alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Islam yang Menenteramkan

Mobile_AP_Rectangle 1

JUMAT, 25 Maret 2022 M bertepatan dengan 22 Sya’ban 1443 H.kami diundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Khotib Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Tentu saja sebagai intisari khutbah, tulisan ini dimulai dari harapan agar kita wajib bersyukur masih diberikan kesehatan, kekuatan dan hidayah oleh Allah untuk menunaikan kewajiban kita selaku muslim, sholat berjamaah jum’at di masjid, sebagai ikhtiar meningkatkan ketakwaan.

Kehadiran kita di masjid tentu menjadi perwujudan komitmen tersendiri, bahwa kita sedang menuju kehadlirat-Nya. Dialah sumber dari segala sumber kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan. Kitapun berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Salawat dan salam kita peruntukkan kepada junjungan kita Nabiyuna Muhammad Saw yang telah membimbing kita menuju Islam yang menenteramkan, yang membahagiakan dan Islam yang penuh kedamaian

Semoga keimanan kita tetap terjaga dan kita selalu dikaruniai ketenteraman, kebahagiaan dan kedamaian oleh Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran (QS. Al-Fath: 4) :“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Mobile_AP_Rectangle 2

BACA JUGA: Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Secara substantif jika ayat ini dikaji lebih intens, setidaknya memiliki dua makna: Pertama, bahwa Allah Swt yang akan memberikan ketenangan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman untuk menambah keimanan mereka.

Artinya, ketenangan dan kebahagiaan bukan berasal daari siapa-siapa, bukan berasal dari apa yang kita miliki seperti ilmu, jabatan dan harta, tetapi kebahagiaan sejati berasal dari karunia Allah Swt dan Kedua, bahwa ketenteraman, ketenangan dan kedamaian dimaksud akan bisa dirasakan oleh qalbu kita, bukan di ‘aql kita, apalagi di fisik kita.

Meskipun tanda-tanda ketenteraman dan kedamaian dimaksud bisa terpancar melalui ‘aqal dan fisik kita seperti pemikiran yang baik dan perilaku yang santun, sehingga ada ungkapan dalam Alquran dan al-hadits, seperti: “qalbun salîm”, ‘aqlussalîm”, dan “jismussalîm”. Ungkapan ini hanya akan terjadi jika qalbu benar-benar yang menjadi dynamo bagi fisik, ‘aql dan qalbu kita.

Yang seringkali muncul sebagai pertanyaan adalah kenapa hanya orang-orang mukmin yang akan dikaruniai ketenangan oleh Allah Swt.? Jawabnya, pertama kita bis akita mulai dengan introspeksi bahwa Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik yang dikaruniai banyak potensi dan kelebihan: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tîn: 4).

Selain secara fisik diciptakan dalam bentuk yang terbaik, Allah Swt masih melengkapi kelebihan non-fisik berupa: “’aql”. “qalbu” dan “ruh”. Jika potensi dan kelebihan ini disyukuri, dirawat dan dibina secara baik maka akan memungkinkan manusia meraih prestasi gemilang, mencapai beragam keunggulan, mencapai impian sejati, termasuk kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian hakiki.

Karena itu, potensi fisik harus dijaga dengan berolahraga dan asupan makanan-minuman yang halalan thayyiban. Potensi ‘aql, harus dijaga dengan intens membaca, qiroatul qur’an, akses ilmu dan pendidikan sehingga memahami ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah.

Demikian juga dengan potensi ‘qalbu, harus dijaga agar tumbuh kepekaan spiritualnya sehingga mampu mengapresiasi keimanan, keislaman dan keihsanan. Dengan kata lain, fisik manusia sebagai karya terbaik Allah Swt. Dengan karunia ’aql, Allah Swt memberi kita kemampuan berpikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah Swt memberi kita kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan.

Potensi qalbu inilah yang sering menimbulkan persimpangan pandang antara filsafat barat dan filsafat timur. Filsafat barat kurang menghargai potensi qalbu, sedang filsafat timur kurang mengoptimalkan potensi ’aql. Islam tentu menghendaki agar semua potensi kita dikembangkan secara seimbang sehingga memiliki potensi utuh sebagai manusia.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dikehendaki Islam adalah pengembangan yang utuh: “fisik sehat, aql cerdas, dan qalbu memiliki kepekaan spiritual tinggi”. bukan pengembangan yang parsial yang hanya akan menyebabkan terjadinya split personality (kepribadian belah), seperti: (a) fisik sehat dan kuat, tetapi ’aql lemot karena tidak memperoleh akses ilmu dan pendidikan yang layak, (b) ’aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu dan pendidikan yang memadai, tetapi fisik lemah dan sakit-sakitan karena kekurangan gizi, olahraga dan pengobatan, atau (c) fisik dan ’aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaannya lemah.

