alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Panen Raya, Harga Gabah Anjlok

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah daerah mulai memasuki masa panen raya. Imbasnya, pasokan gabah mengalami peningkatan yang cukup signifikan di kalangan petani. Sayangnya, fenomena ini juga menjadi salah satu penyebab harga gabah anjlok.

Banyak petani yang mengaku harga gabah kering sawah belakangan ini anjlok. Hal ini karena sekarang masih terbilang musim panen raya, sehingga memengaruhi harga jual gabah.

Seperti yang disampaikan Yadi, 58, warga Dusun Wringin Agung, Kecamatan Jombang. Menurutnya, saat ini harga gabah sudah mulai mengalami penurunan meski belum terlalu signifikan. Sejak musim panen raya, harga gabah kering panen hanya Rp 3.800 per kilogram. “Sebelumnya, harga gabah bisa Rp 4.100 sampai dengan Rp 4.200 per kilogram,” ujarnya. Bahkan, sebelum masa panen raya, harganya bisa mencapai Rp 4.800 per kilogram.

Mobile_AP_Rectangle 2

Harga ini, kata dia, harus diperhitungkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Seperti ongkos tenaga yang memanen. Yadi mengaku kondisi ini membuat hasil panennya tidak sesuai yang diharapkan. “Soalnya banyak juga biaya untuk ongkos memanen dan yang lain-lain,” imbuhnya.

Namun demikian, dia memprediksi kondisi ini tidak bertahan lama. Sebab, harus ada pasokan yang dipenuhi di berbagai kecamatan. “Untuk stok padi yang ada sekarang ini tinggal di daerah Wuluhan, Ambulu, dan Jenggawah. Untuk Kencong, Puger, dan Gumukmas sudah habis. Saya sudah bergeser ke daerah Wuluhan, dan nanti ya ke Ambulu,” kata Yadi, yang sudah berjualan gabah sejak tahun 1991 itu.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah daerah mulai memasuki masa panen raya. Imbasnya, pasokan gabah mengalami peningkatan yang cukup signifikan di kalangan petani. Sayangnya, fenomena ini juga menjadi salah satu penyebab harga gabah anjlok.

Banyak petani yang mengaku harga gabah kering sawah belakangan ini anjlok. Hal ini karena sekarang masih terbilang musim panen raya, sehingga memengaruhi harga jual gabah.

Seperti yang disampaikan Yadi, 58, warga Dusun Wringin Agung, Kecamatan Jombang. Menurutnya, saat ini harga gabah sudah mulai mengalami penurunan meski belum terlalu signifikan. Sejak musim panen raya, harga gabah kering panen hanya Rp 3.800 per kilogram. “Sebelumnya, harga gabah bisa Rp 4.100 sampai dengan Rp 4.200 per kilogram,” ujarnya. Bahkan, sebelum masa panen raya, harganya bisa mencapai Rp 4.800 per kilogram.

Harga ini, kata dia, harus diperhitungkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Seperti ongkos tenaga yang memanen. Yadi mengaku kondisi ini membuat hasil panennya tidak sesuai yang diharapkan. “Soalnya banyak juga biaya untuk ongkos memanen dan yang lain-lain,” imbuhnya.

Namun demikian, dia memprediksi kondisi ini tidak bertahan lama. Sebab, harus ada pasokan yang dipenuhi di berbagai kecamatan. “Untuk stok padi yang ada sekarang ini tinggal di daerah Wuluhan, Ambulu, dan Jenggawah. Untuk Kencong, Puger, dan Gumukmas sudah habis. Saya sudah bergeser ke daerah Wuluhan, dan nanti ya ke Ambulu,” kata Yadi, yang sudah berjualan gabah sejak tahun 1991 itu.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah daerah mulai memasuki masa panen raya. Imbasnya, pasokan gabah mengalami peningkatan yang cukup signifikan di kalangan petani. Sayangnya, fenomena ini juga menjadi salah satu penyebab harga gabah anjlok.

Banyak petani yang mengaku harga gabah kering sawah belakangan ini anjlok. Hal ini karena sekarang masih terbilang musim panen raya, sehingga memengaruhi harga jual gabah.

Seperti yang disampaikan Yadi, 58, warga Dusun Wringin Agung, Kecamatan Jombang. Menurutnya, saat ini harga gabah sudah mulai mengalami penurunan meski belum terlalu signifikan. Sejak musim panen raya, harga gabah kering panen hanya Rp 3.800 per kilogram. “Sebelumnya, harga gabah bisa Rp 4.100 sampai dengan Rp 4.200 per kilogram,” ujarnya. Bahkan, sebelum masa panen raya, harganya bisa mencapai Rp 4.800 per kilogram.

Harga ini, kata dia, harus diperhitungkan dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani. Seperti ongkos tenaga yang memanen. Yadi mengaku kondisi ini membuat hasil panennya tidak sesuai yang diharapkan. “Soalnya banyak juga biaya untuk ongkos memanen dan yang lain-lain,” imbuhnya.

Namun demikian, dia memprediksi kondisi ini tidak bertahan lama. Sebab, harus ada pasokan yang dipenuhi di berbagai kecamatan. “Untuk stok padi yang ada sekarang ini tinggal di daerah Wuluhan, Ambulu, dan Jenggawah. Untuk Kencong, Puger, dan Gumukmas sudah habis. Saya sudah bergeser ke daerah Wuluhan, dan nanti ya ke Ambulu,” kata Yadi, yang sudah berjualan gabah sejak tahun 1991 itu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/