alexametrics
24.8 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Kesuburan Lahan Pertanian Semakin Kritis

Jember Harus Swasembada Pupuk Organik

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata pencarian mayoritas penduduk di Kabupaten Jember masih di bidang pertanian. Ketergantungan terhadap lahan yang subur pun cukup besar. Agar lahan pertanian itu tetap terjaga dengan baik, maka pemerintah harus terus memberikan perhatian. Jika tidak, bakal banyak lahan produktif yang kondisinya semakin kritis.

Salah satu lahan pertanian dengan tingkat kesuburan yang menurun ditemukan di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Di sana, sebagian lahan atau tanah yang dipakai untuk budi daya tanaman hortikultura berada di bawah standar C organik.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (Unej) Prof Soetriono mengatakan, temuan C organik di bawah standar itu diketahui berdasar hasil penelitian. Menurutnya, lahan yang dipakai untuk menanam tomat, persentasenya hanya sekitar 2 persen dari yang seharusnya 4-5 persen unsur C organiknya. “Kami tanam tomat di lahan tersebut. Sebelumnya, tanah diambil terlebih dahulu untuk diteliti di laboratorium,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah mengetahui unsur C organik sekitar 2 persen, lahan itu pun tetap ditanami tomat dengan melakukan pemilahan. Lahan pertama ditanami tomat tanpa ada perawatan, sedangkan lahan kedua ditanami tomat dengan diberi pupuk organik.

Hasilnya, lahan yang ditanami tomat dengan perawatan dan pemberian pupuk organik bisa menghasilkan buah dan panen. Sebaliknya, tanaman tomat yang tidak dirawat dan tidak diberi pupuk organik belum berbuah. “Tidak diapa-apakan. Tidak diberi pupuk dan tidak disemprot juga. Sampai sekarang belum berbuah,” ungkapnya.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan, lahan dengan kondisi C organik di bawah standar itu masih bisa diobati. Salah satu caranya dengan memberi pupuk organik. Sehingga, C organiknya bisa dinaikkan secara perlahan. Akan tetapi, jika dibiarkan, lahan bisa semakin rusak dan di lahan C organik yang rendah berpengaruh pada kesuburan tanah. Tumbuh kembang tanamannya pun terhambat.

Soetrisno menyampaikan, penyebab C organik turun terjadi akibat pengolahan tanah yang tidak bagus. Semisal pakai pupuk anorganik terus-menerus, tanah akan mengalami kejenuhan. “Lama-kelamaan tanah akan sakit,” ucapnya.

Pengaruh lain yang membuat C organik turun, kata dia, juga dimungkinkan akibat kebiasaan petani dalam merawat tanah yang buruk. Dia mencontohkan, kebiasaan membakar jerami di sawah setelah panen bisa mematikan organisme baik yang ada di tanah.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengatakan, penggunaan pupuk anorganik memang harus dibatasi. Jika lahan pertanian terus-menerus diberi pupuk anorganik, maka akan mengalami kejenuhan dan rusak. “Itu karena pupuk anorganik mengandung bahan kimia,” katanya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata pencarian mayoritas penduduk di Kabupaten Jember masih di bidang pertanian. Ketergantungan terhadap lahan yang subur pun cukup besar. Agar lahan pertanian itu tetap terjaga dengan baik, maka pemerintah harus terus memberikan perhatian. Jika tidak, bakal banyak lahan produktif yang kondisinya semakin kritis.

Salah satu lahan pertanian dengan tingkat kesuburan yang menurun ditemukan di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Di sana, sebagian lahan atau tanah yang dipakai untuk budi daya tanaman hortikultura berada di bawah standar C organik.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (Unej) Prof Soetriono mengatakan, temuan C organik di bawah standar itu diketahui berdasar hasil penelitian. Menurutnya, lahan yang dipakai untuk menanam tomat, persentasenya hanya sekitar 2 persen dari yang seharusnya 4-5 persen unsur C organiknya. “Kami tanam tomat di lahan tersebut. Sebelumnya, tanah diambil terlebih dahulu untuk diteliti di laboratorium,” katanya.

Setelah mengetahui unsur C organik sekitar 2 persen, lahan itu pun tetap ditanami tomat dengan melakukan pemilahan. Lahan pertama ditanami tomat tanpa ada perawatan, sedangkan lahan kedua ditanami tomat dengan diberi pupuk organik.

