Produksi Mina Padi Masih Rendah

Perlu Pemetaan Areal Persawahan yang Cocok

BERCOCOK TANAM: Petani di daerah Karangrejo, Sumbersari, mulai memasuki musim tanam kedua tahun ini. Musim tanam seperti ini menjadi waktu yang cocok untuk menerapkan mina padi. Sayangnya, produksi perikanan mina padi masih rendah pada 2019 kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Sistem penggabungan antara budidaya ikan dan pertanian padi atau disebut mina padi masih kurang optimal. Sebab, hasil produksi ikan dengan sistem mina padi hanya delapan ton per tahun dan jumlah itu masih jauh dari target. Padahal, jika diterapkan maksimal, petani akan untung berganda karena mendapatkan hasil ikan dan padi sekaligus.

IKLAN

Bupati Jember dr Faida MMR, dalam rapat paripurna di DPRD awal pekan ini mengatakan, secara umum hasil perikanan di Jember cukup baik. Namun, ada beberapa sektor produksi perikanan kurang maksimal.

Menurutnya, perikanan tangkap pada 2019 mencapai 9.842 ton dan jumlah tersebut melebihi target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) sebesar 9.814 ton. Sementara itu, perikanan budi daya tambak mencapai 1.613 ton dari target 1.525 ton. Sementara untuk perikanan budi daya kolam 11.345 ton juga melebihi target. Sedangkan untuk perikanan budidaya mina padi hanya 8 ton pada 2019, padahal target RPJMD adalah 15 ton.

Sementara itu, dosen Pertanian Universitas Jember, Prof Soetriono menjelaskan, rendahnya produksi perikanan mina padi dan tidak mencapai target lantaran untuk pengembangan sistem pertanian mina padi tidak mudah dan perlu waktu. Dia mencontohkan pembinaan mina padi dari World Bank yaitu di daerah Pasuruan dan Wajak, Malang. Di dua daerah itu pun hasil produksi minapadi, baik ikan dan padinya, tidak sesuai harapan. “Itu petaninya sudah ada pendampingan yang cukup lama. Tapi hasilnya masih kurang optimal,” ujarnya.

Mina padi di Kecamatan Purworejo, Pasuruan, faktor yang diperhatikan adalah volume produksi ikan dan produksi padi. Artinya, harus tepat dan seimbang. Hal yang kurang signifikan adalah faktor harga jual ikan. Karena kebutuhan ikan di pasar setempat masih kurang.

Menurut Soetriono, untuk mengembangkan sistem pertanian mina padi juga tidak boleh asal-asalan. Artinya, kondisi geografis, sawah, air, varietas padi, dan SDM petani perlu diperhatikan. Sebab, tidak semua sawah itu cocok dengan sistem mina padi ini. “Memang sistem mina padi ini baik, petani bisa dapat ikan dan padi,” tuturnya.

Di daerah lereng gunung yang senantiasa airnya melimpah atau daerah cekungan, tentu saja menjadi tempat yang cocok. Karena Jember itu ada daerah lereng gunung, dia mengungkapkan, tentu saja ada potensi mengembangkan mina padi. “Tapi pertanyaannya, di Jember yang cocok itu daerah mana? Apalagi, varietas padi yang digunakan juga harus tepat. Artinya, memakai varietas padi yang tahan air,” jelasnya.

Untuk ikan, biasanya jenis ikan lele atau nila dengan tinggi air setidaknya 35 sentimeter. Dengan demikian, sawah pun harus dalam. Sementara waktu panennya, kata dia, jika di Pasuruan panen ikannya di usia rata-rata 110 hari. Sedangkan penebaran benih ikan 5 sampai 9 hari setelah waktu tanam. Jika petani di Jember akan menerapkan sistem mina padi tersebut, sekaranglah saatnya. Sebab, saat ini tengah memasuki musim tanam kedua. Petani bisa mulai menyiapkan untuk menabur benih ikan di areal persawahan.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih