alexametrics
22.8 C
Jember
Monday, 15 August 2022

MUI Jember: Pilih yang Sehat meski Hewan PMK Ringan Boleh Dikurbankan

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Wabah penyakil mulut dan kuku (PMK) telah menyebar di 19 provinsi di Indonesia dan menyerang 200 kabupaten atau kota, termasuk Jember. Imbasnya, menjelang perayaan Idul Adha warga merasa waswas ketika mau berkurban. Terutama tentang keabsahan berdasarkan syariat agama. Lantas, bagaimana hukumnya berkurban hewan yang terjangkit PMK?

Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, menyebutkan, hewan ternak dengan gejala klinis ringan penyakit PMK sah untuk dijadikan kurban. Sedangkan hewan ternak dengan gejala klinis berat tidak sah.

Dalam fatwa itu menjelaskan, PMK kategori ringan antara lain ditandai dengan lesu tidak nafsu makan, demam, lepuh pada sekitar dan dalam mulut, mengeuarkan air liur berlebihan dari mulut namun tidak sampai menyebabkan pincang, tidak kurus dan dapat disembuhkan dengan pengobatan luka agar tidak terjadi infeksi sekunder dan pemberian vitamin, mineral, atau herbal untuk menjaga daya tahan tubuh dalam waktu sekitar 4-7 hari.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Wabah PMK Bukan Satu-satunya Sebab Penjualan Hewan Kurban di Jember Sepi

Sementara itu, PMK dengan gejala klinis berat adalah penyakit mulut dan kuku pada hewan yang antara lain ditandai dengan lepuh pada kuku hingga terlepas atau menyebabkan pincang atau tidak bisa berjalan, dan menyebabkan kurus permanen, serta proses penyembuhannya butuh waktu lama atau bahkan mungkin tidak dapat disembuhkan.

Ketua MUI Jember Abdul Haris mengatakan, meski ada fatwa MUI yang mengatakan jika ada gejala ringan yang memungkinkan untuk melakukan kurban, namun untuk lebih sahnya selayaknya yang dipilih adalah hewan sehat. Karena, ia menerangkan, salah satu syarat hewan kurban adalah ternak yang sehat.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Wabah penyakil mulut dan kuku (PMK) telah menyebar di 19 provinsi di Indonesia dan menyerang 200 kabupaten atau kota, termasuk Jember. Imbasnya, menjelang perayaan Idul Adha warga merasa waswas ketika mau berkurban. Terutama tentang keabsahan berdasarkan syariat agama. Lantas, bagaimana hukumnya berkurban hewan yang terjangkit PMK?

Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, menyebutkan, hewan ternak dengan gejala klinis ringan penyakit PMK sah untuk dijadikan kurban. Sedangkan hewan ternak dengan gejala klinis berat tidak sah.

Dalam fatwa itu menjelaskan, PMK kategori ringan antara lain ditandai dengan lesu tidak nafsu makan, demam, lepuh pada sekitar dan dalam mulut, mengeuarkan air liur berlebihan dari mulut namun tidak sampai menyebabkan pincang, tidak kurus dan dapat disembuhkan dengan pengobatan luka agar tidak terjadi infeksi sekunder dan pemberian vitamin, mineral, atau herbal untuk menjaga daya tahan tubuh dalam waktu sekitar 4-7 hari.

BACA JUGA: Wabah PMK Bukan Satu-satunya Sebab Penjualan Hewan Kurban di Jember Sepi

Sementara itu, PMK dengan gejala klinis berat adalah penyakit mulut dan kuku pada hewan yang antara lain ditandai dengan lepuh pada kuku hingga terlepas atau menyebabkan pincang atau tidak bisa berjalan, dan menyebabkan kurus permanen, serta proses penyembuhannya butuh waktu lama atau bahkan mungkin tidak dapat disembuhkan.

Ketua MUI Jember Abdul Haris mengatakan, meski ada fatwa MUI yang mengatakan jika ada gejala ringan yang memungkinkan untuk melakukan kurban, namun untuk lebih sahnya selayaknya yang dipilih adalah hewan sehat. Karena, ia menerangkan, salah satu syarat hewan kurban adalah ternak yang sehat.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Wabah penyakil mulut dan kuku (PMK) telah menyebar di 19 provinsi di Indonesia dan menyerang 200 kabupaten atau kota, termasuk Jember. Imbasnya, menjelang perayaan Idul Adha warga merasa waswas ketika mau berkurban. Terutama tentang keabsahan berdasarkan syariat agama. Lantas, bagaimana hukumnya berkurban hewan yang terjangkit PMK?

Berdasarkan Fatwa MUI Nomor 32 Tahun 2022 tentang Hukum dan Panduan Pelaksanaan Ibadah Kurban saat Kondisi Wabah Penyakit Mulut dan Kuku, menyebutkan, hewan ternak dengan gejala klinis ringan penyakit PMK sah untuk dijadikan kurban. Sedangkan hewan ternak dengan gejala klinis berat tidak sah.

Dalam fatwa itu menjelaskan, PMK kategori ringan antara lain ditandai dengan lesu tidak nafsu makan, demam, lepuh pada sekitar dan dalam mulut, mengeuarkan air liur berlebihan dari mulut namun tidak sampai menyebabkan pincang, tidak kurus dan dapat disembuhkan dengan pengobatan luka agar tidak terjadi infeksi sekunder dan pemberian vitamin, mineral, atau herbal untuk menjaga daya tahan tubuh dalam waktu sekitar 4-7 hari.

BACA JUGA: Wabah PMK Bukan Satu-satunya Sebab Penjualan Hewan Kurban di Jember Sepi

Sementara itu, PMK dengan gejala klinis berat adalah penyakit mulut dan kuku pada hewan yang antara lain ditandai dengan lepuh pada kuku hingga terlepas atau menyebabkan pincang atau tidak bisa berjalan, dan menyebabkan kurus permanen, serta proses penyembuhannya butuh waktu lama atau bahkan mungkin tidak dapat disembuhkan.

Ketua MUI Jember Abdul Haris mengatakan, meski ada fatwa MUI yang mengatakan jika ada gejala ringan yang memungkinkan untuk melakukan kurban, namun untuk lebih sahnya selayaknya yang dipilih adalah hewan sehat. Karena, ia menerangkan, salah satu syarat hewan kurban adalah ternak yang sehat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/