28,9 Hektare Sawah Terserang Wereng 

WASPADA HAMA: Salah satu kawasan persawahan yang sudah memasuki masa panen. Memasuki masa panen pertama tahun ini, wabah hama wereng telah menggerogoti lahan pertanian di 22 kecamatan.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jika sebelumnya berdasarkan catatan organisasi pertanian terdapat enam kecamatan yang terserang hama wereng di minggu terakhir Februari kemarin, kini semakin meluas. Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember mencatat 28,9 hektare sawah terserang wereng. Sebarannya pun meluas hingga 22 kecamatan.

IKLAN

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Jember Mad Mastuki. Dirinya mengakui, serangan hama wereng semakin masif. Pekan kemarin saja, penyebaran hama wereng menyebar pada areal persawahan di 22 kecamatan se-Jember.

Beberapa kecamatan yang tidak terkena serangan wereng batang cokelat itu di antaranya Balung, Kencong, Wuluhan, Ambulu, Kaliwates, Silo, Tanggul, dan Umbulsari. “Lainnya ada (terkena serangan hama wereng, Red),” ujarnya. Sementara, tambah dia, untuk Wuluhan sebenarnya ada, tapi jumlah petak sawah yang kena wereng itu sedikit.

Pihak dinas, lanjut dia, juga telah menginventarisasi petak sawah yang terkena wereng batang cokelat. Hasilnya, setidaknya ada 28,9 hektare sawah. Untuk mengurangi dampak serangan wereng agar tidak terjadi gagal panen, pemerintah menyiapkan racun dan insektisida untuk bisa membunuh wereng tersebut. Pengendalian hama wereng pun dilakukan setiap hari, dan dilakukan bergotong royong bersama petani, kelompok tani, organisasi petani, penyuluh pertanian, dan petugas pengendali organisme pengganggu tumbuhan.

Menurut catatan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), serangan hama wereng diketahui di daerah Jenggawah, tepatnya di Desa Gayasan, pada minggu terakhir Februari kemarin. Ketua KTNA Jember Sucipto mengatakan, persawahan Gayasan, Jenggawah, sudah terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) terutama wereng cukup parah dan sudah disemprot secara masal. Namun, nyatanya hama wereng semakin tak terkendali dan menginvasi di beberapa daerah. “Sekarang setidaknya dua hari sekali ada semprotan untuk wereng,” ujarnya.

Dia mengaku, serangan wereng itu harus dikendalikan cepat. Sebab, wereng menjadi organisme yang penyebarannya begitu cepat. “Wereng itu secara kasat mata tidak terlihat, tapi bisa meloncat dari satu petak sawah ke petak yang lain,” paparnya.

Apalagi, kata dia, sekarang ini hampir masuk musim panen pertama pada 2020. Jika Jember pertaniannya terganggu, tambah Sucipto, tentu saja akan berimbas ke stok pangan. Sebab, Jember adalah daerah lumbung pangan nasional. “Kalau wereng terus-terusan seperti ini, petani buntung karena gagal panen,” tambahnya.

Cara yang paling ekstrem untuk pengendalian wereng adalah dibakar. Walau begitu, Sucipto berharap tidak ada petani yang sampai membakar lahan padinya karena wereng. Selain berbahaya karena bisa mengganggu pernapasan, juga merusak lahan yang ada. “Semoga tidak ada yang sampai membakar,” harapnya.

Sucipto menambahkan, dari pengalaman selama ini, sawah yang berpotensi terserang wereng adalah areal persawahan yang terus-menerus ditanami padi. “Jadi, sawahnya tidak kenal musim palawija, terus tanam padi, walau musim kemarau sekalipun,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jumantoro menambahkan, akibat wereng bukan hanya bisa berdampak akan berkurangnya kapasitas produksi. “Bisa gagal panen. Gagal total,” jelasnya. Dia berharap petani membeli obat pembasmi hama dengan konsultasi ke penyuluh pertanian, dan jangan sampai ke pedagang di toko pertanian.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti