alexametrics
27.5 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Hujan Lagi, Petani Tembakau Takut Gagal Panen

Mobile_AP_Rectangle 1

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Hujan yang kerap turun belakangan ini membuat petani tembakau di Jember waswas. Sebab, intensitas hujan dapat merusak tembakau dan menurunkan kualitas tanaman berjuluk daun emas tersebut. Bahkan, jika hujan yang mengguyur sangat deras, bisa mengakibatkan tanaman itu mati dan gagal panen.

Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro, kondisi cuaca sekarang ini memang sedang anomali. Sebab, biasanya pada bulan Agustus nyaris tidak ada hujan karena sudah memasuki musim kemarau. “Namun, sebagian kawasan di Jember turun hujan. Sehingga petani tembakau yang belum panen khawatir,” katanya.

Menurutnya, tanaman tembakau tidak banyak membutuhkan air. Untuk itu, jika di lahan yang ditanami tembakau kondisi airnya berlebih, maka bisa mengancam tanaman tembakau menjadi kerdil, memengaruhi kualitasnya, hingga tembakau bisa mati. “Kalau yang baru tanam, biasanya bisa mati. Kalau yang usia sebulan atau lebih, biasanya kerdil,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jumantoro menyebut, turunnya hujan di beberapa kawasan di Jember dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi, meski intensitasnya tidak begitu besar. Namun, jika petani tembakau Jember berniat menanam tembakau, saat ini disarankan agar berpikir ulang. “Petani yang belum panen cukup waswas. Makanya, kami menyarankan agar tidak menanam tembakau saat ini, karena hujan mulai datang,” ulasnya.

Saran itu bukan tanpa alasan. Jumantoro berkata, karena ada potensi saat tanaman besar atau sebelum panen, musim hujan keburu datang dengan intensitas yang cukup besar. “Jangan sampai, karena prediksi, petani tembakau jadi buntung. Lebih baik menanam tanaman yang tahan air karena hujan sudah terjadi di beberapa lokasi,” ujarnya.

- Advertisement -

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Hujan yang kerap turun belakangan ini membuat petani tembakau di Jember waswas. Sebab, intensitas hujan dapat merusak tembakau dan menurunkan kualitas tanaman berjuluk daun emas tersebut. Bahkan, jika hujan yang mengguyur sangat deras, bisa mengakibatkan tanaman itu mati dan gagal panen.

Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro, kondisi cuaca sekarang ini memang sedang anomali. Sebab, biasanya pada bulan Agustus nyaris tidak ada hujan karena sudah memasuki musim kemarau. “Namun, sebagian kawasan di Jember turun hujan. Sehingga petani tembakau yang belum panen khawatir,” katanya.

Menurutnya, tanaman tembakau tidak banyak membutuhkan air. Untuk itu, jika di lahan yang ditanami tembakau kondisi airnya berlebih, maka bisa mengancam tanaman tembakau menjadi kerdil, memengaruhi kualitasnya, hingga tembakau bisa mati. “Kalau yang baru tanam, biasanya bisa mati. Kalau yang usia sebulan atau lebih, biasanya kerdil,” paparnya.

Jumantoro menyebut, turunnya hujan di beberapa kawasan di Jember dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi, meski intensitasnya tidak begitu besar. Namun, jika petani tembakau Jember berniat menanam tembakau, saat ini disarankan agar berpikir ulang. “Petani yang belum panen cukup waswas. Makanya, kami menyarankan agar tidak menanam tembakau saat ini, karena hujan mulai datang,” ulasnya.

Saran itu bukan tanpa alasan. Jumantoro berkata, karena ada potensi saat tanaman besar atau sebelum panen, musim hujan keburu datang dengan intensitas yang cukup besar. “Jangan sampai, karena prediksi, petani tembakau jadi buntung. Lebih baik menanam tanaman yang tahan air karena hujan sudah terjadi di beberapa lokasi,” ujarnya.

ARJASA, RADARJEMBER.ID – Hujan yang kerap turun belakangan ini membuat petani tembakau di Jember waswas. Sebab, intensitas hujan dapat merusak tembakau dan menurunkan kualitas tanaman berjuluk daun emas tersebut. Bahkan, jika hujan yang mengguyur sangat deras, bisa mengakibatkan tanaman itu mati dan gagal panen.

Menurut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro, kondisi cuaca sekarang ini memang sedang anomali. Sebab, biasanya pada bulan Agustus nyaris tidak ada hujan karena sudah memasuki musim kemarau. “Namun, sebagian kawasan di Jember turun hujan. Sehingga petani tembakau yang belum panen khawatir,” katanya.

Menurutnya, tanaman tembakau tidak banyak membutuhkan air. Untuk itu, jika di lahan yang ditanami tembakau kondisi airnya berlebih, maka bisa mengancam tanaman tembakau menjadi kerdil, memengaruhi kualitasnya, hingga tembakau bisa mati. “Kalau yang baru tanam, biasanya bisa mati. Kalau yang usia sebulan atau lebih, biasanya kerdil,” paparnya.

Jumantoro menyebut, turunnya hujan di beberapa kawasan di Jember dalam beberapa hari terakhir kerap terjadi, meski intensitasnya tidak begitu besar. Namun, jika petani tembakau Jember berniat menanam tembakau, saat ini disarankan agar berpikir ulang. “Petani yang belum panen cukup waswas. Makanya, kami menyarankan agar tidak menanam tembakau saat ini, karena hujan mulai datang,” ulasnya.

Saran itu bukan tanpa alasan. Jumantoro berkata, karena ada potensi saat tanaman besar atau sebelum panen, musim hujan keburu datang dengan intensitas yang cukup besar. “Jangan sampai, karena prediksi, petani tembakau jadi buntung. Lebih baik menanam tanaman yang tahan air karena hujan sudah terjadi di beberapa lokasi,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/