alexametrics
23.4 C
Jember
Wednesday, 8 December 2021

Pendidikan Diniyah Formal

Mobile_AP_Rectangle 1

 

TAHUN 2015 menjadi tahun pertama operasionalnya satuan pendidikan baru yang dikenal sebagai Pendidikan Diniyah Formal, atau disingkat PDF. PDF adalah pendidikan pesantren yang diselenggarakan pada jalur pendidikan formal sesuai kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur (PMA 31/2020, pasal 1 poin 7). Kurikulum PDF terdiri atas kurikulum pesantren dan kurikulum pendidikan umum. Kurikulum pendidikan pesantren sepenuhnya berbasis kitab kuning, sedang kurikulum pendidikan umum untuk PDF Ula dan PDF Wustha memasukkan muatan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS, sedang PDF Ulya ditambah muatan seni dan budaya. Jadi, PDF ini hanya boleh dirintis di pesantren, sebagai pendidikan formal yang khas pesantren. Sebagai bagian dari kekhasan pendidikan pesantren sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Ada delapan satuan pendidikan yang dirintis sebagai PDF pada tahun 2015 oleh Kementerian Agama RI. Masing-masing 3 lembaga di Jawa Timur, 2 lembaga di Jawa Tengah, 2 lembaga di Jawa Barat, dan 1 lembaga di Aceh sebagai representasi area luar Jawa. Khusus di Jawa Timur, rintisan PDF dikembangkan di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Genggong Kraksaan Probolinggo, dan Pesantren Nurul Qodim di Probolinggo. Kedelapan rintisan PDF ini telah intens melakukan koordinasi, telah melakukan studi banding manajemen pembelajaran bahasa Arab ke Libanon, dan mulai operasional sejak tahun ajaran 2015/2016.

Mobile_AP_Rectangle 2

Penamaan PDF, sesuai dengan nomenklatur yang termaktub dalam PP Nompr 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dan PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang berlaku sejak tanggal 18 Juni 2014. Dalam PP 55 Tahun 2017 tersebut bahwa pendidikan keagamaan Islam terdiri atas pesantren dan pendidikan diniyah, demikian pula dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam mengatur tentang Pesantren dan Pendidikan Diniyah. Namun, dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam tersebut misalnya ditegaskan bahwa pesantren dapat berbentuk satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Sebagai penyelenggara pendidikan, pesantren dapat menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan lainnya meliputi: pendidikan diniyah formal, pendidikan diniyah nonformal, pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas Islam, pendidikan kejuruan, pendidikan kesetaraan, pendidikan mu’adalah, pendidikan tinggi, dan/atau program pendidikan lainnya.

Implementasi PMA 13 Tahun 2014 menjadi sangat penting, karena secara historis, sejak diberlakukannya SKB Tiga Menteri Tahun 1975 (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri) tentang Peningkatan Mutu Pendidikan Pada Madrasah, maka ijazah dan lulusan madrasah dinilai sama dengan ijazah dan lulusan umum yang setingkat. Selain itu, terjadi perubahan dalam skala masif madrasah diniyah menjadi MI, MTs, dan MA baik di dalam maupun di luar pesantren yang kemudian dinamakan pendidikan umum berciri khas agama Islam. Juga, berdirinya berbagai varian jenjang, jenis, dan satuan pendidikan (pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas agama Islam maupun pendidikan kejuruan mulai pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs), pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) sampai dengan pendidikan tinggi di pesantren).

Selain mengatur tentang pesantren, PMA Nomor 13 Tahun 2014 juga mengatur tentang pendidikan diniyah, dan sekaligus memberikan jaminan pengembangan pendidikan diniyah ke depan. Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan yang terdiri atas: (1) Pendidikan diniyah formal adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam oleh dan berada di dalam pondok pesantren secara terstruktur dan berjenjang pada jalur pendidikan formal. (2) Pendidikan diniyah nonformal adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan dalam bentuk Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pendidikan Alquran, Majelis Taklim, atau bentuk lain yang sejenis baik di dalam maupun di luar pesantren pada jalur pendidikan nonformal, dan (3) Pendidikan diniyah informal adalah pendidikan keagamaan Islam dalam bentuk program yang diselenggarakan di lingkungan keluarga pada jalur pendidikan informal.

