alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Masalah Pupuk Kurang Jatah, Pengawasan Lemah Hingga Oknum Berulah

Masalah pupuk sepertinya kian menumpuk. Mulai dari adanya pemangkasan pupuk bersubsidi, permainan oknum nakal, hingga penimbunan pupuk. Belakangan, kepala desa di Kecamatan Bangsalsari diduga menjadi dalang pembuatan dan pendistribusian pupuk ilegal.  

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pupuk menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan petani. Pahlawan tanpa tanda jasa yang menyediakan pangan untuk warga Jember dan Indonesia tersebut belum sepenuhnya sejahtera. Apalagi, masalah pupuk belum pernah usai. Ada pemangkasan pupuk (baca grafis), ada oknum nakal, serta masalah lain.

Kasus penetapan tersangka Kepala Desa (Kades) Bangsalsari Nur Kholis (NH) serta karyawannya bernama Cecep (CC) yang merupakan manajer di PT Agro Unggul Jaya, sepertinya menambah buram potret masalah pupuk. Bisa jadi, di luar sana ada NH dan CC lain yang melakukan ulah serupa. Ujungnya, petani yang menjadikan Jember sebagai lumbung pangan nasional menjadi orang yang paling dirugikan.

Baca Juga : Oplos Pupuk, Ketua AKD Jember Jadi Tersangka? 

Mobile_AP_Rectangle 2

Seperti diketahui, di gudang atau pabrik milik tersangka, Polres Jember menemukan sejumlah barang dan menyita barang bukti untuk diperiksa kandungan pupuknya. Antara lain jenis NPK Union-16 bersamaan sejumlah dokumen lainnya. “Kita akan cek ke lab nantinya untuk mengetahui komposisi pupuknya,” kata Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna, pekan lalu.

Pendistribusian pupuk milik kades itu juga diketahui menggaet Indi Naidha, selebgram asal Jember, dengan nilai kontrak sekitar Rp 10 jutaan. Keterlibatan mantan pengurus inti di KONI Jember sekaligus mengetuai Berni Jember ini adalah sebagai marketing-nya. Indi pula yang membantu memasarkan produk pupuk milik NH itu ke kabupaten/kota di Jawa Timur, bahkan sampai ke luar provinsi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, polisi sampai saat ini terus melakukan pengembangan kasus. Termasuk mengambil keterangan pihak yang terlibat dan memeriksa sejumlah saksi-saksi.

Kasus pupuk Kades Bangsalsari sejatinya telah santer terdengar, dan dia menjalankan bisnis pupuk tersebut cukup lama. Selain itu, kasus tersebut juga sempat menjadi bahasan di Komisi III DPR RI. Bahkan juga menjadi atensi kepolisian dari Bareskrim Polri.

Sebelumnya, pada awal Februari 2022, polisi juga menyita sejumlah pupuk di kios pupuk UD Gunungjati Porang, Desa Sumberagung, Kecamatan Jombang, karena diduga ada penimbunan. Hal itu pun dalam penyelidikan, dan pasokannya diketahui dari Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

Polisi mendasarkan kasus-kasus tersebut pada Pasal 122, 123, Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan. Di dalamnya juga terkaver aspek sanksi atau pidananya.

Dinas Minta Masyarakat Ikut Mengawasi

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pupuk menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan petani. Pahlawan tanpa tanda jasa yang menyediakan pangan untuk warga Jember dan Indonesia tersebut belum sepenuhnya sejahtera. Apalagi, masalah pupuk belum pernah usai. Ada pemangkasan pupuk (baca grafis), ada oknum nakal, serta masalah lain.

Kasus penetapan tersangka Kepala Desa (Kades) Bangsalsari Nur Kholis (NH) serta karyawannya bernama Cecep (CC) yang merupakan manajer di PT Agro Unggul Jaya, sepertinya menambah buram potret masalah pupuk. Bisa jadi, di luar sana ada NH dan CC lain yang melakukan ulah serupa. Ujungnya, petani yang menjadikan Jember sebagai lumbung pangan nasional menjadi orang yang paling dirugikan.

Baca Juga : Oplos Pupuk, Ketua AKD Jember Jadi Tersangka? 

Seperti diketahui, di gudang atau pabrik milik tersangka, Polres Jember menemukan sejumlah barang dan menyita barang bukti untuk diperiksa kandungan pupuknya. Antara lain jenis NPK Union-16 bersamaan sejumlah dokumen lainnya. “Kita akan cek ke lab nantinya untuk mengetahui komposisi pupuknya,” kata Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna, pekan lalu.

