alexametrics
26.2 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Biar Sejahtera, Tak Cukup Budi Daya

Perlu Ada Pengembangan Produk Pertanian

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pertanian telah lama menjadi sektor penopang perekonomian Jember. Pertanian juga menjadi yang tertinggi penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB). Salah satu cara agar petani lebih sejahtera adalah petani harus memiliki nilai tambah, tidak lagi hanya budi daya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengatakan, berbicara pertanian di Jember, produksinya bagus, termasuk padi juga surplus. Tapi mengapa petani ini harus segera bangkit? Hal itu disebabkan tidak lain petani tidak memiliki nilai tambah. Sebab, kata Iwan, banyak petani Jember yang kegiatan pertaniannya hanya berkutat pada budi daya. “Petani budi daya itu setelah panen dijual ke pengepul atau makelar,” paparnya.

Menurut dia, untuk petani bisa bangkit dan sejahtera juga tidak selalu persoalan permodalan. Namun, bagaimana produksi petani itu memiliki nilai tambah. Salah satu contohnya adalah yang dulu pernah diterapkan dalam konsep koperasi unit desa (KUD). “Sebenarnya dulu KUD itu baik, tapi ada oknum yang tidak baik,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, jika satu desa itu memiliki penggilingan padi saja dan dimiliki oleh petani bukan perorangan, maka petani juga memiliki saham terhadap usaha itu. Maka, petani tidak lagi menjual hasil pertanian berupa gabah semata, tapi berupa beras. “Perusahaan giling keuntungannya juga bisa dinikmati petani, karena ada kepemilikan bersama,” paparnya.

Konsep semacam itu, tambah pria yang sebelumnya adalah dosen Teknologi Pertanian Unej ini, juga diterapkan di Belanda. “Kalau petani hanya budi daya, sampai kapan pun tidak akan kunjung sejahtera,” jelasnya. Berbeda bila petani itu memiliki lahan berhektare-hektare, maka dengan hanya mengandalkan budi daya pun sudah bisa sejahtera.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pertanian telah lama menjadi sektor penopang perekonomian Jember. Pertanian juga menjadi yang tertinggi penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB). Salah satu cara agar petani lebih sejahtera adalah petani harus memiliki nilai tambah, tidak lagi hanya budi daya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengatakan, berbicara pertanian di Jember, produksinya bagus, termasuk padi juga surplus. Tapi mengapa petani ini harus segera bangkit? Hal itu disebabkan tidak lain petani tidak memiliki nilai tambah. Sebab, kata Iwan, banyak petani Jember yang kegiatan pertaniannya hanya berkutat pada budi daya. “Petani budi daya itu setelah panen dijual ke pengepul atau makelar,” paparnya.

Menurut dia, untuk petani bisa bangkit dan sejahtera juga tidak selalu persoalan permodalan. Namun, bagaimana produksi petani itu memiliki nilai tambah. Salah satu contohnya adalah yang dulu pernah diterapkan dalam konsep koperasi unit desa (KUD). “Sebenarnya dulu KUD itu baik, tapi ada oknum yang tidak baik,” jelasnya.

Menurutnya, jika satu desa itu memiliki penggilingan padi saja dan dimiliki oleh petani bukan perorangan, maka petani juga memiliki saham terhadap usaha itu. Maka, petani tidak lagi menjual hasil pertanian berupa gabah semata, tapi berupa beras. “Perusahaan giling keuntungannya juga bisa dinikmati petani, karena ada kepemilikan bersama,” paparnya.

Konsep semacam itu, tambah pria yang sebelumnya adalah dosen Teknologi Pertanian Unej ini, juga diterapkan di Belanda. “Kalau petani hanya budi daya, sampai kapan pun tidak akan kunjung sejahtera,” jelasnya. Berbeda bila petani itu memiliki lahan berhektare-hektare, maka dengan hanya mengandalkan budi daya pun sudah bisa sejahtera.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pertanian telah lama menjadi sektor penopang perekonomian Jember. Pertanian juga menjadi yang tertinggi penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB). Salah satu cara agar petani lebih sejahtera adalah petani harus memiliki nilai tambah, tidak lagi hanya budi daya.

Rektor Universitas Jember (Unej) Iwan Taruna mengatakan, berbicara pertanian di Jember, produksinya bagus, termasuk padi juga surplus. Tapi mengapa petani ini harus segera bangkit? Hal itu disebabkan tidak lain petani tidak memiliki nilai tambah. Sebab, kata Iwan, banyak petani Jember yang kegiatan pertaniannya hanya berkutat pada budi daya. “Petani budi daya itu setelah panen dijual ke pengepul atau makelar,” paparnya.

Menurut dia, untuk petani bisa bangkit dan sejahtera juga tidak selalu persoalan permodalan. Namun, bagaimana produksi petani itu memiliki nilai tambah. Salah satu contohnya adalah yang dulu pernah diterapkan dalam konsep koperasi unit desa (KUD). “Sebenarnya dulu KUD itu baik, tapi ada oknum yang tidak baik,” jelasnya.

Menurutnya, jika satu desa itu memiliki penggilingan padi saja dan dimiliki oleh petani bukan perorangan, maka petani juga memiliki saham terhadap usaha itu. Maka, petani tidak lagi menjual hasil pertanian berupa gabah semata, tapi berupa beras. “Perusahaan giling keuntungannya juga bisa dinikmati petani, karena ada kepemilikan bersama,” paparnya.

Konsep semacam itu, tambah pria yang sebelumnya adalah dosen Teknologi Pertanian Unej ini, juga diterapkan di Belanda. “Kalau petani hanya budi daya, sampai kapan pun tidak akan kunjung sejahtera,” jelasnya. Berbeda bila petani itu memiliki lahan berhektare-hektare, maka dengan hanya mengandalkan budi daya pun sudah bisa sejahtera.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/