alexametrics
23 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Pelanggar IPAL Bisa Ditindak

DLH Bakal Evaluasi Keberadaan Tambak

Mobile_AP_Rectangle 1

Menurut dia, Perda RTRW Jember itu sudah cukup kuat untuk memberikan perlindungan terhadap kawasan sempadan pantai. Sebab, sekalipun ada pemanfaatan, muaranya tetap pada pelestarian ekosistem dan konservasi. “Di situ arahnya sudah jelas, kawasan sempadan pantai seharusnya tidak boleh ada aktivitas eksploitasi, mengubah topografi, apalagi sampai memunculkan kerusakan,” katanya.

Ia menilai, semua aktivitas di sempadan pantai, pabrik, atau perusahaan, baik ilegal maupun legal, hal itu jelas menabrak amanat Perda RTRW. “Mau legal ataupun ilegal, kami tetap tidak sepakat. Itu mengubah topografi dan perampasan ruang hidup ekosistem darat dan laut,” jelasnya.

Tak heran jika keberadaan pabrik atau perusahaan tambak di sekitar JLS kerap mendapat sorotan. “Jadi, sebelum jauh ngomong soal limbah, keberadaan mereka (tambak, Red) itu sudah menabrak sejak awal,” sambungnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ia menambahkan, selama ini pihaknya lebih sering melakukan pemantauan dan pendampingan kepada masyarakat setempat melalui organisasi kemitraannya. Seperti Kappala, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jember, dan Pokmaswas Kepanjen.

Gabungan organisasi dan masyarakat ini rutin melakukan kajian terhadap ekosistem darat dan pantai sekitar JLS. Sebab, dalam beberapa catatan, nelayan setempat kerap mendapati aktivitas penyu belimbing dan penyu hijau yang langka. Penyu-penyu itu meletakkan telur saat musim kawin di sempadan pantai tersebut. “Bulan lima sampai bulan delapan, kami coba lakukan penelitian aktivitas penyu ini,” lanjutnya.

Menurut Wahid, aktivitas tambak memang mendatangkan keuntungan ekonomi. Namun itu sesaat, dan menjadi cerita awal dari kerusakan ekologi yang berkelanjutan atau panjang. “Seharusnya yang perlu dikembangkan wisata ekologis dan konservasi ini. Jadi, kita bicara pengembangan sektor ekonomi tanpa merusak lingkungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

- Advertisement -

Menurut dia, Perda RTRW Jember itu sudah cukup kuat untuk memberikan perlindungan terhadap kawasan sempadan pantai. Sebab, sekalipun ada pemanfaatan, muaranya tetap pada pelestarian ekosistem dan konservasi. “Di situ arahnya sudah jelas, kawasan sempadan pantai seharusnya tidak boleh ada aktivitas eksploitasi, mengubah topografi, apalagi sampai memunculkan kerusakan,” katanya.

Ia menilai, semua aktivitas di sempadan pantai, pabrik, atau perusahaan, baik ilegal maupun legal, hal itu jelas menabrak amanat Perda RTRW. “Mau legal ataupun ilegal, kami tetap tidak sepakat. Itu mengubah topografi dan perampasan ruang hidup ekosistem darat dan laut,” jelasnya.

Tak heran jika keberadaan pabrik atau perusahaan tambak di sekitar JLS kerap mendapat sorotan. “Jadi, sebelum jauh ngomong soal limbah, keberadaan mereka (tambak, Red) itu sudah menabrak sejak awal,” sambungnya.

Ia menambahkan, selama ini pihaknya lebih sering melakukan pemantauan dan pendampingan kepada masyarakat setempat melalui organisasi kemitraannya. Seperti Kappala, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jember, dan Pokmaswas Kepanjen.

Gabungan organisasi dan masyarakat ini rutin melakukan kajian terhadap ekosistem darat dan pantai sekitar JLS. Sebab, dalam beberapa catatan, nelayan setempat kerap mendapati aktivitas penyu belimbing dan penyu hijau yang langka. Penyu-penyu itu meletakkan telur saat musim kawin di sempadan pantai tersebut. “Bulan lima sampai bulan delapan, kami coba lakukan penelitian aktivitas penyu ini,” lanjutnya.

Menurut Wahid, aktivitas tambak memang mendatangkan keuntungan ekonomi. Namun itu sesaat, dan menjadi cerita awal dari kerusakan ekologi yang berkelanjutan atau panjang. “Seharusnya yang perlu dikembangkan wisata ekologis dan konservasi ini. Jadi, kita bicara pengembangan sektor ekonomi tanpa merusak lingkungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

Menurut dia, Perda RTRW Jember itu sudah cukup kuat untuk memberikan perlindungan terhadap kawasan sempadan pantai. Sebab, sekalipun ada pemanfaatan, muaranya tetap pada pelestarian ekosistem dan konservasi. “Di situ arahnya sudah jelas, kawasan sempadan pantai seharusnya tidak boleh ada aktivitas eksploitasi, mengubah topografi, apalagi sampai memunculkan kerusakan,” katanya.

Ia menilai, semua aktivitas di sempadan pantai, pabrik, atau perusahaan, baik ilegal maupun legal, hal itu jelas menabrak amanat Perda RTRW. “Mau legal ataupun ilegal, kami tetap tidak sepakat. Itu mengubah topografi dan perampasan ruang hidup ekosistem darat dan laut,” jelasnya.

Tak heran jika keberadaan pabrik atau perusahaan tambak di sekitar JLS kerap mendapat sorotan. “Jadi, sebelum jauh ngomong soal limbah, keberadaan mereka (tambak, Red) itu sudah menabrak sejak awal,” sambungnya.

Ia menambahkan, selama ini pihaknya lebih sering melakukan pemantauan dan pendampingan kepada masyarakat setempat melalui organisasi kemitraannya. Seperti Kappala, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Jember, dan Pokmaswas Kepanjen.

Gabungan organisasi dan masyarakat ini rutin melakukan kajian terhadap ekosistem darat dan pantai sekitar JLS. Sebab, dalam beberapa catatan, nelayan setempat kerap mendapati aktivitas penyu belimbing dan penyu hijau yang langka. Penyu-penyu itu meletakkan telur saat musim kawin di sempadan pantai tersebut. “Bulan lima sampai bulan delapan, kami coba lakukan penelitian aktivitas penyu ini,” lanjutnya.

Menurut Wahid, aktivitas tambak memang mendatangkan keuntungan ekonomi. Namun itu sesaat, dan menjadi cerita awal dari kerusakan ekologi yang berkelanjutan atau panjang. “Seharusnya yang perlu dikembangkan wisata ekologis dan konservasi ini. Jadi, kita bicara pengembangan sektor ekonomi tanpa merusak lingkungan,” pungkasnya.

 

 

 

Jurnalis : Maulana
Fotografer : Maulana
Redaktur : Mahrus Sholih

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/