alexametrics
29.6 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Cuaca Tak Menentu Ancam Pertanian

Banyak petani di Jember yang saat ini mulai menanam tembakau. Namun, cuaca yang biasanya sudah memasuki musim panas, ternyata intensitas hujannya masih cukup massif. Kondisi ini tentu saja mengancam tanaman menjadi kerdil. Di sisi lainnya, saat panen tiba terkadang harganya juga ikut rusak.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani yang mulai menanam tembakau. Seperti biasa, petani sudah berancang-ancang menanamnya saat masuk bulan Mei dan Juni. Berharap agar tembakau tumbuh pada musim kemarau. Namun demikian, kalender musim yang sempat mudah diprediksi, rupanya tidak seakurat masa sekarang. Curah hujan masih cukup tinggi dan itu mengancam petani tembakau.

BACA JUGA : Pengambilan Api Porprov di Kawah Ijen Sempat Terkendala Hujan

Akibatnya, petani yang kini sudah menanam tembakau hanya bisa pasrah dan terus berusaha merawat tembakau. Berharap agar tanaman tumbuh subur, tidak kerdil, dan saat panen nanti, harga tembakau bagus. Bisa balik modal da nada keuntungan signifikan nantinya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di tengah situasi seperti ini, perhatian pemerintah menjadi penting karena bagaimana pun, petani memerlukan perhatian untuk mengatasinya. Bagaimana tanaman yang sudah kadung ditanam tumbuh baik dan produksi tembakau tetap unggul. Apalagi, Jember populer dengan hasil tembakaunya.

Menurut Abdul Karim, petani tembakau asal Kecamatan Sukowono menyampaikan rasa khawatir ketika tanaman terus-menerus diguyur hujan. Dia mengira, musim kemarau akan jatuh tempo di bulan yang sama seperti tahun lalu. “Ini hujannya belum kelar-kelar, kami takut terus-terusan begini. Takut tembakaunya rusak dan murah,” katanya.

Dia menjelaskan, normalnya masa tanam tembakau memakan waktu selama empat bulan. Mulai dari pemindahan bibit, pemupukan, dan pemotongan dahan. Awal tanam, tanaman tembakau sudah ada yang diserang hama dan penyakit. Seperti ulat daun, ulat pucuk, dan ulat tanah. “Untuk membasmi itu, di awal tanam, saya sudah semprot dengan obat,” terang pria tiga anak tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani yang mulai menanam tembakau. Seperti biasa, petani sudah berancang-ancang menanamnya saat masuk bulan Mei dan Juni. Berharap agar tembakau tumbuh pada musim kemarau. Namun demikian, kalender musim yang sempat mudah diprediksi, rupanya tidak seakurat masa sekarang. Curah hujan masih cukup tinggi dan itu mengancam petani tembakau.

BACA JUGA : Pengambilan Api Porprov di Kawah Ijen Sempat Terkendala Hujan

Akibatnya, petani yang kini sudah menanam tembakau hanya bisa pasrah dan terus berusaha merawat tembakau. Berharap agar tanaman tumbuh subur, tidak kerdil, dan saat panen nanti, harga tembakau bagus. Bisa balik modal da nada keuntungan signifikan nantinya.

Di tengah situasi seperti ini, perhatian pemerintah menjadi penting karena bagaimana pun, petani memerlukan perhatian untuk mengatasinya. Bagaimana tanaman yang sudah kadung ditanam tumbuh baik dan produksi tembakau tetap unggul. Apalagi, Jember populer dengan hasil tembakaunya.

Menurut Abdul Karim, petani tembakau asal Kecamatan Sukowono menyampaikan rasa khawatir ketika tanaman terus-menerus diguyur hujan. Dia mengira, musim kemarau akan jatuh tempo di bulan yang sama seperti tahun lalu. “Ini hujannya belum kelar-kelar, kami takut terus-terusan begini. Takut tembakaunya rusak dan murah,” katanya.

Dia menjelaskan, normalnya masa tanam tembakau memakan waktu selama empat bulan. Mulai dari pemindahan bibit, pemupukan, dan pemotongan dahan. Awal tanam, tanaman tembakau sudah ada yang diserang hama dan penyakit. Seperti ulat daun, ulat pucuk, dan ulat tanah. “Untuk membasmi itu, di awal tanam, saya sudah semprot dengan obat,” terang pria tiga anak tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Beberapa pekan terakhir, banyak petani yang mulai menanam tembakau. Seperti biasa, petani sudah berancang-ancang menanamnya saat masuk bulan Mei dan Juni. Berharap agar tembakau tumbuh pada musim kemarau. Namun demikian, kalender musim yang sempat mudah diprediksi, rupanya tidak seakurat masa sekarang. Curah hujan masih cukup tinggi dan itu mengancam petani tembakau.

BACA JUGA : Pengambilan Api Porprov di Kawah Ijen Sempat Terkendala Hujan

Akibatnya, petani yang kini sudah menanam tembakau hanya bisa pasrah dan terus berusaha merawat tembakau. Berharap agar tanaman tumbuh subur, tidak kerdil, dan saat panen nanti, harga tembakau bagus. Bisa balik modal da nada keuntungan signifikan nantinya.

Di tengah situasi seperti ini, perhatian pemerintah menjadi penting karena bagaimana pun, petani memerlukan perhatian untuk mengatasinya. Bagaimana tanaman yang sudah kadung ditanam tumbuh baik dan produksi tembakau tetap unggul. Apalagi, Jember populer dengan hasil tembakaunya.

Menurut Abdul Karim, petani tembakau asal Kecamatan Sukowono menyampaikan rasa khawatir ketika tanaman terus-menerus diguyur hujan. Dia mengira, musim kemarau akan jatuh tempo di bulan yang sama seperti tahun lalu. “Ini hujannya belum kelar-kelar, kami takut terus-terusan begini. Takut tembakaunya rusak dan murah,” katanya.

Dia menjelaskan, normalnya masa tanam tembakau memakan waktu selama empat bulan. Mulai dari pemindahan bibit, pemupukan, dan pemotongan dahan. Awal tanam, tanaman tembakau sudah ada yang diserang hama dan penyakit. Seperti ulat daun, ulat pucuk, dan ulat tanah. “Untuk membasmi itu, di awal tanam, saya sudah semprot dengan obat,” terang pria tiga anak tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/