- Advertisement -

JUMAT, 25 Maret 2022 M bertepatan dengan 22 Sya’ban 1443 H.kami diundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Khotib Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Tentu saja sebagai intisari khutbah, tulisan ini dimulai dari harapan agar kita wajib bersyukur masih diberikan kesehatan, kekuatan dan hidayah oleh Allah untuk menunaikan kewajiban kita selaku muslim, sholat berjamaah jum’at di masjid, sebagai ikhtiar meningkatkan ketakwaan.

Kehadiran kita di masjid tentu menjadi perwujudan komitmen tersendiri, bahwa kita sedang menuju kehadlirat-Nya. Dialah sumber dari segala sumber kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan. Kitapun berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Salawat dan salam kita peruntukkan kepada junjungan kita Nabiyuna Muhammad Saw yang telah membimbing kita menuju Islam yang menenteramkan, yang membahagiakan dan Islam yang penuh kedamaian

Semoga keimanan kita tetap terjaga dan kita selalu dikaruniai ketenteraman, kebahagiaan dan kedamaian oleh Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran (QS. Al-Fath: 4) :“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

BACA JUGA: Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Secara substantif jika ayat ini dikaji lebih intens, setidaknya memiliki dua makna: Pertama, bahwa Allah Swt yang akan memberikan ketenangan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman untuk menambah keimanan mereka.

Artinya, ketenangan dan kebahagiaan bukan berasal daari siapa-siapa, bukan berasal dari apa yang kita miliki seperti ilmu, jabatan dan harta, tetapi kebahagiaan sejati berasal dari karunia Allah Swt dan Kedua, bahwa ketenteraman, ketenangan dan kedamaian dimaksud akan bisa dirasakan oleh qalbu kita, bukan di ‘aql kita, apalagi di fisik kita.

Meskipun tanda-tanda ketenteraman dan kedamaian dimaksud bisa terpancar melalui ‘aqal dan fisik kita seperti pemikiran yang baik dan perilaku yang santun, sehingga ada ungkapan dalam Alquran dan al-hadits, seperti: “qalbun salîm”, ‘aqlussalîm”, dan “jismussalîm”. Ungkapan ini hanya akan terjadi jika qalbu benar-benar yang menjadi dynamo bagi fisik, ‘aql dan qalbu kita.

Yang seringkali muncul sebagai pertanyaan adalah kenapa hanya orang-orang mukmin yang akan dikaruniai ketenangan oleh Allah Swt.? Jawabnya, pertama kita bis akita mulai dengan introspeksi bahwa Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik yang dikaruniai banyak potensi dan kelebihan: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tîn: 4).

Selain secara fisik diciptakan dalam bentuk yang terbaik, Allah Swt masih melengkapi kelebihan non-fisik berupa: “’aql”. “qalbu” dan “ruh”. Jika potensi dan kelebihan ini disyukuri, dirawat dan dibina secara baik maka akan memungkinkan manusia meraih prestasi gemilang, mencapai beragam keunggulan, mencapai impian sejati, termasuk kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian hakiki.

Karena itu, potensi fisik harus dijaga dengan berolahraga dan asupan makanan-minuman yang halalan thayyiban. Potensi ‘aql, harus dijaga dengan intens membaca, qiroatul qur’an, akses ilmu dan pendidikan sehingga memahami ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah.

Demikian juga dengan potensi ‘qalbu, harus dijaga agar tumbuh kepekaan spiritualnya sehingga mampu mengapresiasi keimanan, keislaman dan keihsanan. Dengan kata lain, fisik manusia sebagai karya terbaik Allah Swt. Dengan karunia ’aql, Allah Swt memberi kita kemampuan berpikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah Swt memberi kita kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan.

Potensi qalbu inilah yang sering menimbulkan persimpangan pandang antara filsafat barat dan filsafat timur. Filsafat barat kurang menghargai potensi qalbu, sedang filsafat timur kurang mengoptimalkan potensi ’aql. Islam tentu menghendaki agar semua potensi kita dikembangkan secara seimbang sehingga memiliki potensi utuh sebagai manusia.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dikehendaki Islam adalah pengembangan yang utuh: “fisik sehat, aql cerdas, dan qalbu memiliki kepekaan spiritual tinggi”. bukan pengembangan yang parsial yang hanya akan menyebabkan terjadinya split personality (kepribadian belah), seperti: (a) fisik sehat dan kuat, tetapi ’aql lemot karena tidak memperoleh akses ilmu dan pendidikan yang layak, (b) ’aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu dan pendidikan yang memadai, tetapi fisik lemah dan sakit-sakitan karena kekurangan gizi, olahraga dan pengobatan, atau (c) fisik dan ’aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaannya lemah.

JUMAT, 25 Maret 2022 M bertepatan dengan 22 Sya’ban 1443 H.kami diundang Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA sebagai Khotib Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta. Tentu saja sebagai intisari khutbah, tulisan ini dimulai dari harapan agar kita wajib bersyukur masih diberikan kesehatan, kekuatan dan hidayah oleh Allah untuk menunaikan kewajiban kita selaku muslim, sholat berjamaah jum’at di masjid, sebagai ikhtiar meningkatkan ketakwaan.