Hasilnya, lahan yang ditanami tomat dengan perawatan dan pemberian pupuk organik bisa menghasilkan buah dan panen. Sebaliknya, tanaman tomat yang tidak dirawat dan tidak diberi pupuk organik belum berbuah. “Tidak diapa-apakan. Tidak diberi pupuk dan tidak disemprot juga. Sampai sekarang belum berbuah,” ungkapnya.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan, lahan dengan kondisi C organik di bawah standar itu masih bisa diobati. Salah satu caranya dengan memberi pupuk organik. Sehingga, C organiknya bisa dinaikkan secara perlahan. Akan tetapi, jika dibiarkan, lahan bisa semakin rusak dan di lahan C organik yang rendah berpengaruh pada kesuburan tanah. Tumbuh kembang tanamannya pun terhambat.

Soetrisno menyampaikan, penyebab C organik turun terjadi akibat pengolahan tanah yang tidak bagus. Semisal pakai pupuk anorganik terus-menerus, tanah akan mengalami kejenuhan. “Lama-kelamaan tanah akan sakit,” ucapnya.

Pengaruh lain yang membuat C organik turun, kata dia, juga dimungkinkan akibat kebiasaan petani dalam merawat tanah yang buruk. Dia mencontohkan, kebiasaan membakar jerami di sawah setelah panen bisa mematikan organisme baik yang ada di tanah.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengatakan, penggunaan pupuk anorganik memang harus dibatasi. Jika lahan pertanian terus-menerus diberi pupuk anorganik, maka akan mengalami kejenuhan dan rusak. “Itu karena pupuk anorganik mengandung bahan kimia,” katanya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mata pencarian mayoritas penduduk di Kabupaten Jember masih di bidang pertanian. Ketergantungan terhadap lahan yang subur pun cukup besar. Agar lahan pertanian itu tetap terjaga dengan baik, maka pemerintah harus terus memberikan perhatian. Jika tidak, bakal banyak lahan produktif yang kondisinya semakin kritis.

Salah satu lahan pertanian dengan tingkat kesuburan yang menurun ditemukan di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Di sana, sebagian lahan atau tanah yang dipakai untuk budi daya tanaman hortikultura berada di bawah standar C organik.

Dekan Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (Unej) Prof Soetriono mengatakan, temuan C organik di bawah standar itu diketahui berdasar hasil penelitian. Menurutnya, lahan yang dipakai untuk menanam tomat, persentasenya hanya sekitar 2 persen dari yang seharusnya 4-5 persen unsur C organiknya. “Kami tanam tomat di lahan tersebut. Sebelumnya, tanah diambil terlebih dahulu untuk diteliti di laboratorium,” katanya.

Setelah mengetahui unsur C organik sekitar 2 persen, lahan itu pun tetap ditanami tomat dengan melakukan pemilahan. Lahan pertama ditanami tomat tanpa ada perawatan, sedangkan lahan kedua ditanami tomat dengan diberi pupuk organik.

Hasilnya, lahan yang ditanami tomat dengan perawatan dan pemberian pupuk organik bisa menghasilkan buah dan panen. Sebaliknya, tanaman tomat yang tidak dirawat dan tidak diberi pupuk organik belum berbuah. “Tidak diapa-apakan. Tidak diberi pupuk dan tidak disemprot juga. Sampai sekarang belum berbuah,” ungkapnya.

Hasil dari penelitian itu menunjukkan, lahan dengan kondisi C organik di bawah standar itu masih bisa diobati. Salah satu caranya dengan memberi pupuk organik. Sehingga, C organiknya bisa dinaikkan secara perlahan. Akan tetapi, jika dibiarkan, lahan bisa semakin rusak dan di lahan C organik yang rendah berpengaruh pada kesuburan tanah. Tumbuh kembang tanamannya pun terhambat.

Soetrisno menyampaikan, penyebab C organik turun terjadi akibat pengolahan tanah yang tidak bagus. Semisal pakai pupuk anorganik terus-menerus, tanah akan mengalami kejenuhan. “Lama-kelamaan tanah akan sakit,” ucapnya.

Pengaruh lain yang membuat C organik turun, kata dia, juga dimungkinkan akibat kebiasaan petani dalam merawat tanah yang buruk. Dia mencontohkan, kebiasaan membakar jerami di sawah setelah panen bisa mematikan organisme baik yang ada di tanah.

Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengatakan, penggunaan pupuk anorganik memang harus dibatasi. Jika lahan pertanian terus-menerus diberi pupuk anorganik, maka akan mengalami kejenuhan dan rusak. “Itu karena pupuk anorganik mengandung bahan kimia,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/