Padi Roboh Ancam Gagal Panen

BERHARAP PANEN: Petani daerah Gumuk Bagong, Kelurahan Tegal Besar, berusaha mendirikan padinya yang roboh karena terpaan hujan angin. Robohnya padi dan mulai tergenangnya persawahan mengancam hasil panen petani.

JEMBER, RADARJEMBER.ID Sejumlah petani di daerah Tegal Besar harus berjibaku menyelamatkan padinya dengan mengikat batang padi. Sebab, padi yang hendak panen itu roboh akibat hujan deras disertai angin yang terjadi hampir setiap hari. Kondisi tersebut juga membuat tanaman mereka rawan gagal panen.

IKLAN

Madin bersama istrinya, Watini, tampak sibuk mengikat batang padi yang roboh di areal persawahan Lingkungan Gumuk Bagong, Tegal Besar. Madin pun masih beruntung, tidak semua padi yang ditanam di sawah seluas 2 hektare tersebut ambruk. Walau sebagian, dia tetap berharap bisa panen dengan hasil maksimal. “Padahal kurang satu mingguan lagi panen,” katanya.

Tak hanya sawah Madin yang kena dampak hujan deras dan angin kencang, sawah sekitarnya juga begitu. Padi-padi yang menguning tersebut mulai diikat per bagian. “Kalau yang sudah mau panen tinggal berapa hari saja enak,” tuturnya. Sebab, saat padi sudah menguning dan layak panen, bisa langsung dipanen walau sudah roboh.

Menurutnya, pengikatan harus cepat dilakukan untuk menyelamatkan padi yang roboh tersebut. Sebab, padi yang roboh rentan mengundang hawa wereng. Madin lalu menunjukkan bagian batang padi sudah terserang wereng. “Untung wereng masih menyerang bawah, semoga saja wereng tidak sampai ke atas,” harapnya.

Dampak hujan deras disertai angin yang terjadi hampir tiap hari tersebut juga mulai menggenangi persawahan. Padahal, idealnya saat panen, lebih baik lahan sawah itu kering atau basah, tapi tak sampai ada genangan air.

Kondisi berbeda dialami petani di wilayah Jember selatan. Meski tak sampai terancam gagal panen, tapi produktivitas padi mereka turun hingga 20 persen. Penurunan ini terjadi karena pada masa tanam lalu petani kekurangan pasokan air akibat kemarau panjang. Bahkan, di beberapa desa, petani sampai menggelar salat istisqa atau ritual meminta hujan.

Mustaqim, salah seorang petani asal Desa Wonosari, Kecamatan Puger, menuturkan, pada musim padi tahun sebelumnya, petani dapat membawa pulang gabah kering sawah (GKS) seberat enam ton per hektare. Tapi saat ini, hasil panennya berkurang drastis mencapai 20 persen. “Panen sekarang tak sampai lima ton per hektare. Karena saat tanam lalu petani kekurangan air, sehingga padinya kurus,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Jember Sucipto mengakui, selain berbagai kendala, baik cuaca maupun hama, pada musim tanam padi tahun ini memang ada perbedaan pola tanam dengan tahun sebelumnya. Jika tahun kemarin masa tanam berkesinambungan, maka tahun ini situasinya berbeda. Masa tanam justru serentak akibat kemarau panjang.

Keadaan seperti ini juga berpengaruh terhadap masa panen, sehingga hampir semua petani di Jember serentak memanen tanaman mereka di waktu yang nyaris bersamaan. Akibatnya, kata dia, ketika ada gejolak di masa panen, dampaknya sangat terasa bagi petani.

Lebih jauh dia memaparkan, jika sektor pertanian padi di Jember terganggu dan sampai memengaruhi produksi, maka efek dominonya juga bakal dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Jember, bahkan juga daerah lain. “Karena Jember ini lumbung pangan nasional. Maka harus dijaga stabilitas dan produksinya,” tandasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih