alexametrics
24.7 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Harga Masih Lesu, Petani Kopi Mengeluh

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi di Kecamatan Ledokombo mengeluh akibat harga kopi yang masih lesu. Hampir setahun ini harga kopi tak mengalami kenaikan yang signifikan. Yakni berada di kisaran Rp 19 ribu. Padahal, biasanya saat menjelang musim panen kopi seperti saat ini, harga kopi mulai naik hingga di atas Rp 20 ribu.

Aini, 42, salah satu petani kopi jenis robusta, mengatakan, selain harganya yang murah, buah kopi saat ini tak selebat biasanya. Ditambah lagi proses penjemuran yang tak menentu. Beberapa hari ini, Kecamatan Ledokombo sering diguyur hujan, sehingga berimbas pada kualitas kopi.

“Sudah masuk musim kopi, tapi harganya masih di bawah Rp 20 ribu. Itu termasuk murah, bahkan turun dari biasanya. Selain itu, di sini mulai hujan. Jadi, kualitas kopinya kurang bagus karena pengeringannya lama,” ujar Aini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Terpisah, salah seorang pengepul kopi, Ahmadi, 55, mengatakan, kualitas kopi sangat memengaruhi harga. Selain itu, beberapa daerah di luar Ledokombo seperti perbatasan Jember dan Banyuwangi, yakni Garahan, Silo, mulai memanen banyak kopi. Karena itu, harga kopi masih bertahan di bawah standar pasar.

“Kalau barangnya mudah didapat, otomatis harga turun. Baru kalau kopinya langka, tapi kualitasnya juga bagus, maka harganya mulai naik,” papar Ahmadi.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi di Kecamatan Ledokombo mengeluh akibat harga kopi yang masih lesu. Hampir setahun ini harga kopi tak mengalami kenaikan yang signifikan. Yakni berada di kisaran Rp 19 ribu. Padahal, biasanya saat menjelang musim panen kopi seperti saat ini, harga kopi mulai naik hingga di atas Rp 20 ribu.

Aini, 42, salah satu petani kopi jenis robusta, mengatakan, selain harganya yang murah, buah kopi saat ini tak selebat biasanya. Ditambah lagi proses penjemuran yang tak menentu. Beberapa hari ini, Kecamatan Ledokombo sering diguyur hujan, sehingga berimbas pada kualitas kopi.

“Sudah masuk musim kopi, tapi harganya masih di bawah Rp 20 ribu. Itu termasuk murah, bahkan turun dari biasanya. Selain itu, di sini mulai hujan. Jadi, kualitas kopinya kurang bagus karena pengeringannya lama,” ujar Aini.

Terpisah, salah seorang pengepul kopi, Ahmadi, 55, mengatakan, kualitas kopi sangat memengaruhi harga. Selain itu, beberapa daerah di luar Ledokombo seperti perbatasan Jember dan Banyuwangi, yakni Garahan, Silo, mulai memanen banyak kopi. Karena itu, harga kopi masih bertahan di bawah standar pasar.

“Kalau barangnya mudah didapat, otomatis harga turun. Baru kalau kopinya langka, tapi kualitasnya juga bagus, maka harganya mulai naik,” papar Ahmadi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sejumlah petani kopi di Kecamatan Ledokombo mengeluh akibat harga kopi yang masih lesu. Hampir setahun ini harga kopi tak mengalami kenaikan yang signifikan. Yakni berada di kisaran Rp 19 ribu. Padahal, biasanya saat menjelang musim panen kopi seperti saat ini, harga kopi mulai naik hingga di atas Rp 20 ribu.

Aini, 42, salah satu petani kopi jenis robusta, mengatakan, selain harganya yang murah, buah kopi saat ini tak selebat biasanya. Ditambah lagi proses penjemuran yang tak menentu. Beberapa hari ini, Kecamatan Ledokombo sering diguyur hujan, sehingga berimbas pada kualitas kopi.

“Sudah masuk musim kopi, tapi harganya masih di bawah Rp 20 ribu. Itu termasuk murah, bahkan turun dari biasanya. Selain itu, di sini mulai hujan. Jadi, kualitas kopinya kurang bagus karena pengeringannya lama,” ujar Aini.

Terpisah, salah seorang pengepul kopi, Ahmadi, 55, mengatakan, kualitas kopi sangat memengaruhi harga. Selain itu, beberapa daerah di luar Ledokombo seperti perbatasan Jember dan Banyuwangi, yakni Garahan, Silo, mulai memanen banyak kopi. Karena itu, harga kopi masih bertahan di bawah standar pasar.

“Kalau barangnya mudah didapat, otomatis harga turun. Baru kalau kopinya langka, tapi kualitasnya juga bagus, maka harganya mulai naik,” papar Ahmadi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/