Manfaatkan Limbah Jerami, Diproduksi Jadi Pupuk Organik

Di tengah berkurangnya alokasi pupuk bersubsidi, inovasi sekelompok mahasiswa ini bisa menjadi solusi bagi petani. Memanfaatkan limbah jerami sebagai pupuk organik cair, terobosan mahasiswa tersebut tak hanya dapat menekan biaya produksi, tapi juga mendorong kemandirian petani.

PROSES FERMENTASI: Mahasiswa Faperta Unej saat melakukan proses fermentasi pupuk organik cair. Produk ini pernah diikutkan perlombaan National Agribusiness Start Up Competition di Banyuwangi, Juli 2019 lalu. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Berawal dari problem yang dihadapi para petani di Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, lima mahasiswa Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Jember (Unej) terinspirasi menciptakan pestisida dan pupuk organik. Mereka adalah Slamet Fauzi, Yogi Ardhi Cahyadi, Putri Tunjungsari, Ival Oktavian, dan Faris Kustiawan Alfarisy.

IKLAN

Kelimanya lantas berpikir untuk memanfaatkan apa yang ada di lingkungan pertanian sebagai bahan dasarnya. Akhirnya terpilihlah jerami. Dengan metode tertentu, limbah batang tanaman padi itu diolah sedemikian rupa hingga menjadi penyubur tanaman yang lebih sehat dan ramah lingkungan. “Karena menurut kami, organic farming is good for us,” jelas Slamet Fauzi, salah seorang mahasiswa anggota tim.

Dia menceritakan, sebelum memutuskan mengolah jerami sebagai pupuk organik, mereka menemukan sebuah perusahaan pertanian organik di Banyuwangi yang menyediakan gabah organik untuk wilayah kabupaten setempat. Bahkan dalam skala kecil, unit usaha itu juga telah menjual beras merah organik ke luar kota di beberapa wilayah Jawa dan Bali.

Bahkan, perusahaan di desa tersebut juga sudah mengekspor ke Italia, awal 2019 lalu. Hal itu membuktikan bahwa selain menghapus ketergantungan petani terhadap urea bersubsidi, pertanian organik juga mendorong kemandirian petani. Sebab, pertanian organik masih berpeluang besar dikembangkan di Indonesia.

Hanya saja, kata Fauzi, petani tetap menemui kendala. Yakni belum cukupnya pemenuhan sarana produksi, seperti pupuk dan pestisida organik. Sebab, sejauh ini petani masih mengandalkan kotoran hewan untuk memenuhi nutrisi tanaman. Oleh sebab itu, Fauzi dan teman-temannya berpikir perlu membikin inovasi pupuk dan pestisida organik yang unggul dan bisa diproduksi secara masal. Hingga lahirlah pupuk organik cair berbahan dasar jerami tersebut.

Menurut Fauzi, keuntungan dari pertanian organik sangat banyak. Seperti terhindarnya resistensi dan resurjensi hama, terpeliharanya predator hama sehingga ekosistem seimbang, dan menghindari degradasi lahan. Di sisi lain, berdasarkan kajian ilmiah, penggunaan pupuk dan pestisida sintetis juga dapat menimbulkan masalah. Seperti teridentifikasi logam berat pada tanah dan resistensi hama primer juga sekunder. “Sehingga mengganggu kesehatan tanaman. Dan produk yang kami bikin ini guna mendukung terwujudnya organic farming tersebut,” tuturnya.

Cara pembuatan pupuk cair ini juga tergolong mudah. Karena itu, dengan pelatihan sederhana, petani bisa memproduksinya secara mandiri. Terlebih, bahan yang digunakan berasal dari lingkungan mereka sendiri. Seperti jerami dan urine sapi. Kalaupun membutuhkan bahan tambahan, biasanya menggunakan bakteri pengurai EM4 yang kerap digunakan untuk melakukan fermentasi.

Menurut Fauzi, ada enam tahapan sebelum pupuk organik cair itu bisa digunakan. Pertama, menyiapkan semua bahan, lalu bahan itu dihaluskan menggunakan mesin pencacah. Setelah itu, dimasukkan ke tong fermentator dan ditambahkan air urine sapi serta EM4. “Kemudian diaduk secara merata dan ditutup rapat-rapat,” paparnya.

Selanjutnya, masa inkubasi membutuhkan waktu selama 14 hari. Kemudian, proses pemanenan menggunakan mesin pemanen otomatis. Tahap akhir, pupuk cair yang sudah dihasilkan itu dimasukkan ke dalam botol dan siap digunakan.

Inovasi berupa pupuk organik cair (POC) yang diproduksi oleh lima mahasiswa ini pernah diajukan dalam perlombaan National Agribusiness Start Up Competition di Banyuwangi, akhir Juli tahun lalu. Hasilnya, meski belum menyabet gelar juaram inovasi mereka berhasil menembus sampai tingkat final.

Reporter : Muchammad Ainul Budi

Fotografer : Istimewa

Editor : Mahrus Sholih