alexametrics
29.2 C
Jember
Friday, 1 July 2022

Islam yang Menenteramkan

Mobile_AP_Rectangle 1

Jika potensi-potensi tersebut bisa dikembangkan secara utuh, insyaAllah kita akan bisa merasakan nikmatnya mujahadah kepada Allah Swt, karena hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang menuju ke hadirat-Nya. Allah adalah tujuan hidup kita, Allah adalah sumber kebahagiaan sejati, yang penuh dengan kedamaian.

Karakteristik generasi yang seperti inilah yang diharapkan mampu memahami Islam secara komprehensif, Islam yang menenteramkan dan penuh kedamaian. Karakteristik generasi seperti inilah yang diharapkan mampu memahami islam wasathiyah dan mewujudkannya dalam pemikiran keislaman dan kebangsaan menuju masa depan penuh ketenangan dan kedamaian.

Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Sudah waktunya dilakukan reorientaasi Pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat verbalistic, hanya terhenti di kata-kata, wacana, yang hanya menjadi konsumsi kognisi, konsumsi ‘aql semata.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pendidikan selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah sejatinya yang bisa menjadikan ‘aql menjadi “‘aqlussalim”, qalbulah yang akan menjadikan fisik menjadi “jismussalim”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Keutuhan dan keunggulan seperti inilah yang harus mendasari kehidupan generasi kita, intelektual sekaligus spiritual, sehingga generasi kita terus berprestasi dan memiliki kesadaran bahwa perjalanan kita adalah menuju hadlirat-Nya, untuk menggapai ridla-Nya, sehingga Allah Swt berkenan mencurahkan ketenteraman dan kedamaian yang sejati.

Sebagai akhir khutbah, diberikan kesimpulan sebagai berikut: pertama, bahwa impian kita untuk memahami dan mewujudkan Islam yang menenteramkan penuh dengan kedamaian adalah impian yang bisa kita wujudkan jikalau kita mampu mensyukuri karunia Allah Swt. Diantara karunia itu adalah fisik kita sebagai ciptaan terbaik, itupun masih Allah lengkapi kelengkapan non fisik, seperti “’aql”. “qalbu” dan “ruh”.

Kedua, bahwa kesadaran untuk dapat memahami dan mensyukuri karunia dengan baik perlu melalui pendidikan, dan reorientasi pendidikan menjadi pilihan utama. Pendidikan, selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah yang bisa mengantarkan ‘aql menjadi “‘aqlussalîm”, qalbulah yang bisa mengantarkan fisik menjadi “jismussalîm”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Reorientasi seperti ini diharapkan agar generasi mendatang bisa menempuh pengembangan potensi secara utuh untuk meraih impiannya yang hakiki, termasuk impian ketenteraman dan kebahagiaan hidup, karena hanya qalbu yang bisa merasakan, dan

Ketiga, bahwa kita berkewajiban terus mensupport tumbuhnya pemahaman dan perwujudan Islam yang komprehensif, Islam yang menenteramkan dan mendamaikan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara pemahaman dan perwujudkan islam wasathiyah menjadi pilihan utama, karena akan menampilkan wajah islam yang moderat, islam yang adil, dan Islam yang bisa menjaga dan mengembangkan keragaman Indonesia.

Allah Swt menyatakan dalam Alquran: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqarah: 143). Wallahu a’lam.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember

- Advertisement -

Jika potensi-potensi tersebut bisa dikembangkan secara utuh, insyaAllah kita akan bisa merasakan nikmatnya mujahadah kepada Allah Swt, karena hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang menuju ke hadirat-Nya. Allah adalah tujuan hidup kita, Allah adalah sumber kebahagiaan sejati, yang penuh dengan kedamaian.

Karakteristik generasi yang seperti inilah yang diharapkan mampu memahami Islam secara komprehensif, Islam yang menenteramkan dan penuh kedamaian. Karakteristik generasi seperti inilah yang diharapkan mampu memahami islam wasathiyah dan mewujudkannya dalam pemikiran keislaman dan kebangsaan menuju masa depan penuh ketenangan dan kedamaian.

Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Sudah waktunya dilakukan reorientaasi Pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat verbalistic, hanya terhenti di kata-kata, wacana, yang hanya menjadi konsumsi kognisi, konsumsi ‘aql semata.

Pendidikan selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah sejatinya yang bisa menjadikan ‘aql menjadi “‘aqlussalim”, qalbulah yang akan menjadikan fisik menjadi “jismussalim”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Keutuhan dan keunggulan seperti inilah yang harus mendasari kehidupan generasi kita, intelektual sekaligus spiritual, sehingga generasi kita terus berprestasi dan memiliki kesadaran bahwa perjalanan kita adalah menuju hadlirat-Nya, untuk menggapai ridla-Nya, sehingga Allah Swt berkenan mencurahkan ketenteraman dan kedamaian yang sejati.

Sebagai akhir khutbah, diberikan kesimpulan sebagai berikut: pertama, bahwa impian kita untuk memahami dan mewujudkan Islam yang menenteramkan penuh dengan kedamaian adalah impian yang bisa kita wujudkan jikalau kita mampu mensyukuri karunia Allah Swt. Diantara karunia itu adalah fisik kita sebagai ciptaan terbaik, itupun masih Allah lengkapi kelengkapan non fisik, seperti “’aql”. “qalbu” dan “ruh”.

