alexametrics
25 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Warga Tanam Cabai Mandiri

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan seluas 15 meter persegi itu tampak berantakan. Banyak bebatuan dan kayu bekas bangunan. Dengan sigap, Miskun merapikan lahan itu, lalu mengambil beberapa bibit cabai yang sudah lebih dulu dia tanam di belakang rumah.

Ya, langkah ini dia lakukan untuk mengantisipasi tingginya harga cabai di pasaran. Karena itu, dia berinisiatif memanfaatkan lahan tak terpakai di rumahnya untuk menanam cabai. “Cabai mahal sekarang. Bahkan, sudah tembus 100 ribu di pasaran. Sedangkan cucu saya sangat hobi makan makanan pedas. Kalau dituruti setiap hari harus beli, bisa tekor,” lanjut warga Desa/Kecamatan Ambulu itu.

Meski begitu, dia tak terlalu berharap dengan kualitas atau kuantitas yang bakal diterimanya nanti. “Pokoknya berbuah saja, saya sudah seneng dan bisa dimanfaatkan,” terang pria yang berusia 65 tahun itu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut dia, upaya ini lebih baik jika dibandingkan dengan menunggu harga cabai melandai. “Apalagi, kita tidak tahu sampai kapan cuaca seperti ini. Masih sering hujan,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Miskun mengungkapkan bahwa banyak orang yang mulai menanam cabai di rumah masing-masing. “Ada yang memanfaatkan lahan, ada yang ditaruh di pot,” imbuhnya. Baginya, untuk konsumsi pribadi, langkah ini dianggap sangat efektif. “Kalau konsumsi banyak kan nggak mungkin. Tapi, kalau hanya untuk konsumsi pribadi, ini sangat membantu,” ucapnya.

Cara menanam bibit cabai ini tentu menjadi alternatif yang cukup segar bagi para penggemar penganan pedas. Bagus Rangga, salah seorang petani cabai asal Desa Langon, Kecamatan Ambulu, menjelaskan bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat dalam menanam cabai di rumah masing-masing.

“Siapkan bibit secara mandiri dengan membeli cabai segar yang masih layak dikonsumsi. Kupas, lalu ambil bijinya,” paparnya. Lalu, dijemur di bawah terik matahari hingga kering.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan seluas 15 meter persegi itu tampak berantakan. Banyak bebatuan dan kayu bekas bangunan. Dengan sigap, Miskun merapikan lahan itu, lalu mengambil beberapa bibit cabai yang sudah lebih dulu dia tanam di belakang rumah.

Ya, langkah ini dia lakukan untuk mengantisipasi tingginya harga cabai di pasaran. Karena itu, dia berinisiatif memanfaatkan lahan tak terpakai di rumahnya untuk menanam cabai. “Cabai mahal sekarang. Bahkan, sudah tembus 100 ribu di pasaran. Sedangkan cucu saya sangat hobi makan makanan pedas. Kalau dituruti setiap hari harus beli, bisa tekor,” lanjut warga Desa/Kecamatan Ambulu itu.

Meski begitu, dia tak terlalu berharap dengan kualitas atau kuantitas yang bakal diterimanya nanti. “Pokoknya berbuah saja, saya sudah seneng dan bisa dimanfaatkan,” terang pria yang berusia 65 tahun itu.

Menurut dia, upaya ini lebih baik jika dibandingkan dengan menunggu harga cabai melandai. “Apalagi, kita tidak tahu sampai kapan cuaca seperti ini. Masih sering hujan,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Miskun mengungkapkan bahwa banyak orang yang mulai menanam cabai di rumah masing-masing. “Ada yang memanfaatkan lahan, ada yang ditaruh di pot,” imbuhnya. Baginya, untuk konsumsi pribadi, langkah ini dianggap sangat efektif. “Kalau konsumsi banyak kan nggak mungkin. Tapi, kalau hanya untuk konsumsi pribadi, ini sangat membantu,” ucapnya.

Cara menanam bibit cabai ini tentu menjadi alternatif yang cukup segar bagi para penggemar penganan pedas. Bagus Rangga, salah seorang petani cabai asal Desa Langon, Kecamatan Ambulu, menjelaskan bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat dalam menanam cabai di rumah masing-masing.

“Siapkan bibit secara mandiri dengan membeli cabai segar yang masih layak dikonsumsi. Kupas, lalu ambil bijinya,” paparnya. Lalu, dijemur di bawah terik matahari hingga kering.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Lahan seluas 15 meter persegi itu tampak berantakan. Banyak bebatuan dan kayu bekas bangunan. Dengan sigap, Miskun merapikan lahan itu, lalu mengambil beberapa bibit cabai yang sudah lebih dulu dia tanam di belakang rumah.

Ya, langkah ini dia lakukan untuk mengantisipasi tingginya harga cabai di pasaran. Karena itu, dia berinisiatif memanfaatkan lahan tak terpakai di rumahnya untuk menanam cabai. “Cabai mahal sekarang. Bahkan, sudah tembus 100 ribu di pasaran. Sedangkan cucu saya sangat hobi makan makanan pedas. Kalau dituruti setiap hari harus beli, bisa tekor,” lanjut warga Desa/Kecamatan Ambulu itu.

Meski begitu, dia tak terlalu berharap dengan kualitas atau kuantitas yang bakal diterimanya nanti. “Pokoknya berbuah saja, saya sudah seneng dan bisa dimanfaatkan,” terang pria yang berusia 65 tahun itu.

Menurut dia, upaya ini lebih baik jika dibandingkan dengan menunggu harga cabai melandai. “Apalagi, kita tidak tahu sampai kapan cuaca seperti ini. Masih sering hujan,” paparnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Lebih lanjut, Miskun mengungkapkan bahwa banyak orang yang mulai menanam cabai di rumah masing-masing. “Ada yang memanfaatkan lahan, ada yang ditaruh di pot,” imbuhnya. Baginya, untuk konsumsi pribadi, langkah ini dianggap sangat efektif. “Kalau konsumsi banyak kan nggak mungkin. Tapi, kalau hanya untuk konsumsi pribadi, ini sangat membantu,” ucapnya.

Cara menanam bibit cabai ini tentu menjadi alternatif yang cukup segar bagi para penggemar penganan pedas. Bagus Rangga, salah seorang petani cabai asal Desa Langon, Kecamatan Ambulu, menjelaskan bahwa ada banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat dalam menanam cabai di rumah masing-masing.

“Siapkan bibit secara mandiri dengan membeli cabai segar yang masih layak dikonsumsi. Kupas, lalu ambil bijinya,” paparnya. Lalu, dijemur di bawah terik matahari hingga kering.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/