sumber : nu.or.id

Memahami sanad keilmuan, sanad peribadatan dan sanad perjuangan para muassis dan tokoh Nahdlatul Ulama bagi kaum santri penting untuk mengmbil ‘ibrah (pelajaran berharga) dalam membawa panji-panji Islam ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah karena sanad-sanad tersebut telah mewarnai jatidiri kaum santri seingga berimplikasi terhadap mindset, sikap dan perilaku mereka.

IKLAN

Nahdlatul Ulama, adalah organisasi sosial keagamaan yang hingga kini masih eksis dan berakar kuat, khususnya di kalangan kaum santri. Ia lahir secara formal karena disemangati dua sebab utama. Pertama, karena keperluan untuk menyampaikan resolusi ulama ahlussunah wal jama’ah kepada penguasa baru Saudi Arabia dari Dinasti Su’ud (pengikut setia Wahabi) yang diduga akan mengancam punah tradisi-tradisi keagamaan ahlussunnah wal jama’ah. Kedua, karena keperluan untuk membangun semangat cinta tanah air (membangun nasionalisme) guna terus melepaskan belenggu kolonial Belanda dan terutama untuk menghadang “kristenisasi politik”nya. Dua sebab inilah yang mewarnai semangat kaum santri mewujudkan keislaman dan keIndonesiaa masa depan, yakni semangat “keislaman” ahlussunnah wal jama’ah dan semangat “kebangsaan” yang diposisikan secara proprsional dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Para ulama pendiri NU adalah ulama pesantren atau pengasuh pesantren yang derajat keilmuannya sangat tinggi dan kokoh dalam berpegang Islam ahlussunnah wal jama’ah. Paham ahlussunnah sendiri merupakan jiwa NU dan dipahami sebagai ajaran Islam yang hakiki, yang berintikan pertautan antara akidah, syari’ah dan akhhlaq. Tiga dalam kesatuan inilah yang membentuk watak NU berbeda dengan organisasi Islam lainnya. NU selalu tampil dengan karakterstik yang tegas tapi fleksibel, toleran dan akomodatif baik dalam kehidupan sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Sebagai jam’iyah NU mensyaratkan adanya ketaatan dan ketundukan terhadap kepemimpinan ulama, implementasinya tercermin dalam strutur organisasi yang menempatkan ulama sebagai pimpinan tertinggi NU, sedangkan dewan eksekutif menempati posisi sebagai pelaksana program jam’iyah. Budaya ketaatan dan ketundukan ini sendiri bersumber  dari tradisi keilmuan pesantren yag selalu menghormati sang guru atau pemegang kunci keilmuan yang selalu sambung menyambung sampai pada sumber asal.

Ketaatan dan ketundukan itupun telah mentradisi dan terumuskan dalam suatu doktrin “al-ulama’ waratsatu anbiya’/para ulama adalah pewaris para Nabi” dan “innama yakhsya Allaha min ‘ibaadihi al-ulama’/Sungguh, hanya para ulama yang takut (bertakwa) kepada Allah Swt diantara para hambaNya’. Maka norma pokok bagi seorang ulama adalah ketaqwaannya kepada Allah Swt., dan yang diwarisi dari para Nabi adalah “’alimun, ‘abidun, dan ‘arifun” Karena doktrin ini pula, para ulama bukan saja menjadi pemimpin formal NU atau pengasuh pesantrren, melainkan juga menjadi pemimpin informal, sebagai panutan yang patut diteladani oleh masyarakat di lingkungannya.

Posisi kepemimpinan ulama ini menjadi kuat karena memiliki pilar-pilar sebagai basis kepemimpinan yang kuat, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, khususnya kaum santri. Basis kepemimpinan NU yang pertama adalah pesantren. Kiai atau ulama pengasuh pesantren menjadi penopang utama berdirinya NU. Kaum santri dengan bimbingan kiai adalah pendukung utama keberadaan pesantren dan NU. Bahkan pesantren sering menjelma menjadi pusat-pusat kegiatan pencerahan dan pemberdayaan yang digagas NU dalam mengembangkan Islam ahlussunnah wal jamaah an-nahdliyah. Karena itu, hubungan NU dan pesantren sangat kuat, karena pesantren tempat persemaian kader-kader NU dan penjamin kesinambungan eksistensi paham keagamaan dan kebangsaan NU.

