alexametrics
23 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Gas Elpiji Langka ? Politeknik Negeri Jember Punya Solusi

Alternatif Sumber Energi Cegah Kelangkaan Gas Subsidi

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – YULI Hananto tengah sibuk menjelaskan rencana pembangunan digester atau reaktor yang digunakan untuk proses fermentasi kotoran sapi agar menjadi biogas. Koordinator Jurusan Energi Terbarukan Politeknik Negeri Jember (Polije) ini harus merancang konsep pembangunan digester yang ukurannya lebih besar dari digester yang ada. Sebab, seiring bertambahnya jumlah sapi perah di peternakan milik Polije itu, otomatis akan menambah jumlah produksi biogas, sehingga perlu reaktor yang lebih besar.

ENERGI ALTERNATIF: Sapi-sapi di sentra ini tak hanya diambil daging, susu, dan kulitnya. Namun, kotorannya juga dimanfaatkan menjadi biogas sebagai pengganti elpiji.

Sekitar sepuluh tahun lamanya kampus Politeknik Negeri Jember (Polije) mulai memanfaatkan biogas untuk mengolah makanan. Awalnya, energi yang berasal dari kotoran sapi itu hanya digunakan untuk memasak kopi agar dikonsumsi oleh para penjaga atau pengelola sapi di belakang kampus. Itu pun produksinya sangat sedikit. Justru, kotoran sapi melimpah yang dihasilkan dari peternakan itu lebih banyak dimanfaatkan untuk pupuk saja. Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya Jurusan Teknik Energi Terbarukan, produksi biogas pun dilakukan secara lebih konsisten.

“Sekitar tahun 2010 sudah mulai membangun reaktor. Pada waktu itu yang membangun bukan Teknik Energi Terbarukan, tapi dari Jurusan Peternakan. Jadi, waktu itu digunakan lebih kepada praktik pembuatan pupuk,” tuturnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Yuli menjelaskan, pembuatan biogas memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Untuk memulainya, kotoran sapi dicampur dengan air dengan perbandingan 2:3. Kemudian, setelah semua bercampur rata, kotoran tersebut dipindahkan dalam digester dan disimpan atau melalui proses fermentasi selama satu bulan. Di sinilah energi tersebut menjadi gas yang digunakan untuk memanaskan susu sapi. “Gas tersebut bisa kami gunakan dalam waktu satu bulan,” katanya.

Meski terdengar cukup mudah, namun perjalanan pembuatan biogas itu juga sempat mengalami kendala. Sebab, digester yang digunakan dulunya terbuat dari bahan plastik. Saat proses fermentasi, Yuli mengatakan, plastik yang dia gunakan bocor hingga akhirnya gagal memanen biogas. Menurut dia, kebocoran tersebut diduga akibat cahaya matahari dan adanya benda tajam atau duri yang menggesek digester secara tidak sengaja.

Menurut dia, kendala utama adalah adanya potensi kebocoran itu. Karena biogas adalah energi yang prosesnya melalui fermentasi, maka saat fermentasi ada bakteri aerobik yang tidak boleh ada udara bebas masuk. “Jadi, kalau bocor, prosesnya bisa gagal sehingga tidak dapat menghasilkan biogas. Dulu waktu masih pakai plastik, plastiknya sempat jebol,” ungkapnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – YULI Hananto tengah sibuk menjelaskan rencana pembangunan digester atau reaktor yang digunakan untuk proses fermentasi kotoran sapi agar menjadi biogas. Koordinator Jurusan Energi Terbarukan Politeknik Negeri Jember (Polije) ini harus merancang konsep pembangunan digester yang ukurannya lebih besar dari digester yang ada. Sebab, seiring bertambahnya jumlah sapi perah di peternakan milik Polije itu, otomatis akan menambah jumlah produksi biogas, sehingga perlu reaktor yang lebih besar.

ENERGI ALTERNATIF: Sapi-sapi di sentra ini tak hanya diambil daging, susu, dan kulitnya. Namun, kotorannya juga dimanfaatkan menjadi biogas sebagai pengganti elpiji.

Sekitar sepuluh tahun lamanya kampus Politeknik Negeri Jember (Polije) mulai memanfaatkan biogas untuk mengolah makanan. Awalnya, energi yang berasal dari kotoran sapi itu hanya digunakan untuk memasak kopi agar dikonsumsi oleh para penjaga atau pengelola sapi di belakang kampus. Itu pun produksinya sangat sedikit. Justru, kotoran sapi melimpah yang dihasilkan dari peternakan itu lebih banyak dimanfaatkan untuk pupuk saja. Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya Jurusan Teknik Energi Terbarukan, produksi biogas pun dilakukan secara lebih konsisten.