Kehadiran kita di masjid tentu menjadi perwujudan komitmen tersendiri, bahwa kita sedang menuju kehadlirat-Nya. Dialah sumber dari segala sumber kehidupan, kedamaian dan kebahagiaan. Kitapun berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Salawat dan salam kita peruntukkan kepada junjungan kita Nabiyuna Muhammad Saw yang telah membimbing kita menuju Islam yang menenteramkan, yang membahagiakan dan Islam yang penuh kedamaian

Semoga keimanan kita tetap terjaga dan kita selalu dikaruniai ketenteraman, kebahagiaan dan kedamaian oleh Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Alquran (QS. Al-Fath: 4) :“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allahlah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

BACA JUGA: Tri Ukhuwwah dan Diplomasi Global

Secara substantif jika ayat ini dikaji lebih intens, setidaknya memiliki dua makna: Pertama, bahwa Allah Swt yang akan memberikan ketenangan ketenteraman ke dalam hati orang-orang yang beriman untuk menambah keimanan mereka.

Artinya, ketenangan dan kebahagiaan bukan berasal daari siapa-siapa, bukan berasal dari apa yang kita miliki seperti ilmu, jabatan dan harta, tetapi kebahagiaan sejati berasal dari karunia Allah Swt dan Kedua, bahwa ketenteraman, ketenangan dan kedamaian dimaksud akan bisa dirasakan oleh qalbu kita, bukan di ‘aql kita, apalagi di fisik kita.

Meskipun tanda-tanda ketenteraman dan kedamaian dimaksud bisa terpancar melalui ‘aqal dan fisik kita seperti pemikiran yang baik dan perilaku yang santun, sehingga ada ungkapan dalam Alquran dan al-hadits, seperti: “qalbun salîm”, ‘aqlussalîm”, dan “jismussalîm”. Ungkapan ini hanya akan terjadi jika qalbu benar-benar yang menjadi dynamo bagi fisik, ‘aql dan qalbu kita.

Yang seringkali muncul sebagai pertanyaan adalah kenapa hanya orang-orang mukmin yang akan dikaruniai ketenangan oleh Allah Swt.? Jawabnya, pertama kita bis akita mulai dengan introspeksi bahwa Allah Swt menciptakan manusia sebagai makhluq terbaik yang dikaruniai banyak potensi dan kelebihan: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At-Tîn: 4).

Selain secara fisik diciptakan dalam bentuk yang terbaik, Allah Swt masih melengkapi kelebihan non-fisik berupa: “’aql”. “qalbu” dan “ruh”. Jika potensi dan kelebihan ini disyukuri, dirawat dan dibina secara baik maka akan memungkinkan manusia meraih prestasi gemilang, mencapai beragam keunggulan, mencapai impian sejati, termasuk kebahagiaan, ketenteraman dan kedamaian hakiki.

Karena itu, potensi fisik harus dijaga dengan berolahraga dan asupan makanan-minuman yang halalan thayyiban. Potensi ‘aql, harus dijaga dengan intens membaca, qiroatul qur’an, akses ilmu dan pendidikan sehingga memahami ayat-ayat qawliyah dan ayat-ayat kawniyah.

Demikian juga dengan potensi ‘qalbu, harus dijaga agar tumbuh kepekaan spiritualnya sehingga mampu mengapresiasi keimanan, keislaman dan keihsanan. Dengan kata lain, fisik manusia sebagai karya terbaik Allah Swt. Dengan karunia ’aql, Allah Swt memberi kita kemampuan berpikir kreatif dan dengan karunia qalbu, Allah Swt memberi kita kemampuan menangkap dan mengekspresikan keimanan, keislaman dan keihsanan.

Potensi qalbu inilah yang sering menimbulkan persimpangan pandang antara filsafat barat dan filsafat timur. Filsafat barat kurang menghargai potensi qalbu, sedang filsafat timur kurang mengoptimalkan potensi ’aql. Islam tentu menghendaki agar semua potensi kita dikembangkan secara seimbang sehingga memiliki potensi utuh sebagai manusia.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa yang dikehendaki Islam adalah pengembangan yang utuh: “fisik sehat, aql cerdas, dan qalbu memiliki kepekaan spiritual tinggi”. bukan pengembangan yang parsial yang hanya akan menyebabkan terjadinya split personality (kepribadian belah), seperti: (a) fisik sehat dan kuat, tetapi ’aql lemot karena tidak memperoleh akses ilmu dan pendidikan yang layak, (b) ’aql cerdas dan pandai karena memperoleh masukan ilmu dan pendidikan yang memadai, tetapi fisik lemah dan sakit-sakitan karena kekurangan gizi, olahraga dan pengobatan, atau (c) fisik dan ’aql baik, namun qalbu tidak berfungsi karena refleksi keimanan, keislaman, dan keihsanan lemah, atau singkatnya, kesadaran keagamaannya lemah.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/