Pendistribusian pupuk milik kades itu juga diketahui menggaet Indi Naidha, selebgram asal Jember, dengan nilai kontrak sekitar Rp 10 jutaan. Keterlibatan mantan pengurus inti di KONI Jember sekaligus mengetuai Berni Jember ini adalah sebagai marketing-nya. Indi pula yang membantu memasarkan produk pupuk milik NH itu ke kabupaten/kota di Jawa Timur, bahkan sampai ke luar provinsi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, polisi sampai saat ini terus melakukan pengembangan kasus. Termasuk mengambil keterangan pihak yang terlibat dan memeriksa sejumlah saksi-saksi.

Kasus pupuk Kades Bangsalsari sejatinya telah santer terdengar, dan dia menjalankan bisnis pupuk tersebut cukup lama. Selain itu, kasus tersebut juga sempat menjadi bahasan di Komisi III DPR RI. Bahkan juga menjadi atensi kepolisian dari Bareskrim Polri.

Sebelumnya, pada awal Februari 2022, polisi juga menyita sejumlah pupuk di kios pupuk UD Gunungjati Porang, Desa Sumberagung, Kecamatan Jombang, karena diduga ada penimbunan. Hal itu pun dalam penyelidikan, dan pasokannya diketahui dari Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

Polisi mendasarkan kasus-kasus tersebut pada Pasal 122, 123, Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan. Di dalamnya juga terkaver aspek sanksi atau pidananya.

Dinas Minta Masyarakat Ikut Mengawasi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pupuk menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan petani. Pahlawan tanpa tanda jasa yang menyediakan pangan untuk warga Jember dan Indonesia tersebut belum sepenuhnya sejahtera. Apalagi, masalah pupuk belum pernah usai. Ada pemangkasan pupuk (baca grafis), ada oknum nakal, serta masalah lain.

Kasus penetapan tersangka Kepala Desa (Kades) Bangsalsari Nur Kholis (NH) serta karyawannya bernama Cecep (CC) yang merupakan manajer di PT Agro Unggul Jaya, sepertinya menambah buram potret masalah pupuk. Bisa jadi, di luar sana ada NH dan CC lain yang melakukan ulah serupa. Ujungnya, petani yang menjadikan Jember sebagai lumbung pangan nasional menjadi orang yang paling dirugikan.

Baca Juga : Oplos Pupuk, Ketua AKD Jember Jadi Tersangka? 

Seperti diketahui, di gudang atau pabrik milik tersangka, Polres Jember menemukan sejumlah barang dan menyita barang bukti untuk diperiksa kandungan pupuknya. Antara lain jenis NPK Union-16 bersamaan sejumlah dokumen lainnya. “Kita akan cek ke lab nantinya untuk mengetahui komposisi pupuknya,” kata Kasat Reskrim Polres Jember AKP Komang Yogi Arya Wiguna, pekan lalu.

Pendistribusian pupuk milik kades itu juga diketahui menggaet Indi Naidha, selebgram asal Jember, dengan nilai kontrak sekitar Rp 10 jutaan. Keterlibatan mantan pengurus inti di KONI Jember sekaligus mengetuai Berni Jember ini adalah sebagai marketing-nya. Indi pula yang membantu memasarkan produk pupuk milik NH itu ke kabupaten/kota di Jawa Timur, bahkan sampai ke luar provinsi.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Jember, polisi sampai saat ini terus melakukan pengembangan kasus. Termasuk mengambil keterangan pihak yang terlibat dan memeriksa sejumlah saksi-saksi.

Kasus pupuk Kades Bangsalsari sejatinya telah santer terdengar, dan dia menjalankan bisnis pupuk tersebut cukup lama. Selain itu, kasus tersebut juga sempat menjadi bahasan di Komisi III DPR RI. Bahkan juga menjadi atensi kepolisian dari Bareskrim Polri.

Sebelumnya, pada awal Februari 2022, polisi juga menyita sejumlah pupuk di kios pupuk UD Gunungjati Porang, Desa Sumberagung, Kecamatan Jombang, karena diduga ada penimbunan. Hal itu pun dalam penyelidikan, dan pasokannya diketahui dari Desa Kasiyan, Kecamatan Puger.

Polisi mendasarkan kasus-kasus tersebut pada Pasal 122, 123, Undang-Undang (UU) Nomor 22 Tahun 2019 tentang Sistem Budi Daya Pertanian Berkelanjutan. Di dalamnya juga terkaver aspek sanksi atau pidananya.

Dinas Minta Masyarakat Ikut Mengawasi

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/