“Sekitar tahun 2010 sudah mulai membangun reaktor. Pada waktu itu yang membangun bukan Teknik Energi Terbarukan, tapi dari Jurusan Peternakan. Jadi, waktu itu digunakan lebih kepada praktik pembuatan pupuk,” tuturnya.

Yuli menjelaskan, pembuatan biogas memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Untuk memulainya, kotoran sapi dicampur dengan air dengan perbandingan 2:3. Kemudian, setelah semua bercampur rata, kotoran tersebut dipindahkan dalam digester dan disimpan atau melalui proses fermentasi selama satu bulan. Di sinilah energi tersebut menjadi gas yang digunakan untuk memanaskan susu sapi. “Gas tersebut bisa kami gunakan dalam waktu satu bulan,” katanya.

Meski terdengar cukup mudah, namun perjalanan pembuatan biogas itu juga sempat mengalami kendala. Sebab, digester yang digunakan dulunya terbuat dari bahan plastik. Saat proses fermentasi, Yuli mengatakan, plastik yang dia gunakan bocor hingga akhirnya gagal memanen biogas. Menurut dia, kebocoran tersebut diduga akibat cahaya matahari dan adanya benda tajam atau duri yang menggesek digester secara tidak sengaja.

Menurut dia, kendala utama adalah adanya potensi kebocoran itu. Karena biogas adalah energi yang prosesnya melalui fermentasi, maka saat fermentasi ada bakteri aerobik yang tidak boleh ada udara bebas masuk. “Jadi, kalau bocor, prosesnya bisa gagal sehingga tidak dapat menghasilkan biogas. Dulu waktu masih pakai plastik, plastiknya sempat jebol,” ungkapnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – YULI Hananto tengah sibuk menjelaskan rencana pembangunan digester atau reaktor yang digunakan untuk proses fermentasi kotoran sapi agar menjadi biogas. Koordinator Jurusan Energi Terbarukan Politeknik Negeri Jember (Polije) ini harus merancang konsep pembangunan digester yang ukurannya lebih besar dari digester yang ada. Sebab, seiring bertambahnya jumlah sapi perah di peternakan milik Polije itu, otomatis akan menambah jumlah produksi biogas, sehingga perlu reaktor yang lebih besar.

ENERGI ALTERNATIF: Sapi-sapi di sentra ini tak hanya diambil daging, susu, dan kulitnya. Namun, kotorannya juga dimanfaatkan menjadi biogas sebagai pengganti elpiji.

Sekitar sepuluh tahun lamanya kampus Politeknik Negeri Jember (Polije) mulai memanfaatkan biogas untuk mengolah makanan. Awalnya, energi yang berasal dari kotoran sapi itu hanya digunakan untuk memasak kopi agar dikonsumsi oleh para penjaga atau pengelola sapi di belakang kampus. Itu pun produksinya sangat sedikit. Justru, kotoran sapi melimpah yang dihasilkan dari peternakan itu lebih banyak dimanfaatkan untuk pupuk saja. Namun, seiring berjalannya waktu dan munculnya Jurusan Teknik Energi Terbarukan, produksi biogas pun dilakukan secara lebih konsisten.

“Sekitar tahun 2010 sudah mulai membangun reaktor. Pada waktu itu yang membangun bukan Teknik Energi Terbarukan, tapi dari Jurusan Peternakan. Jadi, waktu itu digunakan lebih kepada praktik pembuatan pupuk,” tuturnya.

Yuli menjelaskan, pembuatan biogas memakan waktu kurang lebih satu bulan lamanya. Untuk memulainya, kotoran sapi dicampur dengan air dengan perbandingan 2:3. Kemudian, setelah semua bercampur rata, kotoran tersebut dipindahkan dalam digester dan disimpan atau melalui proses fermentasi selama satu bulan. Di sinilah energi tersebut menjadi gas yang digunakan untuk memanaskan susu sapi. “Gas tersebut bisa kami gunakan dalam waktu satu bulan,” katanya.

Meski terdengar cukup mudah, namun perjalanan pembuatan biogas itu juga sempat mengalami kendala. Sebab, digester yang digunakan dulunya terbuat dari bahan plastik. Saat proses fermentasi, Yuli mengatakan, plastik yang dia gunakan bocor hingga akhirnya gagal memanen biogas. Menurut dia, kebocoran tersebut diduga akibat cahaya matahari dan adanya benda tajam atau duri yang menggesek digester secara tidak sengaja.

Menurut dia, kendala utama adalah adanya potensi kebocoran itu. Karena biogas adalah energi yang prosesnya melalui fermentasi, maka saat fermentasi ada bakteri aerobik yang tidak boleh ada udara bebas masuk. “Jadi, kalau bocor, prosesnya bisa gagal sehingga tidak dapat menghasilkan biogas. Dulu waktu masih pakai plastik, plastiknya sempat jebol,” ungkapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/