alexametrics
25.2 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Pupuk Anorganik Sumbang Emisi Gas Rumah Kaca

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan masalah global yang memengaruhi perubahan iklim. Sebab, imbas dari perubahan iklim tersebut dapat menyebabkan cuaca ekstrem yang sulit ditebak. Karena itu, berpotensi terjadi bencana alam. Selain itu, juga bisa mengakibatkan gagal panen karena cuaca yang tidak menentu.

Di tingkat daerah, isu GRK dan perubahan iklim tersebut juga menjadi agenda pembahasan di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Jember. Sebab, salah satu penyumbang emisi GRK adalah penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang sampai saat ini jamak dilakukan oleh para petani.

Berdasarkan penelitian, sektor energi menjadi kontributor terbesar emisi GRK. Selain itu, adalah sektor pertanian yang menyumbang 10-12 persen, yang dihasilkan lewat penggunaan pupuk kimia atau anorganik. Dan di Jember, penggunaan pupuk kimia masih cukup tinggi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) Marga Mandala menjelaskan, penggunaan pupuk kimia nitrogen yang berlebihan, tidak hanya menyumbang emisi GRK. Namun, juga mengancam lingkungan. “Karena kelebihan zat yang tidak terserap dan menggenang, akan berdampak pada polusi air,” katanya dalam acara bimbingan teknik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian di Jember, kemarin (22/6).

Sementara itu, Plt Kepala Seksi Penyuluhan Dinas TPHP Jember Imam Mahsudi mengungkapkan, selama ini petani di Jember masih ketergantungan dengan pupuk anorganik. Oleh karenanya, jumlah pupuk bersubsidi setiap tahunnya mengalami penurunan guna mengurangi ketergantungan itu. “Kalau per hektare kebutuhannya 250 kg urea, di sistem kementerian menjadi 125 kg,” paparnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan masalah global yang memengaruhi perubahan iklim. Sebab, imbas dari perubahan iklim tersebut dapat menyebabkan cuaca ekstrem yang sulit ditebak. Karena itu, berpotensi terjadi bencana alam. Selain itu, juga bisa mengakibatkan gagal panen karena cuaca yang tidak menentu.

Di tingkat daerah, isu GRK dan perubahan iklim tersebut juga menjadi agenda pembahasan di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Jember. Sebab, salah satu penyumbang emisi GRK adalah penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang sampai saat ini jamak dilakukan oleh para petani.

Berdasarkan penelitian, sektor energi menjadi kontributor terbesar emisi GRK. Selain itu, adalah sektor pertanian yang menyumbang 10-12 persen, yang dihasilkan lewat penggunaan pupuk kimia atau anorganik. Dan di Jember, penggunaan pupuk kimia masih cukup tinggi.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) Marga Mandala menjelaskan, penggunaan pupuk kimia nitrogen yang berlebihan, tidak hanya menyumbang emisi GRK. Namun, juga mengancam lingkungan. “Karena kelebihan zat yang tidak terserap dan menggenang, akan berdampak pada polusi air,” katanya dalam acara bimbingan teknik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian di Jember, kemarin (22/6).

Sementara itu, Plt Kepala Seksi Penyuluhan Dinas TPHP Jember Imam Mahsudi mengungkapkan, selama ini petani di Jember masih ketergantungan dengan pupuk anorganik. Oleh karenanya, jumlah pupuk bersubsidi setiap tahunnya mengalami penurunan guna mengurangi ketergantungan itu. “Kalau per hektare kebutuhannya 250 kg urea, di sistem kementerian menjadi 125 kg,” paparnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Emisi gas rumah kaca (GRK) merupakan masalah global yang memengaruhi perubahan iklim. Sebab, imbas dari perubahan iklim tersebut dapat menyebabkan cuaca ekstrem yang sulit ditebak. Karena itu, berpotensi terjadi bencana alam. Selain itu, juga bisa mengakibatkan gagal panen karena cuaca yang tidak menentu.

Di tingkat daerah, isu GRK dan perubahan iklim tersebut juga menjadi agenda pembahasan di Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP) Jember. Sebab, salah satu penyumbang emisi GRK adalah penggunaan pupuk kimia secara berlebihan yang sampai saat ini jamak dilakukan oleh para petani.

Berdasarkan penelitian, sektor energi menjadi kontributor terbesar emisi GRK. Selain itu, adalah sektor pertanian yang menyumbang 10-12 persen, yang dihasilkan lewat penggunaan pupuk kimia atau anorganik. Dan di Jember, penggunaan pupuk kimia masih cukup tinggi.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) Marga Mandala menjelaskan, penggunaan pupuk kimia nitrogen yang berlebihan, tidak hanya menyumbang emisi GRK. Namun, juga mengancam lingkungan. “Karena kelebihan zat yang tidak terserap dan menggenang, akan berdampak pada polusi air,” katanya dalam acara bimbingan teknik yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian di Jember, kemarin (22/6).

Sementara itu, Plt Kepala Seksi Penyuluhan Dinas TPHP Jember Imam Mahsudi mengungkapkan, selama ini petani di Jember masih ketergantungan dengan pupuk anorganik. Oleh karenanya, jumlah pupuk bersubsidi setiap tahunnya mengalami penurunan guna mengurangi ketergantungan itu. “Kalau per hektare kebutuhannya 250 kg urea, di sistem kementerian menjadi 125 kg,” paparnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/