alexametrics
30.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Limbah Tambak Berpotensi Cemari Laut

Ditengarai, Tak Semua Perusahaan Miliki IPAL

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan sejumlah tambak udang di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, menuai sorotan dari warga setempat. Sebab, warga kerap mendapati aktivitas tambak yang serampangan membuang limbah langsung ke pantai selatan. Warga menduga, pengelola tambak tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah atau IPAL.

Kondisi ini praktis memantik kegelisahan warga. Mereka menilai, limbah tambak yang dibuang tanpa melalui proses daur ulang terlebih dahulu itu mengganggu ekosistem sempadan pantai dan aktivitas melaut nelayan setempat. Bahkan, limbah itu juga mengancam pencemaran laut. “Sempadan pantai semakin terkikis. Itu juga menyulitkan nelayan untuk memarkir perahu,” ujar Sukat, Ketua RT di Dusun Jeni, Kepanjen.

Selain karena tidak memiliki IPAL, lanjut dia, operasional tambak selama ini juga tidak melibatkan warga setempat untuk dijadikan karyawan. “Pekerjanya banyak dari warga luar Kepanjen. Kalaupun ada warga setempat, satu dua orang saja,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengenai ketiadaan IPAL tersebut, Sekretaris Forum Nelayan Jember Setyo Ramires turut menyuarakan. Menurut dia, selama ini masyarakat banyak gelisah karena marak dibangun tambak. Mulai dari Kepanjen, Gumukmas, hingga ke barat Dusun Panggul Melati. Namun, timbal balik dari perusahaan tambak ke masyarakat sangat kecil.

Contohnya, dia mengungkapkan, seperti ketenagakerjaan yang tidak melibatkan warga, lalu tidak memiliki IPAL, sampai tidak adanya corporate sosial responsibility (CSR). “Harapan kami, minimal limbah itu bisa dikelola dengan baik, sehingga tidak mencemari laut hingga memakan sempadan pantai sekitar sini,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke salah satu tempat pengelolaan tambak di sekitar dusun tersebut, kemarin (17/3), menunjukkan, pihak tambak memang belum mengelola limbah secara baik. Bahkan ditengarai, ada yang belum menggunakan IPAL. Hal itu terlihat di salah satu tempat bernama Tambak Widodo, yang diketahui baru bakal menguji coba pengoperasian IPAL.

Didik, salah satu pengelola di Tambak Widodo tersebut, menjelaskan, sebenarnya ia telah memiliki IPAL. Namun, untuk saat ini berfungsi sebagai tempat pengisian air ke tambak. “Saya sudah sediakan petakan untuk IPAL ini. Kami juga tahu, kalau limbah itu harus diolah dulu sebelum dibuang ke laut,” beber Didik, sambil menunjukkan IPAL miliknya kepada Jawa Pos Radar Jember.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan sejumlah tambak udang di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, menuai sorotan dari warga setempat. Sebab, warga kerap mendapati aktivitas tambak yang serampangan membuang limbah langsung ke pantai selatan. Warga menduga, pengelola tambak tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah atau IPAL.

Kondisi ini praktis memantik kegelisahan warga. Mereka menilai, limbah tambak yang dibuang tanpa melalui proses daur ulang terlebih dahulu itu mengganggu ekosistem sempadan pantai dan aktivitas melaut nelayan setempat. Bahkan, limbah itu juga mengancam pencemaran laut. “Sempadan pantai semakin terkikis. Itu juga menyulitkan nelayan untuk memarkir perahu,” ujar Sukat, Ketua RT di Dusun Jeni, Kepanjen.

Selain karena tidak memiliki IPAL, lanjut dia, operasional tambak selama ini juga tidak melibatkan warga setempat untuk dijadikan karyawan. “Pekerjanya banyak dari warga luar Kepanjen. Kalaupun ada warga setempat, satu dua orang saja,” imbuhnya.

Mengenai ketiadaan IPAL tersebut, Sekretaris Forum Nelayan Jember Setyo Ramires turut menyuarakan. Menurut dia, selama ini masyarakat banyak gelisah karena marak dibangun tambak. Mulai dari Kepanjen, Gumukmas, hingga ke barat Dusun Panggul Melati. Namun, timbal balik dari perusahaan tambak ke masyarakat sangat kecil.