- Advertisement -

 

TAHUN 2015 menjadi tahun pertama operasionalnya satuan pendidikan baru yang dikenal sebagai Pendidikan Diniyah Formal, atau disingkat PDF. PDF adalah pendidikan pesantren yang diselenggarakan pada jalur pendidikan formal sesuai kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur (PMA 31/2020, pasal 1 poin 7). Kurikulum PDF terdiri atas kurikulum pesantren dan kurikulum pendidikan umum. Kurikulum pendidikan pesantren sepenuhnya berbasis kitab kuning, sedang kurikulum pendidikan umum untuk PDF Ula dan PDF Wustha memasukkan muatan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS, sedang PDF Ulya ditambah muatan seni dan budaya. Jadi, PDF ini hanya boleh dirintis di pesantren, sebagai pendidikan formal yang khas pesantren. Sebagai bagian dari kekhasan pendidikan pesantren sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Ada delapan satuan pendidikan yang dirintis sebagai PDF pada tahun 2015 oleh Kementerian Agama RI. Masing-masing 3 lembaga di Jawa Timur, 2 lembaga di Jawa Tengah, 2 lembaga di Jawa Barat, dan 1 lembaga di Aceh sebagai representasi area luar Jawa. Khusus di Jawa Timur, rintisan PDF dikembangkan di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Genggong Kraksaan Probolinggo, dan Pesantren Nurul Qodim di Probolinggo. Kedelapan rintisan PDF ini telah intens melakukan koordinasi, telah melakukan studi banding manajemen pembelajaran bahasa Arab ke Libanon, dan mulai operasional sejak tahun ajaran 2015/2016.

Penamaan PDF, sesuai dengan nomenklatur yang termaktub dalam PP Nompr 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dan PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang berlaku sejak tanggal 18 Juni 2014. Dalam PP 55 Tahun 2017 tersebut bahwa pendidikan keagamaan Islam terdiri atas pesantren dan pendidikan diniyah, demikian pula dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam mengatur tentang Pesantren dan Pendidikan Diniyah. Namun, dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam tersebut misalnya ditegaskan bahwa pesantren dapat berbentuk satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Sebagai penyelenggara pendidikan, pesantren dapat menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan lainnya meliputi: pendidikan diniyah formal, pendidikan diniyah nonformal, pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas Islam, pendidikan kejuruan, pendidikan kesetaraan, pendidikan mu’adalah, pendidikan tinggi, dan/atau program pendidikan lainnya.

Implementasi PMA 13 Tahun 2014 menjadi sangat penting, karena secara historis, sejak diberlakukannya SKB Tiga Menteri Tahun 1975 (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri) tentang Peningkatan Mutu Pendidikan Pada Madrasah, maka ijazah dan lulusan madrasah dinilai sama dengan ijazah dan lulusan umum yang setingkat. Selain itu, terjadi perubahan dalam skala masif madrasah diniyah menjadi MI, MTs, dan MA baik di dalam maupun di luar pesantren yang kemudian dinamakan pendidikan umum berciri khas agama Islam. Juga, berdirinya berbagai varian jenjang, jenis, dan satuan pendidikan (pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas agama Islam maupun pendidikan kejuruan mulai pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs), pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) sampai dengan pendidikan tinggi di pesantren).

Selain mengatur tentang pesantren, PMA Nomor 13 Tahun 2014 juga mengatur tentang pendidikan diniyah, dan sekaligus memberikan jaminan pengembangan pendidikan diniyah ke depan. Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan yang terdiri atas: (1) Pendidikan diniyah formal adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam oleh dan berada di dalam pondok pesantren secara terstruktur dan berjenjang pada jalur pendidikan formal. (2) Pendidikan diniyah nonformal adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan dalam bentuk Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pendidikan Alquran, Majelis Taklim, atau bentuk lain yang sejenis baik di dalam maupun di luar pesantren pada jalur pendidikan nonformal, dan (3) Pendidikan diniyah informal adalah pendidikan keagamaan Islam dalam bentuk program yang diselenggarakan di lingkungan keluarga pada jalur pendidikan informal.

