alexametrics
24.3 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Pangkas Ketergantungan Pupuk Kimia

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas petani di Kabupaten Jember masih bergantung pada pupuk bersubsidi. Tak hanya itu, para petani juga banyak yang belum bisa lepas dari pupuk kimia alias nonorganik. Hal ini yang menjadi salah satu pokok bahasan antara Komisi B DPRD dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKP2) Jember.

Kepala DKP2 Jember Andi Prastowo menyampaikan, kebiasaan petani menggunakan pupuk nonorganik masih sangat tinggi. “Petani ingin yang praktis, makanya jarang yang menggunakan pupuk organik,” ucapnya.

Andi menyebut, pupuk nonorganik dan pupuk organik memiliki cara pakai yang berbeda. Pupuk yang paling diminati masyarakat selama ini adalah pupuk yang dapat dipakai saat menanam. “Kalau pupuk organik tidak bisa, karena penggunaannya harus dilakukan saat mengolah lahan,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sosialisasi penggunaan pupuk organik, menurut dia, kerap dilakukan. Namun demikian, ketergantungan petani pada pupuk nonorganik masih sangat tinggi. Untuk itulah, usulan pupuk bersubsidi terus dilakukan, mengingat kebutuhan petani masih sangat banyak.

Anggota Komisi B DPRD Nyoman Aribowo menyampaikan, kampanye penggunaan pupuk organik harus terus dilakukan. Apalagi, pupuk tersebut bisa diproduksi di Jember. “Jember punya banyak sapi, dan kotoran sapi bisa dijadikan pupuk organik. Selain itu, ada pengembangan sapi perah yang juga bisa dimanfaatkan. Susunya untuk mengatasi angka stunting di Jember yang masih tinggi,” ulasnya.

Nyoman meminta agar dinas mampu menggenjot penggunaan pupuk organik agar ke depan petani tidak selalu ketergantungan pada pupuk subsidi dan pupuk nonorganik. “Kalau pemanfaatan pupuk organik bisa tinggi, maka pembuatan pupuk bisa dilakukan di Jember,” ujarnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas petani di Kabupaten Jember masih bergantung pada pupuk bersubsidi. Tak hanya itu, para petani juga banyak yang belum bisa lepas dari pupuk kimia alias nonorganik. Hal ini yang menjadi salah satu pokok bahasan antara Komisi B DPRD dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKP2) Jember.

Kepala DKP2 Jember Andi Prastowo menyampaikan, kebiasaan petani menggunakan pupuk nonorganik masih sangat tinggi. “Petani ingin yang praktis, makanya jarang yang menggunakan pupuk organik,” ucapnya.

Andi menyebut, pupuk nonorganik dan pupuk organik memiliki cara pakai yang berbeda. Pupuk yang paling diminati masyarakat selama ini adalah pupuk yang dapat dipakai saat menanam. “Kalau pupuk organik tidak bisa, karena penggunaannya harus dilakukan saat mengolah lahan,” imbuhnya.

Sosialisasi penggunaan pupuk organik, menurut dia, kerap dilakukan. Namun demikian, ketergantungan petani pada pupuk nonorganik masih sangat tinggi. Untuk itulah, usulan pupuk bersubsidi terus dilakukan, mengingat kebutuhan petani masih sangat banyak.

Anggota Komisi B DPRD Nyoman Aribowo menyampaikan, kampanye penggunaan pupuk organik harus terus dilakukan. Apalagi, pupuk tersebut bisa diproduksi di Jember. “Jember punya banyak sapi, dan kotoran sapi bisa dijadikan pupuk organik. Selain itu, ada pengembangan sapi perah yang juga bisa dimanfaatkan. Susunya untuk mengatasi angka stunting di Jember yang masih tinggi,” ulasnya.

Nyoman meminta agar dinas mampu menggenjot penggunaan pupuk organik agar ke depan petani tidak selalu ketergantungan pada pupuk subsidi dan pupuk nonorganik. “Kalau pemanfaatan pupuk organik bisa tinggi, maka pembuatan pupuk bisa dilakukan di Jember,” ujarnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Mayoritas petani di Kabupaten Jember masih bergantung pada pupuk bersubsidi. Tak hanya itu, para petani juga banyak yang belum bisa lepas dari pupuk kimia alias nonorganik. Hal ini yang menjadi salah satu pokok bahasan antara Komisi B DPRD dan Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKP2) Jember.

Kepala DKP2 Jember Andi Prastowo menyampaikan, kebiasaan petani menggunakan pupuk nonorganik masih sangat tinggi. “Petani ingin yang praktis, makanya jarang yang menggunakan pupuk organik,” ucapnya.

Andi menyebut, pupuk nonorganik dan pupuk organik memiliki cara pakai yang berbeda. Pupuk yang paling diminati masyarakat selama ini adalah pupuk yang dapat dipakai saat menanam. “Kalau pupuk organik tidak bisa, karena penggunaannya harus dilakukan saat mengolah lahan,” imbuhnya.

Sosialisasi penggunaan pupuk organik, menurut dia, kerap dilakukan. Namun demikian, ketergantungan petani pada pupuk nonorganik masih sangat tinggi. Untuk itulah, usulan pupuk bersubsidi terus dilakukan, mengingat kebutuhan petani masih sangat banyak.

Anggota Komisi B DPRD Nyoman Aribowo menyampaikan, kampanye penggunaan pupuk organik harus terus dilakukan. Apalagi, pupuk tersebut bisa diproduksi di Jember. “Jember punya banyak sapi, dan kotoran sapi bisa dijadikan pupuk organik. Selain itu, ada pengembangan sapi perah yang juga bisa dimanfaatkan. Susunya untuk mengatasi angka stunting di Jember yang masih tinggi,” ulasnya.

Nyoman meminta agar dinas mampu menggenjot penggunaan pupuk organik agar ke depan petani tidak selalu ketergantungan pada pupuk subsidi dan pupuk nonorganik. “Kalau pemanfaatan pupuk organik bisa tinggi, maka pembuatan pupuk bisa dilakukan di Jember,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/