Kedua, bahwa kesadaran untuk dapat memahami dan mensyukuri karunia dengan baik perlu melalui pendidikan, dan reorientasi pendidikan menjadi pilihan utama. Pendidikan, selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah yang bisa mengantarkan ‘aql menjadi “‘aqlussalîm”, qalbulah yang bisa mengantarkan fisik menjadi “jismussalîm”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Reorientasi seperti ini diharapkan agar generasi mendatang bisa menempuh pengembangan potensi secara utuh untuk meraih impiannya yang hakiki, termasuk impian ketenteraman dan kebahagiaan hidup, karena hanya qalbu yang bisa merasakan, dan

Ketiga, bahwa kita berkewajiban terus mensupport tumbuhnya pemahaman dan perwujudan Islam yang komprehensif, Islam yang menenteramkan dan mendamaikan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara pemahaman dan perwujudkan islam wasathiyah menjadi pilihan utama, karena akan menampilkan wajah islam yang moderat, islam yang adil, dan Islam yang bisa menjaga dan mengembangkan keragaman Indonesia.

Allah Swt menyatakan dalam Alquran: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqarah: 143). Wallahu a’lam.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember

Jika potensi-potensi tersebut bisa dikembangkan secara utuh, insyaAllah kita akan bisa merasakan nikmatnya mujahadah kepada Allah Swt, karena hidup kita pada hakikatnya adalah sebuah perjalanan panjang menuju ke hadirat-Nya. Allah adalah tujuan hidup kita, Allah adalah sumber kebahagiaan sejati, yang penuh dengan kedamaian.

Karakteristik generasi yang seperti inilah yang diharapkan mampu memahami Islam secara komprehensif, Islam yang menenteramkan dan penuh kedamaian. Karakteristik generasi seperti inilah yang diharapkan mampu memahami islam wasathiyah dan mewujudkannya dalam pemikiran keislaman dan kebangsaan menuju masa depan penuh ketenangan dan kedamaian.

Semua ini harus dimulai dari pendidikan. Sudah waktunya dilakukan reorientaasi Pendidikan kita. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat verbalistic, hanya terhenti di kata-kata, wacana, yang hanya menjadi konsumsi kognisi, konsumsi ‘aql semata.

Pendidikan selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah sejatinya yang bisa menjadikan ‘aql menjadi “‘aqlussalim”, qalbulah yang akan menjadikan fisik menjadi “jismussalim”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Keutuhan dan keunggulan seperti inilah yang harus mendasari kehidupan generasi kita, intelektual sekaligus spiritual, sehingga generasi kita terus berprestasi dan memiliki kesadaran bahwa perjalanan kita adalah menuju hadlirat-Nya, untuk menggapai ridla-Nya, sehingga Allah Swt berkenan mencurahkan ketenteraman dan kedamaian yang sejati.

Sebagai akhir khutbah, diberikan kesimpulan sebagai berikut: pertama, bahwa impian kita untuk memahami dan mewujudkan Islam yang menenteramkan penuh dengan kedamaian adalah impian yang bisa kita wujudkan jikalau kita mampu mensyukuri karunia Allah Swt. Diantara karunia itu adalah fisik kita sebagai ciptaan terbaik, itupun masih Allah lengkapi kelengkapan non fisik, seperti “’aql”. “qalbu” dan “ruh”.

Kedua, bahwa kesadaran untuk dapat memahami dan mensyukuri karunia dengan baik perlu melalui pendidikan, dan reorientasi pendidikan menjadi pilihan utama. Pendidikan, selain bersentuhan dengan ‘aqal, yang lebih penting harus menyentuh qalbu generasi kita, karena qalbu itulah yang bisa mengantarkan ‘aql menjadi “‘aqlussalîm”, qalbulah yang bisa mengantarkan fisik menjadi “jismussalîm”, dan qalbu pulalah yang akan menjadikan qalbu menjadi “qalbun salim”.

Reorientasi seperti ini diharapkan agar generasi mendatang bisa menempuh pengembangan potensi secara utuh untuk meraih impiannya yang hakiki, termasuk impian ketenteraman dan kebahagiaan hidup, karena hanya qalbu yang bisa merasakan, dan

Ketiga, bahwa kita berkewajiban terus mensupport tumbuhnya pemahaman dan perwujudan Islam yang komprehensif, Islam yang menenteramkan dan mendamaikan. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara pemahaman dan perwujudkan islam wasathiyah menjadi pilihan utama, karena akan menampilkan wajah islam yang moderat, islam yang adil, dan Islam yang bisa menjaga dan mengembangkan keragaman Indonesia.

Allah Swt menyatakan dalam Alquran: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (QS. Al-Baqarah: 143). Wallahu a’lam.

 

*Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, MA, adalah Guru Besar Pendidikan Islam UIN KHAS Jember, Wakil Ketua Umum MUI Jawa Timur dan Pengasuh Pondok Pesantren Shofa Marwa Jember

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/