 

TAHUN 2015 menjadi tahun pertama operasionalnya satuan pendidikan baru yang dikenal sebagai Pendidikan Diniyah Formal, atau disingkat PDF. PDF adalah pendidikan pesantren yang diselenggarakan pada jalur pendidikan formal sesuai kekhasan pesantren yang berbasis kitab kuning secara berjenjang dan terstruktur (PMA 31/2020, pasal 1 poin 7). Kurikulum PDF terdiri atas kurikulum pesantren dan kurikulum pendidikan umum. Kurikulum pendidikan pesantren sepenuhnya berbasis kitab kuning, sedang kurikulum pendidikan umum untuk PDF Ula dan PDF Wustha memasukkan muatan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan IPS, sedang PDF Ulya ditambah muatan seni dan budaya. Jadi, PDF ini hanya boleh dirintis di pesantren, sebagai pendidikan formal yang khas pesantren. Sebagai bagian dari kekhasan pendidikan pesantren sekaligus sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional.

Ada delapan satuan pendidikan yang dirintis sebagai PDF pada tahun 2015 oleh Kementerian Agama RI. Masing-masing 3 lembaga di Jawa Timur, 2 lembaga di Jawa Tengah, 2 lembaga di Jawa Barat, dan 1 lembaga di Aceh sebagai representasi area luar Jawa. Khusus di Jawa Timur, rintisan PDF dikembangkan di Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Genggong Kraksaan Probolinggo, dan Pesantren Nurul Qodim di Probolinggo. Kedelapan rintisan PDF ini telah intens melakukan koordinasi, telah melakukan studi banding manajemen pembelajaran bahasa Arab ke Libanon, dan mulai operasional sejak tahun ajaran 2015/2016.

Penamaan PDF, sesuai dengan nomenklatur yang termaktub dalam PP Nompr 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan dan PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam yang berlaku sejak tanggal 18 Juni 2014. Dalam PP 55 Tahun 2017 tersebut bahwa pendidikan keagamaan Islam terdiri atas pesantren dan pendidikan diniyah, demikian pula dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam mengatur tentang Pesantren dan Pendidikan Diniyah. Namun, dalam PMA Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam tersebut misalnya ditegaskan bahwa pesantren dapat berbentuk satuan pendidikan dan penyelenggara pendidikan. Sebagai penyelenggara pendidikan, pesantren dapat menyelenggarakan satuan dan/atau program pendidikan lainnya meliputi: pendidikan diniyah formal, pendidikan diniyah nonformal, pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas Islam, pendidikan kejuruan, pendidikan kesetaraan, pendidikan mu’adalah, pendidikan tinggi, dan/atau program pendidikan lainnya.

Implementasi PMA 13 Tahun 2014 menjadi sangat penting, karena secara historis, sejak diberlakukannya SKB Tiga Menteri Tahun 1975 (Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri) tentang Peningkatan Mutu Pendidikan Pada Madrasah, maka ijazah dan lulusan madrasah dinilai sama dengan ijazah dan lulusan umum yang setingkat. Selain itu, terjadi perubahan dalam skala masif madrasah diniyah menjadi MI, MTs, dan MA baik di dalam maupun di luar pesantren yang kemudian dinamakan pendidikan umum berciri khas agama Islam. Juga, berdirinya berbagai varian jenjang, jenis, dan satuan pendidikan (pendidikan umum, pendidikan umum berciri khas agama Islam maupun pendidikan kejuruan mulai pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs), pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) sampai dengan pendidikan tinggi di pesantren).

Selain mengatur tentang pesantren, PMA Nomor 13 Tahun 2014 juga mengatur tentang pendidikan diniyah, dan sekaligus memberikan jaminan pengembangan pendidikan diniyah ke depan. Pendidikan diniyah adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan pada semua jalur dan jenjang pendidikan yang terdiri atas: (1) Pendidikan diniyah formal adalah lembaga pendidikan keagamaan Islam oleh dan berada di dalam pondok pesantren secara terstruktur dan berjenjang pada jalur pendidikan formal. (2) Pendidikan diniyah nonformal adalah pendidikan keagamaan Islam yang diselenggarakan dalam bentuk Madrasah Diniyah Takmiliyah, Pendidikan Alquran, Majelis Taklim, atau bentuk lain yang sejenis baik di dalam maupun di luar pesantren pada jalur pendidikan nonformal, dan (3) Pendidikan diniyah informal adalah pendidikan keagamaan Islam dalam bentuk program yang diselenggarakan di lingkungan keluarga pada jalur pendidikan informal.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca