemur sendiri. “Jemurnya seadanya. Bisa di lapangan, di atas terpal, dan lainnya,” terangnya.

Selain itu, petani juga tidak memiliki gudang penyimpanan, sehingga mereka memilih langsung menjual gabah setelah panen, tidak menunda-nundanya lagi. Diharapkan, pabrik atau penggilingan beras itu bisa bermitra dengan petani untuk menghindari petani terjerat utang.

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Petani yang mandiri dan sejahtera telah lama diimpikan. Namun, kenyataannya hingga kini nasib petani tetap begitu-begitu saja. Tiadanya pendampingan dan akses modal untuk mengolah produk pertanian pascapanen membuat mereka hanya menjual gabah, bukan beras. Padahal, selisih antara harga beras dan gabah bisa sampai dua kali lipat.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, salah satunya yaitu lewat penjualan beras, bukan gabah lagi. Dia mengakui, hingga kini petani selalu menjual gabah, tidak ditingkatkan menjadi jual beras. “Sebenarnya produksi beras kecil-kecilan di tingkat petani itu bisa,” tuturnya.

Dengan teknologi pertanian saat ini, tentu saja menggiling gabah untuk menjadi beras tidak seperti dulu lagi. Artinya, tidak perlu alat super besar. “Giling gabah keliling atau disebut grandong itu contohnya. Lewat alat kecil, bisa produksi beras sendiri,” katanya.

Jumantoro menyebut, alat penggilingan beras mini harganya juga cukup terjangkau. Sekitar Rp 5-6 juta. Alat tersebut juga cocok untuk petani kecil yang ingin menjual beras atau produksi beras sendiri.

Bila saat panen raya tiba, harga gabah cenderung jatuh sekitar Rp 3.700 per kilogram. Sedangkan untuk menjual beras kisaran harganya Rp 7.000 sampai Rp 9.000 per kilogram. “Selisihnya sudah berapa? Dua kali lipat dari harga gabah,” paparnya. Dengan menggiling gabah sendiri, petani juga lebih untung karena dapat bekatul yang bisa digunakan untuk pakan ternak.

Menurut Jumantoro, agar beras produksi petani secara mandiri itu lebih banyak diterima konsumen secara luas, maka butuh peralatan lebih lagi. Seperti mesin poles atau lainnya. Karena itu, menurutnya, gabungan kelompok tani (gapoktan) inilah yang seharusnya jadi jembatan agar petani memiliki alat sebanding dengan pabrik penggilingan. “Karena gapoktan adalah gabungan kelompok tani dan modalnya kuat. Maka, itu bisa tercipta,” tuturnya.

Selain itu, mengapa petani lebih memilih menjual gabah saja? Menurut Jumantoro, tidak semua petani kecil itu memiliki lantai jemur sendiri. “Jemurnya seadanya. Bisa di lapangan, di atas terpal, dan lainnya,” terangnya.

Selain itu, petani juga tidak memiliki gudang penyimpanan, sehingga mereka memilih langsung menjual gabah setelah panen, tidak menunda-nundanya lagi. Diharapkan, pabrik atau penggilingan beras itu bisa bermitra dengan petani untuk menghindari petani terjerat utang.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/