Puluhan Hektare Padi Terancam Mati

MASIH KESULITAN AIR: Meskipun telah memasuki musim hujan, banyak lahan persawahan kekurangan pasokan air. Akibatnya, banyak area persawahan yang mengering.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Musim hujan memang sudah dimulai berlangsung sejak beberapa pekan lalu. Namun, sejumlah daerah masih kesulitan untuk mendapatkan pasokan air untuk area persawahan. Padahal, baru beberapa minggu kemarin mereka memulai masa tanam padi. Akibatnya, puluhan hektare lahan persawahan petani itu kini terancam mati.

IKLAN

Seperti tanaman padi di Dusun Kunitir, Desa Grenden, Kecamatan Puger. Sejak beberapa pekan kemarin, tanaman padi milik petani mengalami kekeringan. “Padahal baru tanam padi, sekarang malah tidak ada air sama sekali,” keluh Nur Salim, 34, saat ditemui di area persawahan yang dia garap.

Selain karena faktor hujan yang tak kunjung turun, kondisi semakin diperparah dengan sumber-sumber air di area persawahan yang mengering. Tak sedikit petani yang harus legawa berbagi air dari beberapa sumur di tengah sawah, meskipun sebenarnya hal itu tidak mencukupi.

Tak hanya Salim, beberapa petani lain menurutnya juga kelimpungan saat dihadapkan dengan kekeringan itu. Mereka tentu merugi, karena baru beberapa pekan kemarin petani yang melangsungkan masa tanam padi mereka. “Kalau mengandalkan sungai, airnya juga masih belum datang,” imbuh Tonari, petani lainnya.

Tak sampai di situ, beberapa lahan sawah milik Tonari juga belum sempat ditanami padi. Dia seolah meyakini bahwa musim hujan pekan ini belum sepenuhnya turun normal. Selain harus berbagi air, tak sedikit petani yang menyiapkan mesin diesel dengan paralon yang cukup panjang.

“Di sini memang banyak sumur di tengah-tengah sawah, tapi tidak semua sumbernya lancar. Makanya petani yang bawa paralon panjang itu mau numpang ke sumur lain, meskipun sangat jauh,” jelasnya.

Di area persawahan yang cukup luas itu memang tidak semua ditanami padi oleh warga setempat. Ada beberapa petani yang telah memprediksi bahwa musim hujan pekan ini datang terlambat. Mereka beralih menanam palawija seperti tanaman cabai, tomat, dan lain-lain. Di tengah perasaan waswas khawatir tanaman padinya akan mati, petani berharap besar hujan bisa segera turun dan pasokan air di sungai-sungai mulai lancar.

Sementara itu Ketua Himpunan Kerukunan Petani Indonesia (HKTI) Jember, Jumantoro menambahkan, hampir dua minggu tidak turun hujan sama sekali di daerah Jember membuat tanaman khususnya padi harus diselamatkan. Lahan pertanian mulai minim pasokan air, lantaran tak kunjung hujan pada musim penghujan ini. Paling banyak di daerah Jember selatan. “Kami belum menghitung pasti berapa hektare lahan pertanian yang terancam kekurangan air. Tapi yang jelas berdasarkan pengamatan di lapangan ada ratusan hekatar sawah yang sangat butuh air,” jelasnya.

Jumantoro menghitung, seandainya dua pekan ke depan tidak ada hujan, petani akan menangis dan meratapi nasib gagal total. “Kalau tidak hujan terus, mau tidak mau petani harus tanam ulang,” paparnya.

Apalagi, petani yang tidak punya dana lebih untuk menyewa mesin diesel untuk menyedot air, mereka akan meratapi nasib di pinggir sawah.

Pihaknya masih mencoba untuk berkomunikasi dengan Dinas Pertanian, sayangnya juga belum berjumpa dengan kepala Dinas Pertanian. Dia mengaku, musim tanam petani saat ini bisa dibilang serentak terjadi pada Januari. “Tahun kemarin masih ada yang tanam mulai November hingga Januari. Tapi kali ini Januari semua, karena kemarau cukup panjang,” terangnya.

Jeritan petani, kata dia, tidak hanya alami kritis air. Tapi mereka juga dilanda minimnya kuota pupuk subsidi. “Kemarau melanda, pupuk tidak ada. Inilah yang terjadi sekarang,” pungkasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti