alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Gabah Petani Sulit Terserap Bulog

Kadar Air dan Kadar Hampa Kurang Standar

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik mentari siang itu membuat Mulyadi semakin semangat terus menjemur gabah di lapangan. Petani daerah Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut menjemur gabahnya di atas terpal. Tiga hari berturut-turut menjemur, gabah itu akhirnya siap dimasukkan ke dalam karung.

Menurut Mulyadi, agar gabah itu benar-benar kering dan bisa masuk standar Bulog, setidaknya perlu dijemur 3-5 hari. “Kalau terang dan panas terus seperti ini, minimal bisa tiga hari,” jelasnya. Bila gabahnya itu tidak masuk Bulog, Mulyadi juga tidak berkecil hati. “Kalau tidak bisa masuk, ya disimpan saja. Buat persediaan di rumah,” ungkapnya.

Pada masa panen seperti ini, harapan petani tentu gabahnya diserap oleh Bulog karena harganya lebih tinggi ketimbang dijual ke penggilingan. “Dulu harganya Rp 3.700 per kilogram. Sekarang mulai naik antara Rp 3.900 sampai Rp 4.000 per kilogram,” paparnya. Hal itu tidak lain karena sudah banyak petani yang panen dan sekarang ada sebagian yang masuk tanam kedua.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menambahkan, persoalan petani pada panen seperti ini sejatinya adalah hal klasik. “Kalau panen raya pasti harganya turun,” jelasnya.

Dia mengakui, sekarang harga gabah berangsur membaik. “Dulu sempat Rp 3.400 ribu sampai Rp 3.500 ribu per kilogram. Naik Rp 3.700 per kilogram dan berdasarkan laporan telah mencapai Rp 4.000 per kilogram,” jelasnya.

Situasi seperti ini, harga anjlok ketika panen raya, petani berharap Bulog bisa turun tangan untuk menyerap gabah mereka. Hanya, gabah dari petani ini tidak masuk standar Bulog. Karenanya, Jumantoro berharap, Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Tahun 2017 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah itu direvisi. Sebab, gabah dari petani susah untuk memenuhi standar gabah kering giling (GKG). “Petani ini rata-rata mampu untuk gabah kering sawah,” jelasnya.

Menurutnya, GKG dengan kadar air maksimal 14 persen dan kadar hampa 3 persen itu sulit dicapai petani. Sebab, petani hanya mengandalkan penjemuran secara tradisional dan tidak memiliki peralatan seperti perusahaan penggilingan. “Itu bisa dicapai oleh perusahaan penggilingan beras. Karena petani tidak punya peralatan seperti dryer dan lainnya,” jelasnya.

Jumantoro menambahkan, untuk mencapai standar GKG tersebut, juga bisa memakai cara tradisional, yaitu menjemur di bawah terik matahari. “Tapi itu butuh waktu lama dan butuh cuaca yang cerah setiap hari,” paparnya.

 

Butuh Stimulan

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik mentari siang itu membuat Mulyadi semakin semangat terus menjemur gabah di lapangan. Petani daerah Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut menjemur gabahnya di atas terpal. Tiga hari berturut-turut menjemur, gabah itu akhirnya siap dimasukkan ke dalam karung.

Menurut Mulyadi, agar gabah itu benar-benar kering dan bisa masuk standar Bulog, setidaknya perlu dijemur 3-5 hari. “Kalau terang dan panas terus seperti ini, minimal bisa tiga hari,” jelasnya. Bila gabahnya itu tidak masuk Bulog, Mulyadi juga tidak berkecil hati. “Kalau tidak bisa masuk, ya disimpan saja. Buat persediaan di rumah,” ungkapnya.

Pada masa panen seperti ini, harapan petani tentu gabahnya diserap oleh Bulog karena harganya lebih tinggi ketimbang dijual ke penggilingan. “Dulu harganya Rp 3.700 per kilogram. Sekarang mulai naik antara Rp 3.900 sampai Rp 4.000 per kilogram,” paparnya. Hal itu tidak lain karena sudah banyak petani yang panen dan sekarang ada sebagian yang masuk tanam kedua.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menambahkan, persoalan petani pada panen seperti ini sejatinya adalah hal klasik. “Kalau panen raya pasti harganya turun,” jelasnya.

