alexametrics
23 C
Jember
Thursday, 11 August 2022

Wabah PMK Bukan Satu-satunya Sebab Penjualan Hewan Kurban di Jember Sepi

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Secara umum harga kambing kurban tidak naik dibandingkan tahun lalu. Namun, penjualannya tahun ini relatif sepi. Kondisi ini terlihat dari lapak pedagang kambing dadakan yang banyak berdiri di sepanjang Jalan Teuku Umar, Tegalbesar, Kecamatan, Jember. Bahkan, Kamis (7/7) sore atau tiga hari jelang Idul Adha, juga terlihat masih sepi.

Para pedagang mengungkapkan, lesunya penjualan kambing kurban karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang banyak menyerang ternak akhir-akhir ini. Selain itu, juga bertepatan dengan musim libur sekolah. “Selain PMK juga liburan anak sekolah. Jadi sama sekali tidak sekolahan yang membeli hewan kurban untuk disembelih,” kata Ali Wafa, penjual hewan kurban.

Warga Jalan Kali Serang, Kecamatan Kaliwates ini mengatakan, dulu sebelum ada pagebluk dan saat masuk sekolah, paling sedikit sekolahan membeli lima ekor kambing untuk keperluan kurban. Namun tahun ini, bapak tiga anak itu mengaku, mendekat Idul Adha ia rata-rata hanya mampu menjual dua ekor kambing saja. “Kalau dulu, saat hari-hari terakhir mendekati Idul Adha, sehari bisa terjual enam ekor,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Di Lumajang, Warga Lebih Memilih Kambing untuk Kurban

Lima tahun berdagang hewan kurban di tempat tersebut, Ali menuturkan, belum pernah merasakan dagangan sesepi sekarang. Bahkan, ia terpaksa setiap hari bermalam di tempat berjualan sambil berharap ada pembeli yang datang. “Di tempat ini ada lima orang pedagang kambing. Mereka berasal dari seputaran Tegalbesar. Meski ada pula yang dari kawasan Rembangan,” imbuhnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Secara umum harga kambing kurban tidak naik dibandingkan tahun lalu. Namun, penjualannya tahun ini relatif sepi. Kondisi ini terlihat dari lapak pedagang kambing dadakan yang banyak berdiri di sepanjang Jalan Teuku Umar, Tegalbesar, Kecamatan, Jember. Bahkan, Kamis (7/7) sore atau tiga hari jelang Idul Adha, juga terlihat masih sepi.

Para pedagang mengungkapkan, lesunya penjualan kambing kurban karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang banyak menyerang ternak akhir-akhir ini. Selain itu, juga bertepatan dengan musim libur sekolah. “Selain PMK juga liburan anak sekolah. Jadi sama sekali tidak sekolahan yang membeli hewan kurban untuk disembelih,” kata Ali Wafa, penjual hewan kurban.

Warga Jalan Kali Serang, Kecamatan Kaliwates ini mengatakan, dulu sebelum ada pagebluk dan saat masuk sekolah, paling sedikit sekolahan membeli lima ekor kambing untuk keperluan kurban. Namun tahun ini, bapak tiga anak itu mengaku, mendekat Idul Adha ia rata-rata hanya mampu menjual dua ekor kambing saja. “Kalau dulu, saat hari-hari terakhir mendekati Idul Adha, sehari bisa terjual enam ekor,” ungkapnya.

BACA JUGA: Di Lumajang, Warga Lebih Memilih Kambing untuk Kurban

Lima tahun berdagang hewan kurban di tempat tersebut, Ali menuturkan, belum pernah merasakan dagangan sesepi sekarang. Bahkan, ia terpaksa setiap hari bermalam di tempat berjualan sambil berharap ada pembeli yang datang. “Di tempat ini ada lima orang pedagang kambing. Mereka berasal dari seputaran Tegalbesar. Meski ada pula yang dari kawasan Rembangan,” imbuhnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID- Secara umum harga kambing kurban tidak naik dibandingkan tahun lalu. Namun, penjualannya tahun ini relatif sepi. Kondisi ini terlihat dari lapak pedagang kambing dadakan yang banyak berdiri di sepanjang Jalan Teuku Umar, Tegalbesar, Kecamatan, Jember. Bahkan, Kamis (7/7) sore atau tiga hari jelang Idul Adha, juga terlihat masih sepi.

Para pedagang mengungkapkan, lesunya penjualan kambing kurban karena wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang banyak menyerang ternak akhir-akhir ini. Selain itu, juga bertepatan dengan musim libur sekolah. “Selain PMK juga liburan anak sekolah. Jadi sama sekali tidak sekolahan yang membeli hewan kurban untuk disembelih,” kata Ali Wafa, penjual hewan kurban.

Warga Jalan Kali Serang, Kecamatan Kaliwates ini mengatakan, dulu sebelum ada pagebluk dan saat masuk sekolah, paling sedikit sekolahan membeli lima ekor kambing untuk keperluan kurban. Namun tahun ini, bapak tiga anak itu mengaku, mendekat Idul Adha ia rata-rata hanya mampu menjual dua ekor kambing saja. “Kalau dulu, saat hari-hari terakhir mendekati Idul Adha, sehari bisa terjual enam ekor,” ungkapnya.

BACA JUGA: Di Lumajang, Warga Lebih Memilih Kambing untuk Kurban

Lima tahun berdagang hewan kurban di tempat tersebut, Ali menuturkan, belum pernah merasakan dagangan sesepi sekarang. Bahkan, ia terpaksa setiap hari bermalam di tempat berjualan sambil berharap ada pembeli yang datang. “Di tempat ini ada lima orang pedagang kambing. Mereka berasal dari seputaran Tegalbesar. Meski ada pula yang dari kawasan Rembangan,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/