Muhammad Ali, petani jagung daerah Jenggawah, terlihat serius masih menjemur jagung hingga sore hari. “Sekarang cocok cuacanya untuk menjemur,” ucapnya. Panasnya cuaca memberi hasil maksimal pada jagung kering, karena hanya butuh waktu empat hari untuk menjemurnya.
Menurut dia, harga jagung pada puasa ini mengalami kenaikan. Di tingkat petani, jagung yang masih berupa bonggolan dihargai Rp 2 ribu per kilogram. Sementara untuk jagung kering pipilan yang masuk ke pabrik dihargai Rp 5.200 per kilogram. Petani jagung pun bisa tersenyum dengan harga yang cukup baik tersebut.
Tetapi, kondisi serupa tak bisa dirasakan oleh petani padi. Pada panen raya kali ini, justru harga gabah tidak kunjung mengalami kenaikan. “Harga gabah sekarang Rp 3.700 per kilogram. Sudah dapat pupuk rumit, harganya gabahnya murah,” ucap Mujianto, petani asal Ajung.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro kepada Jawa Pos Radar Jember mengatakan, harga gabah masih tetap di bawah rata-rata. “Harganya gabah itu tetap. Tetap anjlok. Barusan petani daerah selatan melaporkan harga gabah dari sawah itu Rp 3.400 per kilogram. Tapi juga ada yang Rp 3.500 per kilogram dan paling tinggi Rp 3.700 per kilogram,” jelasnya.
Jumantoro mengaku, dengan harga sekitar Rp 3,5 ribu per kilogram, seharusnya harga beras itu 50 persen dari harga gabah, berarti Rp 7 ribu per kilogram. “Tapi kenyataannya paling murah itu Rp 9 ribu per kilogram. Itu beras medium yang kualitasnya tidak seperti premium,” paparnya.
Padahal, lanjut dia, harga jagung mencapai sekitar Rp 5 ribu per kilogram untuk pipilan kering. “Berarti lebih menguntungkan tanam jagung daripada padi. Kalau harga gabah seperti ini terus, lebih baik tanam jagung,” jelasnya.
Apalagi, prosedur tanam jagung lebih mudah daripada padi. “Tanam jagung tidak bingung tentang pengairan, hama penyakit juga jarang. Jadi, lebih mudah perawatannya,” imbuhnya.
Sementara itu, Mulyadi, petani di daerah Karangrejo yang tengah menjemur gabahnya, kemarin siang (21/4), memilih tidak menjual gabahnya karena harga gabah yang masih belum kondusif. Hasil produksi sawahnya juga tidak terlalu besar. “Dipakai sendiri gabahnya. Disimpan dan dimakan sendiri,” jelasnya.
Jurnalis : Dwi Siswanto, Nur Hariri
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti Editor : Radar Digital