alexametrics
30.3 C
Jember
Saturday, 21 May 2022

Imbas Kebijakan Nasional

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi sebenarnya tidak hanya terjadi di Jember. Hal itu juga terjadi di sejumlah daerah kabupaten kota lain se-Indonesia. Sebab, berkurangnya alokasi tiap tahun itu menjadi kebijakan nasional terhadap pemangkasan alokasi pupuk bersubsidi.

“Sejauh ini pupuk di Jember, di distributor, ada semua. Hanya saja ketersediaannya terbatas,” kata Bupati Jember Hendy Siswanto saat sidak ke salah satu gudang Pupuk Petrokimia Jember di Kecamatan Rambipuji dan Kecamatan Ajung, Kamis (10/3).

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat itu Hendy menemukan sejumlah fakta. Salah satunya soal ketimpangan antara alokasi dengan kebutuhan pupuk di petani. “Antara alokasi dan kebutuhan di lapangan, kurang sampai 50 persen. Dan nonsubsidi mereka (kios, Red) menyiapkan 10 persen. Artinya ada kekosongan sekitar 40 persen,” kata Hendy.

Bupati juga menemukan fakta bahwa dari penuturan pemilik kios, ada petani-petani yang mengambil stok atau jatah pupuk untuk tiga kali masa tanam sekaligus, masa tanam pertama, kedua, dan ketiga. Selain itu, pihaknya juga mendapati laporan bahwa ada pula petani-petani yang mencampur pupuk bersubsidi dengan pupuk organik untuk mengurai ketersediaan pupuk mereka.

Bupati Hendy juga meminta kios, distributor, dan petani bisa tertib dalam membeli maupun menjual pupuk bersubsidi. Mengingat alokasinya yang berkurang dari total kebutuhan di lapangan. Sementara, mengenai siapa berikutnya yang akan mengisi kekurangan 40 persen itu juga masih menjadi pertanyaan. Hendy mengaku bakal dibahasnya di kemudian hari. “Untuk memenuhi kebutuhan 40 persen itu, akan kami kaji lebih detail lagi,” kata orang nomor satu di Jember tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi sebenarnya tidak hanya terjadi di Jember. Hal itu juga terjadi di sejumlah daerah kabupaten kota lain se-Indonesia. Sebab, berkurangnya alokasi tiap tahun itu menjadi kebijakan nasional terhadap pemangkasan alokasi pupuk bersubsidi.

“Sejauh ini pupuk di Jember, di distributor, ada semua. Hanya saja ketersediaannya terbatas,” kata Bupati Jember Hendy Siswanto saat sidak ke salah satu gudang Pupuk Petrokimia Jember di Kecamatan Rambipuji dan Kecamatan Ajung, Kamis (10/3).

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Saat itu Hendy menemukan sejumlah fakta. Salah satunya soal ketimpangan antara alokasi dengan kebutuhan pupuk di petani. “Antara alokasi dan kebutuhan di lapangan, kurang sampai 50 persen. Dan nonsubsidi mereka (kios, Red) menyiapkan 10 persen. Artinya ada kekosongan sekitar 40 persen,” kata Hendy.

Bupati juga menemukan fakta bahwa dari penuturan pemilik kios, ada petani-petani yang mengambil stok atau jatah pupuk untuk tiga kali masa tanam sekaligus, masa tanam pertama, kedua, dan ketiga. Selain itu, pihaknya juga mendapati laporan bahwa ada pula petani-petani yang mencampur pupuk bersubsidi dengan pupuk organik untuk mengurai ketersediaan pupuk mereka.

Bupati Hendy juga meminta kios, distributor, dan petani bisa tertib dalam membeli maupun menjual pupuk bersubsidi. Mengingat alokasinya yang berkurang dari total kebutuhan di lapangan. Sementara, mengenai siapa berikutnya yang akan mengisi kekurangan 40 persen itu juga masih menjadi pertanyaan. Hendy mengaku bakal dibahasnya di kemudian hari. “Untuk memenuhi kebutuhan 40 persen itu, akan kami kaji lebih detail lagi,” kata orang nomor satu di Jember tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi sebenarnya tidak hanya terjadi di Jember. Hal itu juga terjadi di sejumlah daerah kabupaten kota lain se-Indonesia. Sebab, berkurangnya alokasi tiap tahun itu menjadi kebijakan nasional terhadap pemangkasan alokasi pupuk bersubsidi.

“Sejauh ini pupuk di Jember, di distributor, ada semua. Hanya saja ketersediaannya terbatas,” kata Bupati Jember Hendy Siswanto saat sidak ke salah satu gudang Pupuk Petrokimia Jember di Kecamatan Rambipuji dan Kecamatan Ajung, Kamis (10/3).

Baca Juga : Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Terancam Tak Mencukupi

Saat itu Hendy menemukan sejumlah fakta. Salah satunya soal ketimpangan antara alokasi dengan kebutuhan pupuk di petani. “Antara alokasi dan kebutuhan di lapangan, kurang sampai 50 persen. Dan nonsubsidi mereka (kios, Red) menyiapkan 10 persen. Artinya ada kekosongan sekitar 40 persen,” kata Hendy.

Bupati juga menemukan fakta bahwa dari penuturan pemilik kios, ada petani-petani yang mengambil stok atau jatah pupuk untuk tiga kali masa tanam sekaligus, masa tanam pertama, kedua, dan ketiga. Selain itu, pihaknya juga mendapati laporan bahwa ada pula petani-petani yang mencampur pupuk bersubsidi dengan pupuk organik untuk mengurai ketersediaan pupuk mereka.

Bupati Hendy juga meminta kios, distributor, dan petani bisa tertib dalam membeli maupun menjual pupuk bersubsidi. Mengingat alokasinya yang berkurang dari total kebutuhan di lapangan. Sementara, mengenai siapa berikutnya yang akan mengisi kekurangan 40 persen itu juga masih menjadi pertanyaan. Hendy mengaku bakal dibahasnya di kemudian hari. “Untuk memenuhi kebutuhan 40 persen itu, akan kami kaji lebih detail lagi,” kata orang nomor satu di Jember tersebut.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/