alexametrics
23.4 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Masih Muda Sudah Dipanen

Serangan Wereng Bikin Petani Waswas

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Derita petani sepertinya belum berujung. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pengurangan kuota pupuk bersubsidi, kali ini mereka didera dengan serangan hama. Bahkan, ada petani yang gagal panen lantaran tanaman padi mereka ludes diserang wereng. Agar tak menular ke tanaman lainnya, petani sampai membakar lahan padi tersebut.

Dampak serangan wereng itu juga memaksa petani memanen padi mereka lebih awal dari waktu seharusnya. Padi yang dipetik masih berusia muda. Kondisi seperti itu terjadi di wilayah Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah.

Ketua Gapoktan Jaya Makmur Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Muhammad Ikrom mengungkapkan, petani di daerahnya terpaksa memanen lebih awal. Luasnya mencapai puluhan hektare sawah. Hal itu disebutnya berpengaruh terhadap hasil panen yang diperoleh. Karena padi yang dipetik sebelum waktunya, kualitas dan bobotnya jauh lebih rendah. Akibatnya, juga berpengaruh terhadap harga jual.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurut Ikrom, harga jual gabah yang belum terserang hama masih cukup tinggi. Berkisar Rp 400 ribu per kuintal untuk gabah kering sawah (GKS). Namun, untuk tanaman padi yang mutunya kurang bagus karena diserang hama, harganya jatuh menjadi sekitar Rp 300 ribu per kuintal. “Petani memilih memanen paksa tanaman padinya yang belum cukup umur. Ketimbang menunggu waktu, tapi malah tidak panen. Sekarang ini hama memang sudah merajalela,” katanya.

Ikrom membeberkan, untuk padi jenis IR, umurnya mencapai 90 hari. Namun oleh petani, umur 80 hari sudah dipanen. Sedangkan bibit jenis Sertani umurnya hingga 120 hari, tapi sebelum mencapai waktunya, sudah dipanen lebih dulu. “Pertimbangan petani itu sederhana. Daripada tidak keduman karena terserang hama lebih dulu, lebih baik dipanen saja,” tuturnya.

Di wilayah Gapoktan Jaya Makmur, tidak ada petani yang sampai membakar lahan mereka. Sebab, para petani sudah mengantisipasi dengan melakukan penyemprotan, sehingga hama wereng tidak sampai merusak tanaman. Namun, petani memilih memanen paksa karena petani di wilayah desa lain seperti di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ada yang sampai membakar tanaman padinya karena puso alias gagal panen.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Kertonegoro, selain petani tidak ingin wereng itu merembet ke tanaman lain, alasan mereka membakar lahan itu karena untuk menghemat biaya. Sebab, kalau lahan dibersihkan secara manual, memakan biaya cukup besar. Kalaupun akan dipanen dengan mengambil yang tersisa, gabahnya tidak bisa dijual lantaran kosong. Saat ini, para petani dan pemerintah desa setempat telah berkoordinasi dengan dinas terkait. Beberapa kelompok tani juga telah melakukan penyemprotan massal.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Derita petani sepertinya belum berujung. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pengurangan kuota pupuk bersubsidi, kali ini mereka didera dengan serangan hama. Bahkan, ada petani yang gagal panen lantaran tanaman padi mereka ludes diserang wereng. Agar tak menular ke tanaman lainnya, petani sampai membakar lahan padi tersebut.

Dampak serangan wereng itu juga memaksa petani memanen padi mereka lebih awal dari waktu seharusnya. Padi yang dipetik masih berusia muda. Kondisi seperti itu terjadi di wilayah Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah.

Ketua Gapoktan Jaya Makmur Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Muhammad Ikrom mengungkapkan, petani di daerahnya terpaksa memanen lebih awal. Luasnya mencapai puluhan hektare sawah. Hal itu disebutnya berpengaruh terhadap hasil panen yang diperoleh. Karena padi yang dipetik sebelum waktunya, kualitas dan bobotnya jauh lebih rendah. Akibatnya, juga berpengaruh terhadap harga jual.

Menurut Ikrom, harga jual gabah yang belum terserang hama masih cukup tinggi. Berkisar Rp 400 ribu per kuintal untuk gabah kering sawah (GKS). Namun, untuk tanaman padi yang mutunya kurang bagus karena diserang hama, harganya jatuh menjadi sekitar Rp 300 ribu per kuintal. “Petani memilih memanen paksa tanaman padinya yang belum cukup umur. Ketimbang menunggu waktu, tapi malah tidak panen. Sekarang ini hama memang sudah merajalela,” katanya.