Contohnya, dia mengungkapkan, seperti ketenagakerjaan yang tidak melibatkan warga, lalu tidak memiliki IPAL, sampai tidak adanya corporate sosial responsibility (CSR). “Harapan kami, minimal limbah itu bisa dikelola dengan baik, sehingga tidak mencemari laut hingga memakan sempadan pantai sekitar sini,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke salah satu tempat pengelolaan tambak di sekitar dusun tersebut, kemarin (17/3), menunjukkan, pihak tambak memang belum mengelola limbah secara baik. Bahkan ditengarai, ada yang belum menggunakan IPAL. Hal itu terlihat di salah satu tempat bernama Tambak Widodo, yang diketahui baru bakal menguji coba pengoperasian IPAL.

Didik, salah satu pengelola di Tambak Widodo tersebut, menjelaskan, sebenarnya ia telah memiliki IPAL. Namun, untuk saat ini berfungsi sebagai tempat pengisian air ke tambak. “Saya sudah sediakan petakan untuk IPAL ini. Kami juga tahu, kalau limbah itu harus diolah dulu sebelum dibuang ke laut,” beber Didik, sambil menunjukkan IPAL miliknya kepada Jawa Pos Radar Jember.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan sejumlah tambak udang di Dusun Jeni, Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, menuai sorotan dari warga setempat. Sebab, warga kerap mendapati aktivitas tambak yang serampangan membuang limbah langsung ke pantai selatan. Warga menduga, pengelola tambak tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah atau IPAL.

Kondisi ini praktis memantik kegelisahan warga. Mereka menilai, limbah tambak yang dibuang tanpa melalui proses daur ulang terlebih dahulu itu mengganggu ekosistem sempadan pantai dan aktivitas melaut nelayan setempat. Bahkan, limbah itu juga mengancam pencemaran laut. “Sempadan pantai semakin terkikis. Itu juga menyulitkan nelayan untuk memarkir perahu,” ujar Sukat, Ketua RT di Dusun Jeni, Kepanjen.

Selain karena tidak memiliki IPAL, lanjut dia, operasional tambak selama ini juga tidak melibatkan warga setempat untuk dijadikan karyawan. “Pekerjanya banyak dari warga luar Kepanjen. Kalaupun ada warga setempat, satu dua orang saja,” imbuhnya.

Mengenai ketiadaan IPAL tersebut, Sekretaris Forum Nelayan Jember Setyo Ramires turut menyuarakan. Menurut dia, selama ini masyarakat banyak gelisah karena marak dibangun tambak. Mulai dari Kepanjen, Gumukmas, hingga ke barat Dusun Panggul Melati. Namun, timbal balik dari perusahaan tambak ke masyarakat sangat kecil.

Contohnya, dia mengungkapkan, seperti ketenagakerjaan yang tidak melibatkan warga, lalu tidak memiliki IPAL, sampai tidak adanya corporate sosial responsibility (CSR). “Harapan kami, minimal limbah itu bisa dikelola dengan baik, sehingga tidak mencemari laut hingga memakan sempadan pantai sekitar sini,” jelasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember ke salah satu tempat pengelolaan tambak di sekitar dusun tersebut, kemarin (17/3), menunjukkan, pihak tambak memang belum mengelola limbah secara baik. Bahkan ditengarai, ada yang belum menggunakan IPAL. Hal itu terlihat di salah satu tempat bernama Tambak Widodo, yang diketahui baru bakal menguji coba pengoperasian IPAL.

Didik, salah satu pengelola di Tambak Widodo tersebut, menjelaskan, sebenarnya ia telah memiliki IPAL. Namun, untuk saat ini berfungsi sebagai tempat pengisian air ke tambak. “Saya sudah sediakan petakan untuk IPAL ini. Kami juga tahu, kalau limbah itu harus diolah dulu sebelum dibuang ke laut,” beber Didik, sambil menunjukkan IPAL miliknya kepada Jawa Pos Radar Jember.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/