alexametrics
23.2 C
Jember
Monday, 15 August 2022

Harga Pupuk Nonsubsidi Sampai Lima Kali Lipat dari Harga Pupuk Subsidi

Mobile_AP_Rectangle 1

MANGLI, Radar Jember – Alokasi pupuk di Kabupaten Jember jauh dari target yang tercantum pada sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Terlebih, peningkatan harga pupuk nonsubsidi yang cukup signifikan membuat petani mengeluh. Bahkan selisihnya bisa lima kali lipat.

BACA JUGA : Pabrik Pupuk Gagal Dibangun!

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pupuk sangat dibutuhkan petani di Jember. Terlebih dengan harga pupuk nonsubsidi yang naik signifikan. Salah satunya pupuk urea. Pada tahun 2021 selisih dengan nonsubsidi hanya dua kali lipat. Sedangkan tahun ini selisihnya mencapai lima kali lipat. “Ini terbukti dengan pupuk subsidi urea sebesar Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram di tingkat kios,” ujar Jumantoro kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk dapat mencukupi kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai dengan permintaan di dalam E-RDKK tahun 2022. “Khususnya pupuk subsidi jenis urea dan NPK. Sebab, kalau menggunakan pupuk nonsubsidi, biaya produksinya meningkat signifikan,” tuturnya.

Dalam E-RDKK, kebutuhan pupuk urea Jember sebesar 73.635 ton, tapi alokasinya sebesar 59.856 ton. Sedangkan NPK dalam E-RDKK sebesar 77.827 ton dan alokasi yang didapat hanya 34 persen atau 26.850 ton. Dia mengungkap, kenaikan pupuk nonsubsidi saat ini terlalu tinggi dibandingkan tahun 2021 lalu. Dia mencontohkan, tahun lalu harga urea nonsubsidi hanya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 650 ribu per kuintal. Saat ini harga urea nonsubsidi Rp 1,1 sampai Rp 1,2 juta per kuintal. Terjadi kenaikan harga produksi setidaknya 30 persen. “Jika tidak ada tambahan pupuk subsidi, dipastikan petani kelimpungan. Apalagi ZA dan SP 36 per bulan Juni tidak ada subsidi,” imbuhnya.

- Advertisement -

MANGLI, Radar Jember – Alokasi pupuk di Kabupaten Jember jauh dari target yang tercantum pada sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Terlebih, peningkatan harga pupuk nonsubsidi yang cukup signifikan membuat petani mengeluh. Bahkan selisihnya bisa lima kali lipat.

BACA JUGA : Pabrik Pupuk Gagal Dibangun!

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pupuk sangat dibutuhkan petani di Jember. Terlebih dengan harga pupuk nonsubsidi yang naik signifikan. Salah satunya pupuk urea. Pada tahun 2021 selisih dengan nonsubsidi hanya dua kali lipat. Sedangkan tahun ini selisihnya mencapai lima kali lipat. “Ini terbukti dengan pupuk subsidi urea sebesar Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram di tingkat kios,” ujar Jumantoro kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Dirinya berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk dapat mencukupi kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai dengan permintaan di dalam E-RDKK tahun 2022. “Khususnya pupuk subsidi jenis urea dan NPK. Sebab, kalau menggunakan pupuk nonsubsidi, biaya produksinya meningkat signifikan,” tuturnya.

Dalam E-RDKK, kebutuhan pupuk urea Jember sebesar 73.635 ton, tapi alokasinya sebesar 59.856 ton. Sedangkan NPK dalam E-RDKK sebesar 77.827 ton dan alokasi yang didapat hanya 34 persen atau 26.850 ton. Dia mengungkap, kenaikan pupuk nonsubsidi saat ini terlalu tinggi dibandingkan tahun 2021 lalu. Dia mencontohkan, tahun lalu harga urea nonsubsidi hanya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 650 ribu per kuintal. Saat ini harga urea nonsubsidi Rp 1,1 sampai Rp 1,2 juta per kuintal. Terjadi kenaikan harga produksi setidaknya 30 persen. “Jika tidak ada tambahan pupuk subsidi, dipastikan petani kelimpungan. Apalagi ZA dan SP 36 per bulan Juni tidak ada subsidi,” imbuhnya.

MANGLI, Radar Jember – Alokasi pupuk di Kabupaten Jember jauh dari target yang tercantum pada sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (E-RDKK). Terlebih, peningkatan harga pupuk nonsubsidi yang cukup signifikan membuat petani mengeluh. Bahkan selisihnya bisa lima kali lipat.

BACA JUGA : Pabrik Pupuk Gagal Dibangun!

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pupuk sangat dibutuhkan petani di Jember. Terlebih dengan harga pupuk nonsubsidi yang naik signifikan. Salah satunya pupuk urea. Pada tahun 2021 selisih dengan nonsubsidi hanya dua kali lipat. Sedangkan tahun ini selisihnya mencapai lima kali lipat. “Ini terbukti dengan pupuk subsidi urea sebesar Rp 2.250 per kilogram, sedangkan harga pupuk nonsubsidi urea sebesar Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu per kilogram di tingkat kios,” ujar Jumantoro kepada Jawa Pos Radar Jember, kemarin.

Dirinya berharap kepada pemerintah pusat maupun daerah untuk dapat mencukupi kebutuhan pupuk bersubsidi sesuai dengan permintaan di dalam E-RDKK tahun 2022. “Khususnya pupuk subsidi jenis urea dan NPK. Sebab, kalau menggunakan pupuk nonsubsidi, biaya produksinya meningkat signifikan,” tuturnya.

Dalam E-RDKK, kebutuhan pupuk urea Jember sebesar 73.635 ton, tapi alokasinya sebesar 59.856 ton. Sedangkan NPK dalam E-RDKK sebesar 77.827 ton dan alokasi yang didapat hanya 34 persen atau 26.850 ton. Dia mengungkap, kenaikan pupuk nonsubsidi saat ini terlalu tinggi dibandingkan tahun 2021 lalu. Dia mencontohkan, tahun lalu harga urea nonsubsidi hanya berkisar Rp 500 ribu sampai Rp 650 ribu per kuintal. Saat ini harga urea nonsubsidi Rp 1,1 sampai Rp 1,2 juta per kuintal. Terjadi kenaikan harga produksi setidaknya 30 persen. “Jika tidak ada tambahan pupuk subsidi, dipastikan petani kelimpungan. Apalagi ZA dan SP 36 per bulan Juni tidak ada subsidi,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/