Selain itu, hubungan pesantren sebagai basis kepemimpinan NU dengan masyarakat sekitar terjalin baik. Ada empat saluran terjaganya hubungan baik anara pesantren dan masyarakat. Pertama, indoktrinasi ideal yang masih terasa tertanam berupa doktrin “al-ulama waratsatul anbiya’”, ulama adalah pewaris dan penerus ajaran Rasulullah; kedua, pendidikan agama baik yang terbatas bagi para santri melalui pengajian kitab-kitab Islam klasik maupun yang secara massal mengikutkan penduduk setempat, ketiga, pesan-pesan kiai atau pesantren dalam bentuk khutbah, pengajian ataupun fatwa-fatwa yang segera menyebar di kaangan santri, alumni dan wali santri, dan keempat, melalui jalur keluarga seperti kebiasaan melakukan silaturrahim, reuni, pertemuan yang bersifat kekeluargaan dan semacamnya.

Basis kepemimpinan NU yang kedua adalah Ulama dan Cendekiawan. Ulama yang dimaksud adalah kiai pengasuh pesantren yang kini tersebar ke seluruh masyarakat Islam Indonesia. Tidak ada lembaga pendidikan yang secara khusus mencetak ulama atau kiai, tetapi pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan Islam dimana ulama atau kiai banyak dilahirkan. Sedang cendekiawan adalah mereka yang selalu terlibat dan memiliki komitmen tinggi untuk selalu melakukan pencerahan dan pemberdayaan. Setelah era 1990-an banyak pesantren yang merintis perguruan tinggi, dan banyak putra-putri kiai pengasuh pesantren yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar pesantren baik di dalam maupun di luar negeri. Tentu ini fenomena yang sangat strategis.

Apa implikasi dari semua ini?, kalau dulu banyak pesantrren mendirikan perguruan tinggi yang hanya fokus pada bidang kajian keagamaan, seperti: tarbiyah, syari’ah, dakwah, dan sebagainya, sehingga melahirkan ulama-ulama yang berpengaruh kuat dikalangan terpelajar, karena selain sebagai kiai, juga adalah kiai yang bergelar sarjana, magister atau doktor. Sekarang banyak pesantrren mendirikan perguruan tinggi dengan bidang kaian yang beragam. Bukan hanya bidang kajian keagamaan, tetapi juga bidang kajian yang lebih luas, seperti: matematika, hukum, fisika, kimia, farmasi, kedokteran dan sebagainya. sehingga pesantren, atau basis kepemimpinan ulama sekarang semakin beragam, karena di pesantren sudah mempersiapkan sumberdaya manusia yang lebih beragam yang berpengaruh kuat dikalangan terpelajar, karena selain sebagai kiai, mereka adalah kiai yang bergelar sarjana, magister atau doktor dengan keahlian seperti: matematika, hukum tata negara, fisika, kimia, farmasi, kedokteran dan sebagainya seperti telah dikemukakan sebelumnya.

Basis kepemimpinan NU yang ketiga adalah tradisi. Faktor tradisi ini berkembang sangat kuat di kaanggan kaum santri, dan NU dinilai sebagai salah satu, bahkan satu-satunya organisasi sosial keagamaan yang banyak melakukan pencerahan dan pemberdayaan masyarakat melalui media tradisi ini. Membaca al-qur’an secara bersama, dikalangan kaum santri diwujudkan dengan tradisi sema’an al-qur’an; membaca surat yasin bersama di kalangan kaum santri diwujudkan dengan tradisi yasinan; membaca sholawat bersama-sama di kalangan kaum santri diwujudkan dengan tradisi sholawatan. Pengembangan tradisi-tradisi tersebut memiliki rujukan dalil yang kuat, sanad yang terpercaya dan backup SDM pessantren yang pendidikan dan keahliannya semakin memadai.   

Sebagai refleksi, kedepan, apa yang diyakini, diikhtiarkan dan diperjuangkan oleh para kiai, seperti: KH. Moh. Hasyim Asy’ari, KH. Moh. Kholil Bangkalan,  KH. As’ad Syamsul Arifin, KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Abdul Wahid Hasyim, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Achmad Siddiq dan para kiai lainnya adalah hal-hal yang substansial, strategis dan sangat dibutuhkan bagi perjalanan bangsa memerlukan kedamaian dan moderat ini. Kini, potret kaum santri semakin beragam, pendidikan dan keahliannya semakin kompeten, jumlahnya tak terhitung sangat banyak. Yang membanggakan, kalau ditanya tentang semangat kejuangan dan kepahlawaan ke depan, dengan tangan terkepal mereka kompak menjawab: “SIAPA KITA?, jawabnya: NU; NKRI?, jawabnya: HARGA MATI, PANCASILA?, jawabnya: JAYA”. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Pengasuh Pesantren Shofa Marwa, Ketua Umum MUI dan Guru Besar/Direktur Pascasarjana IAIN Jember