Dia mengakui, sekarang harga gabah berangsur membaik. “Dulu sempat Rp 3.400 ribu sampai Rp 3.500 ribu per kilogram. Naik Rp 3.700 per kilogram dan berdasarkan laporan telah mencapai Rp 4.000 per kilogram,” jelasnya.

Situasi seperti ini, harga anjlok ketika panen raya, petani berharap Bulog bisa turun tangan untuk menyerap gabah mereka. Hanya, gabah dari petani ini tidak masuk standar Bulog. Karenanya, Jumantoro berharap, Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Tahun 2017 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah itu direvisi. Sebab, gabah dari petani susah untuk memenuhi standar gabah kering giling (GKG). “Petani ini rata-rata mampu untuk gabah kering sawah,” jelasnya.

Menurutnya, GKG dengan kadar air maksimal 14 persen dan kadar hampa 3 persen itu sulit dicapai petani. Sebab, petani hanya mengandalkan penjemuran secara tradisional dan tidak memiliki peralatan seperti perusahaan penggilingan. “Itu bisa dicapai oleh perusahaan penggilingan beras. Karena petani tidak punya peralatan seperti dryer dan lainnya,” jelasnya.

Jumantoro menambahkan, untuk mencapai standar GKG tersebut, juga bisa memakai cara tradisional, yaitu menjemur di bawah terik matahari. “Tapi itu butuh waktu lama dan butuh cuaca yang cerah setiap hari,” paparnya.

 

Butuh Stimulan

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terik mentari siang itu membuat Mulyadi semakin semangat terus menjemur gabah di lapangan. Petani daerah Pelindu, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Sumbersari, tersebut menjemur gabahnya di atas terpal. Tiga hari berturut-turut menjemur, gabah itu akhirnya siap dimasukkan ke dalam karung.

Menurut Mulyadi, agar gabah itu benar-benar kering dan bisa masuk standar Bulog, setidaknya perlu dijemur 3-5 hari. “Kalau terang dan panas terus seperti ini, minimal bisa tiga hari,” jelasnya. Bila gabahnya itu tidak masuk Bulog, Mulyadi juga tidak berkecil hati. “Kalau tidak bisa masuk, ya disimpan saja. Buat persediaan di rumah,” ungkapnya.

Pada masa panen seperti ini, harapan petani tentu gabahnya diserap oleh Bulog karena harganya lebih tinggi ketimbang dijual ke penggilingan. “Dulu harganya Rp 3.700 per kilogram. Sekarang mulai naik antara Rp 3.900 sampai Rp 4.000 per kilogram,” paparnya. Hal itu tidak lain karena sudah banyak petani yang panen dan sekarang ada sebagian yang masuk tanam kedua.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro menambahkan, persoalan petani pada panen seperti ini sejatinya adalah hal klasik. “Kalau panen raya pasti harganya turun,” jelasnya.

Dia mengakui, sekarang harga gabah berangsur membaik. “Dulu sempat Rp 3.400 ribu sampai Rp 3.500 ribu per kilogram. Naik Rp 3.700 per kilogram dan berdasarkan laporan telah mencapai Rp 4.000 per kilogram,” jelasnya.

Situasi seperti ini, harga anjlok ketika panen raya, petani berharap Bulog bisa turun tangan untuk menyerap gabah mereka. Hanya, gabah dari petani ini tidak masuk standar Bulog. Karenanya, Jumantoro berharap, Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Tahun 2017 tentang Pedoman Harga Pembelian Gabah itu direvisi. Sebab, gabah dari petani susah untuk memenuhi standar gabah kering giling (GKG). “Petani ini rata-rata mampu untuk gabah kering sawah,” jelasnya.

Menurutnya, GKG dengan kadar air maksimal 14 persen dan kadar hampa 3 persen itu sulit dicapai petani. Sebab, petani hanya mengandalkan penjemuran secara tradisional dan tidak memiliki peralatan seperti perusahaan penggilingan. “Itu bisa dicapai oleh perusahaan penggilingan beras. Karena petani tidak punya peralatan seperti dryer dan lainnya,” jelasnya.

Jumantoro menambahkan, untuk mencapai standar GKG tersebut, juga bisa memakai cara tradisional, yaitu menjemur di bawah terik matahari. “Tapi itu butuh waktu lama dan butuh cuaca yang cerah setiap hari,” paparnya.

 

Butuh Stimulan

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/