alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Cuaca Tak Menentu, Petani Tembakau Sudah Ada yang Gadai Sawah

Tembakau merupakan jenis tanaman yang rentan terkena air hujan. Saat ini, petani sudah banyak yang menanam tembakau. Namun, intensitas hujan masih cukup tinggi. Apabila hal ini terus terjadi, perlu antisipasi dini agar tidak merugi.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat petani tembakau harus mengeluarkan biaya ekstra. Kemarau yang diprediksi berakhir pada awal Mei ternyata sebaliknya. Intensitas hujan masih terus tinggi sehingga petani tembakau terancam merugi.

BACA JUGA : Perjuangkan Harga Cerutu Tetap Stabil

Petani Tembakau asal Janggawah Nur Wahyono mengatakan, pada bulan April, petani tembakau sudah mulai menanam. Menurut dia prediksi curah hujan akan menurun dan masuk bulan Mei tembakau sudah mulai besar dan kemarau. “Tapi saat ini tidak sesuai prediksi, sehingga banyak membuat petani tembakau kalang kabut dan terancam rugi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wahyono saat itu bersama temannya. Melakukan perawatan tembakau di ladang miliknya, di Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Janggawah, dia mengaku, sesama petani tembakau hanya bisa berusaha agar tembakau selamat. Soal untung urusan belakangan. “Pokok tembakau kami selamat dan modal bertani kembali, itu sudah cukup,” terangnya, saat berteduh di gubuk tengah ladangnya.

Pria paro baya itu mengaku, petani tembakau saat ini benar-benar bertaruh dengan musim. Bahkan, ada yang sampai menanam 3 sampa 4 kali lantaran setelah menanam tembakau mati terkena hujan.

Cuaca yang tidak menentu ini, lanjut Wahyono, bukan hanya merusak tembakau saja, melainkan memperlambat pertumbuhannya. Untuk itu, tembakau yang seharusnya sudah waktunya dipupuk, harus ditunda terlebih dahulu karena hujan. “Kalau setiap hari hujan bisa sampai mati tembakaunya,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat petani tembakau harus mengeluarkan biaya ekstra. Kemarau yang diprediksi berakhir pada awal Mei ternyata sebaliknya. Intensitas hujan masih terus tinggi sehingga petani tembakau terancam merugi.

BACA JUGA : Perjuangkan Harga Cerutu Tetap Stabil

Petani Tembakau asal Janggawah Nur Wahyono mengatakan, pada bulan April, petani tembakau sudah mulai menanam. Menurut dia prediksi curah hujan akan menurun dan masuk bulan Mei tembakau sudah mulai besar dan kemarau. “Tapi saat ini tidak sesuai prediksi, sehingga banyak membuat petani tembakau kalang kabut dan terancam rugi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Wahyono saat itu bersama temannya. Melakukan perawatan tembakau di ladang miliknya, di Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Janggawah, dia mengaku, sesama petani tembakau hanya bisa berusaha agar tembakau selamat. Soal untung urusan belakangan. “Pokok tembakau kami selamat dan modal bertani kembali, itu sudah cukup,” terangnya, saat berteduh di gubuk tengah ladangnya.

Pria paro baya itu mengaku, petani tembakau saat ini benar-benar bertaruh dengan musim. Bahkan, ada yang sampai menanam 3 sampa 4 kali lantaran setelah menanam tembakau mati terkena hujan.

Cuaca yang tidak menentu ini, lanjut Wahyono, bukan hanya merusak tembakau saja, melainkan memperlambat pertumbuhannya. Untuk itu, tembakau yang seharusnya sudah waktunya dipupuk, harus ditunda terlebih dahulu karena hujan. “Kalau setiap hari hujan bisa sampai mati tembakaunya,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat petani tembakau harus mengeluarkan biaya ekstra. Kemarau yang diprediksi berakhir pada awal Mei ternyata sebaliknya. Intensitas hujan masih terus tinggi sehingga petani tembakau terancam merugi.

BACA JUGA : Perjuangkan Harga Cerutu Tetap Stabil

Petani Tembakau asal Janggawah Nur Wahyono mengatakan, pada bulan April, petani tembakau sudah mulai menanam. Menurut dia prediksi curah hujan akan menurun dan masuk bulan Mei tembakau sudah mulai besar dan kemarau. “Tapi saat ini tidak sesuai prediksi, sehingga banyak membuat petani tembakau kalang kabut dan terancam rugi,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Wahyono saat itu bersama temannya. Melakukan perawatan tembakau di ladang miliknya, di Dusun Pondok Lalang, Desa Wonojati, Kecamatan Janggawah, dia mengaku, sesama petani tembakau hanya bisa berusaha agar tembakau selamat. Soal untung urusan belakangan. “Pokok tembakau kami selamat dan modal bertani kembali, itu sudah cukup,” terangnya, saat berteduh di gubuk tengah ladangnya.

Pria paro baya itu mengaku, petani tembakau saat ini benar-benar bertaruh dengan musim. Bahkan, ada yang sampai menanam 3 sampa 4 kali lantaran setelah menanam tembakau mati terkena hujan.

Cuaca yang tidak menentu ini, lanjut Wahyono, bukan hanya merusak tembakau saja, melainkan memperlambat pertumbuhannya. Untuk itu, tembakau yang seharusnya sudah waktunya dipupuk, harus ditunda terlebih dahulu karena hujan. “Kalau setiap hari hujan bisa sampai mati tembakaunya,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/