alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Vaksinator Minim, Dinas Peternakan Jember Mulai Kewalahan Tangani PMK

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terus meluas. Minimnya dukungan anggaran hingga soal keterbatasan tenaga di lapangan kian membuat Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jember semakin kewalahan.

Sekretaris DPKP Jember Sugiarto mengatakan, Jember menurutnya sempat mendapatkan jatah 1.500 dosis vaksin impor prioritas sapi perah dan 8.000 dosis vaksin untuk menangani PMK.

BACA JUGA: Penanganan Hewan Positif PMK Cukup Mudah, Ini Penjelasan Ketua PDHI Jember

Mobile_AP_Rectangle 2

Masalahnya, masifnya penyebaran PMK membuat petugas harus berjibaku melakukan pengobatan dan penyuntikan vaksin. “Karena tidak bisa dikumpulkan, jadi harus didatangi satu per satu. Bukan mengeluh, tapi kami kewalahan,” papar Sugiarto dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Komisi B DPRD Jember, Senin (11/7).

Menurut dia, vaksin tersebut tersedia untuk dosis satu dan kedua, yang rentan injeksinya selama satu bulan berikutnya. Mepetnya rentan waktu itu dirasa menyulitkan. Sebab, belum tentu vaksin dosis pertama selesai selama satu bulan, sudah diharuskan menghabiskan jatah vaksin periode bulan berikutnya. “Kalau rentannya agak lama, enam bulan misalnya, mungkin kami bisa atasi,” urainya.

Selain itu, dalam beberapa kasus tertentu, ada sejumlah hewan ternak sapi yang sudah dinyatakan sembuh, kondisinya normal dan lahap makan, seminggu berikutnya mendadak mati. Sugiarto melanjutkan, PMK sebenarnya tidak hanya menyasar sapi, namun juga kambing dan domba.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terus meluas. Minimnya dukungan anggaran hingga soal keterbatasan tenaga di lapangan kian membuat Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jember semakin kewalahan.

Sekretaris DPKP Jember Sugiarto mengatakan, Jember menurutnya sempat mendapatkan jatah 1.500 dosis vaksin impor prioritas sapi perah dan 8.000 dosis vaksin untuk menangani PMK.

BACA JUGA: Penanganan Hewan Positif PMK Cukup Mudah, Ini Penjelasan Ketua PDHI Jember

Masalahnya, masifnya penyebaran PMK membuat petugas harus berjibaku melakukan pengobatan dan penyuntikan vaksin. “Karena tidak bisa dikumpulkan, jadi harus didatangi satu per satu. Bukan mengeluh, tapi kami kewalahan,” papar Sugiarto dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Komisi B DPRD Jember, Senin (11/7).

Menurut dia, vaksin tersebut tersedia untuk dosis satu dan kedua, yang rentan injeksinya selama satu bulan berikutnya. Mepetnya rentan waktu itu dirasa menyulitkan. Sebab, belum tentu vaksin dosis pertama selesai selama satu bulan, sudah diharuskan menghabiskan jatah vaksin periode bulan berikutnya. “Kalau rentannya agak lama, enam bulan misalnya, mungkin kami bisa atasi,” urainya.

Selain itu, dalam beberapa kasus tertentu, ada sejumlah hewan ternak sapi yang sudah dinyatakan sembuh, kondisinya normal dan lahap makan, seminggu berikutnya mendadak mati. Sugiarto melanjutkan, PMK sebenarnya tidak hanya menyasar sapi, namun juga kambing dan domba.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK) terus meluas. Minimnya dukungan anggaran hingga soal keterbatasan tenaga di lapangan kian membuat Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jember semakin kewalahan.

Sekretaris DPKP Jember Sugiarto mengatakan, Jember menurutnya sempat mendapatkan jatah 1.500 dosis vaksin impor prioritas sapi perah dan 8.000 dosis vaksin untuk menangani PMK.

BACA JUGA: Penanganan Hewan Positif PMK Cukup Mudah, Ini Penjelasan Ketua PDHI Jember

Masalahnya, masifnya penyebaran PMK membuat petugas harus berjibaku melakukan pengobatan dan penyuntikan vaksin. “Karena tidak bisa dikumpulkan, jadi harus didatangi satu per satu. Bukan mengeluh, tapi kami kewalahan,” papar Sugiarto dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Ruang Komisi B DPRD Jember, Senin (11/7).

Menurut dia, vaksin tersebut tersedia untuk dosis satu dan kedua, yang rentan injeksinya selama satu bulan berikutnya. Mepetnya rentan waktu itu dirasa menyulitkan. Sebab, belum tentu vaksin dosis pertama selesai selama satu bulan, sudah diharuskan menghabiskan jatah vaksin periode bulan berikutnya. “Kalau rentannya agak lama, enam bulan misalnya, mungkin kami bisa atasi,” urainya.

Selain itu, dalam beberapa kasus tertentu, ada sejumlah hewan ternak sapi yang sudah dinyatakan sembuh, kondisinya normal dan lahap makan, seminggu berikutnya mendadak mati. Sugiarto melanjutkan, PMK sebenarnya tidak hanya menyasar sapi, namun juga kambing dan domba.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/