alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Program Pemkab Jember Satu ini Memberikan Dampak Positif kepada Petani

Harga Gabah Bertengger di Atas HPP

Mobile_AP_Rectangle 1

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Para petani yang memasuki masa panen padi pada pertengahan September ini bisa semringah. Pasalnya, program pembelian 1.000 ton beras oleh Pemkab Jember kepada petani melalui kelompok-kelompok tani memberi dampak positif. Yaitu harga gabah kering panen (GKP) atau dikenal gabah kering sawah (GKS) sedang bertengger di atas harga pembelian pemerintah (HPP).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, GKP di tingkat petani bulan yang lalu tidak jauh dari kisaran HPP yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp 4.200 per kilogram. Bahkan, harga GKP sebelumnya jauh di bawah HPP dan sempat anjlok, menyentuh angka Rp 3.700 per kilogram. Seiring berjalannya waktu, program pembelian beras pemkab membuat harga GKP merangkak naik, hingga mencapai Rp 4.700 per kilogram, kemarin (17/9).

Anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengakui melambungnya harga GKP tersebut. Hal itu merupakan dampak positif di balik program Bupati Jember Hendy Siswanto. Menurutnya, kehadiran pemkab untuk membeli beras petani melalui kelompok-kelompok tani membuat GKP terkatrol. “Kondisi ini sangat bagus. Sebab, harga gabah di tingkat petani yang awalnya di bawah HPP bisa melejit. Bayangkan saja, dari Rp 3.700 bisa sampai Rp 4.700 per kilogram,” kata Nyoman.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain memperbaiki harga GKP, Nyoman menyebut, apabila harga gabah terus bertengger di atas HPP, maka ke depan petani bisa saja tidak bergantung pada pupuk subsidi. “Seperti KTNA, melakukan program agrobisnis dengan pupuk nonsubsidi. Hasilnya juga banyak. Ini menjadi efek berantai dan petani bisa lebih mandiri,” paparnya.

Dia menambahkan, jika harga GKP stagnan di angka Rp 4.700 atau lebih mahal Rp 500 rupiah dari HPP yang ditetapkan pemerintah, maka petani bisa lebih fokus pada urusan tanaman. “Dengan begitu, petani tidak akan demo-demo. Kalau harganya tinggi, petani juga bisa lepas dari pupuk subsidi,” ulasnya.

- Advertisement -

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Para petani yang memasuki masa panen padi pada pertengahan September ini bisa semringah. Pasalnya, program pembelian 1.000 ton beras oleh Pemkab Jember kepada petani melalui kelompok-kelompok tani memberi dampak positif. Yaitu harga gabah kering panen (GKP) atau dikenal gabah kering sawah (GKS) sedang bertengger di atas harga pembelian pemerintah (HPP).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, GKP di tingkat petani bulan yang lalu tidak jauh dari kisaran HPP yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp 4.200 per kilogram. Bahkan, harga GKP sebelumnya jauh di bawah HPP dan sempat anjlok, menyentuh angka Rp 3.700 per kilogram. Seiring berjalannya waktu, program pembelian beras pemkab membuat harga GKP merangkak naik, hingga mencapai Rp 4.700 per kilogram, kemarin (17/9).

Anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengakui melambungnya harga GKP tersebut. Hal itu merupakan dampak positif di balik program Bupati Jember Hendy Siswanto. Menurutnya, kehadiran pemkab untuk membeli beras petani melalui kelompok-kelompok tani membuat GKP terkatrol. “Kondisi ini sangat bagus. Sebab, harga gabah di tingkat petani yang awalnya di bawah HPP bisa melejit. Bayangkan saja, dari Rp 3.700 bisa sampai Rp 4.700 per kilogram,” kata Nyoman.

Selain memperbaiki harga GKP, Nyoman menyebut, apabila harga gabah terus bertengger di atas HPP, maka ke depan petani bisa saja tidak bergantung pada pupuk subsidi. “Seperti KTNA, melakukan program agrobisnis dengan pupuk nonsubsidi. Hasilnya juga banyak. Ini menjadi efek berantai dan petani bisa lebih mandiri,” paparnya.

Dia menambahkan, jika harga GKP stagnan di angka Rp 4.700 atau lebih mahal Rp 500 rupiah dari HPP yang ditetapkan pemerintah, maka petani bisa lebih fokus pada urusan tanaman. “Dengan begitu, petani tidak akan demo-demo. Kalau harganya tinggi, petani juga bisa lepas dari pupuk subsidi,” ulasnya.

SUMBERSARI, RADARJEMBER.ID – Para petani yang memasuki masa panen padi pada pertengahan September ini bisa semringah. Pasalnya, program pembelian 1.000 ton beras oleh Pemkab Jember kepada petani melalui kelompok-kelompok tani memberi dampak positif. Yaitu harga gabah kering panen (GKP) atau dikenal gabah kering sawah (GKS) sedang bertengger di atas harga pembelian pemerintah (HPP).

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember, GKP di tingkat petani bulan yang lalu tidak jauh dari kisaran HPP yang ditetapkan pemerintah pusat sebesar Rp 4.200 per kilogram. Bahkan, harga GKP sebelumnya jauh di bawah HPP dan sempat anjlok, menyentuh angka Rp 3.700 per kilogram. Seiring berjalannya waktu, program pembelian beras pemkab membuat harga GKP merangkak naik, hingga mencapai Rp 4.700 per kilogram, kemarin (17/9).

Anggota Komisi B DPRD Jember Nyoman Aribowo mengakui melambungnya harga GKP tersebut. Hal itu merupakan dampak positif di balik program Bupati Jember Hendy Siswanto. Menurutnya, kehadiran pemkab untuk membeli beras petani melalui kelompok-kelompok tani membuat GKP terkatrol. “Kondisi ini sangat bagus. Sebab, harga gabah di tingkat petani yang awalnya di bawah HPP bisa melejit. Bayangkan saja, dari Rp 3.700 bisa sampai Rp 4.700 per kilogram,” kata Nyoman.

Selain memperbaiki harga GKP, Nyoman menyebut, apabila harga gabah terus bertengger di atas HPP, maka ke depan petani bisa saja tidak bergantung pada pupuk subsidi. “Seperti KTNA, melakukan program agrobisnis dengan pupuk nonsubsidi. Hasilnya juga banyak. Ini menjadi efek berantai dan petani bisa lebih mandiri,” paparnya.

Dia menambahkan, jika harga GKP stagnan di angka Rp 4.700 atau lebih mahal Rp 500 rupiah dari HPP yang ditetapkan pemerintah, maka petani bisa lebih fokus pada urusan tanaman. “Dengan begitu, petani tidak akan demo-demo. Kalau harganya tinggi, petani juga bisa lepas dari pupuk subsidi,” ulasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/