Ikrom membeberkan, untuk padi jenis IR, umurnya mencapai 90 hari. Namun oleh petani, umur 80 hari sudah dipanen. Sedangkan bibit jenis Sertani umurnya hingga 120 hari, tapi sebelum mencapai waktunya, sudah dipanen lebih dulu. “Pertimbangan petani itu sederhana. Daripada tidak keduman karena terserang hama lebih dulu, lebih baik dipanen saja,” tuturnya.

Di wilayah Gapoktan Jaya Makmur, tidak ada petani yang sampai membakar lahan mereka. Sebab, para petani sudah mengantisipasi dengan melakukan penyemprotan, sehingga hama wereng tidak sampai merusak tanaman. Namun, petani memilih memanen paksa karena petani di wilayah desa lain seperti di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ada yang sampai membakar tanaman padinya karena puso alias gagal panen.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Kertonegoro, selain petani tidak ingin wereng itu merembet ke tanaman lain, alasan mereka membakar lahan itu karena untuk menghemat biaya. Sebab, kalau lahan dibersihkan secara manual, memakan biaya cukup besar. Kalaupun akan dipanen dengan mengambil yang tersisa, gabahnya tidak bisa dijual lantaran kosong. Saat ini, para petani dan pemerintah desa setempat telah berkoordinasi dengan dinas terkait. Beberapa kelompok tani juga telah melakukan penyemprotan massal.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Derita petani sepertinya belum berujung. Setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan pengurangan kuota pupuk bersubsidi, kali ini mereka didera dengan serangan hama. Bahkan, ada petani yang gagal panen lantaran tanaman padi mereka ludes diserang wereng. Agar tak menular ke tanaman lainnya, petani sampai membakar lahan padi tersebut.

Dampak serangan wereng itu juga memaksa petani memanen padi mereka lebih awal dari waktu seharusnya. Padi yang dipetik masih berusia muda. Kondisi seperti itu terjadi di wilayah Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah.

Ketua Gapoktan Jaya Makmur Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Muhammad Ikrom mengungkapkan, petani di daerahnya terpaksa memanen lebih awal. Luasnya mencapai puluhan hektare sawah. Hal itu disebutnya berpengaruh terhadap hasil panen yang diperoleh. Karena padi yang dipetik sebelum waktunya, kualitas dan bobotnya jauh lebih rendah. Akibatnya, juga berpengaruh terhadap harga jual.

Menurut Ikrom, harga jual gabah yang belum terserang hama masih cukup tinggi. Berkisar Rp 400 ribu per kuintal untuk gabah kering sawah (GKS). Namun, untuk tanaman padi yang mutunya kurang bagus karena diserang hama, harganya jatuh menjadi sekitar Rp 300 ribu per kuintal. “Petani memilih memanen paksa tanaman padinya yang belum cukup umur. Ketimbang menunggu waktu, tapi malah tidak panen. Sekarang ini hama memang sudah merajalela,” katanya.

Ikrom membeberkan, untuk padi jenis IR, umurnya mencapai 90 hari. Namun oleh petani, umur 80 hari sudah dipanen. Sedangkan bibit jenis Sertani umurnya hingga 120 hari, tapi sebelum mencapai waktunya, sudah dipanen lebih dulu. “Pertimbangan petani itu sederhana. Daripada tidak keduman karena terserang hama lebih dulu, lebih baik dipanen saja,” tuturnya.

Di wilayah Gapoktan Jaya Makmur, tidak ada petani yang sampai membakar lahan mereka. Sebab, para petani sudah mengantisipasi dengan melakukan penyemprotan, sehingga hama wereng tidak sampai merusak tanaman. Namun, petani memilih memanen paksa karena petani di wilayah desa lain seperti di Desa Kertonegoro, Kecamatan Jenggawah, ada yang sampai membakar tanaman padinya karena puso alias gagal panen.

Penelusuran Jawa Pos Radar Jember di Desa Kertonegoro, selain petani tidak ingin wereng itu merembet ke tanaman lain, alasan mereka membakar lahan itu karena untuk menghemat biaya. Sebab, kalau lahan dibersihkan secara manual, memakan biaya cukup besar. Kalaupun akan dipanen dengan mengambil yang tersisa, gabahnya tidak bisa dijual lantaran kosong. Saat ini, para petani dan pemerintah desa setempat telah berkoordinasi dengan dinas terkait. Beberapa kelompok tani juga telah melakukan penyemprotan massal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/