alexametrics
23.4 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Madrasah Diniyah dan Perubahan

Mobile_AP_Rectangle 1

DISKUSI tentang madrasah diniyah sepanjang sejarah pendidikan Indonesia tidak akan pernah berakhir. Satuan pendidikan tersebut telah eksis sejak sebelum Indonesia merdeka dan masih terus berkembang hingga sekarang. Banyak peneliti yang mengungkapkan, bahwa di antara alasan dipertahankannya eksistensi madrasah diniyah adalah karena dari madrasah diniyah lahir banyak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidikan yang sampai sekarang terus mewarnai pengembangan sistem pendidikan nasional.

Madrasah diniyah di Indonesia tumbuh dan berkembang pada permulaan abad ke-20 (Pijper, 1984: 92), pada masa merosotnya perkembangan sistem pendidikan madrasah di dunia Islam. Sementara itu, dunia Islam sendiri berinteraksi secara aktif dengan dunia barat dengan rasa sebagai negeri jajahan yang subordinat, dan karena itu berkecenderungan meniru. Keadaan ini telah mendorong upaya perencanaan lembaga pendidikan baru model Barat di satu pihak, dan upaya reformasi terhadap sistem pendidikan yang ada di pihak lain.

Madrasah yang pertama didirikan di Indonesia adalah Sekolah Adabiah. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909 di Padang. Sayangnya, usia madrasah ini tidak lama, pada tahun 1915 madrasah ini diubah menjadi HIS Adabiah. Empat tahun sebelum Sekolah Adabiah didirikan, yaitu tahun 1905, sebenarnya di Surakarta telah didirikan madrasah Manba’ul `Ulum oleh Raden Hadipati Sasro Diningrat dan Raden Penghulu Tafsirul Anom. Tetapi, karena masih mengikuti sistem pendidikan pondok pesantren (tanpa kelas), madrasah tersebut tidak dikategorikan sebagai madrasah yang pertama didirikan di Indonesia. Baru pada tahun 1916, ditetapkan sistem kelas pada madrasah tersebut, yaitu kelas I sampai kelas XI (Mahmud Yunus 1979: 286-287).

Mobile_AP_Rectangle 2

Pada paruh pertama abad ke-20 ini, madrasah telah tumbuh dengan pesat di Indonesia. Statistik Jawatan Pendidikan Agama, Kementerian Agama RI tahun 1954 menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia waktu itu ada 13.849 madrasah (Mahmud Yunus, 1979). Peningkatan segi kuantitatif dari madrasah itu ternyata tidak diimbangi oleh peningkatan segi kualitatifnya. Terbukti dari keanekaragaman (heterogenitas) kurikulumnya, kecuali madrasah-madrasah yang berada dalam satu organisasi, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan sebagainya.

Madrasah diniyah dimaksudkan sebagai institusi yang awalnya disediakan bagi peserta didik yang pada waktu pagi belajar di sekolah umum, dan pada sore hari ingin mendapatkan pelajaran agama. Madrasah jenis ini terbagi dalam tiga jenjang, yakni madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun); madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah ‘ulya (3 tahun). Madrasah yang dibentuk dengan keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 ini hampir tidak memiliki efek sosial, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.

Sesuai dengan fungsi madrasah diniyah, kurikulumnya benar-benar berorientasi pada mata pelajaran agama. Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah.

Dua dasawarsa setelah berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964, tepatnya 9 Maret 1983 ditetapkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah, yang sekaligus mencabut berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964. Yang menjadi pertimbangan utama sebagaimana tersurat pada klausul menimbang dalam PMA Nomor 3 Tahun 1983 ini adalah dalam rangka penyeragaman dan peningkatan mutu pendidikan pada madrasah diniyah, dipandang perlu untuk membakukan kurikulum madrasah tersebut dan meninjau kembali Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964.

Pada pasal 1 peraturan ini, dijelaskan hal-hal sebagai berikut: Madrasah Diniyah ialah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat pendidikan agama Islam. Madrasah Diniyah Awaliyah ialah madrasah diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas I sampai dengan IV dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah Wustha ialah madrasah diniyah tingkat menengah pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah ’Ulya ialah madrasah diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar selama 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.

Pada pasal 2 dijelaskan: Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya memakai sistem klasikal. Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya hanya menyelenggarakan pendidikan agama dan bahasa Arab (sebagai bahasa Alquran). Sedang pada pasal 3 dijelaskan: (1) Madrasah Diniyah Awaliyah menggunakan sistem caturwulan sebagai satuan waktu, dan (2) Madrasah Diniyah Wustha dan ’Ulya menggunakan sistem semester sebagai satuan waktu.

- Advertisement -

DISKUSI tentang madrasah diniyah sepanjang sejarah pendidikan Indonesia tidak akan pernah berakhir. Satuan pendidikan tersebut telah eksis sejak sebelum Indonesia merdeka dan masih terus berkembang hingga sekarang. Banyak peneliti yang mengungkapkan, bahwa di antara alasan dipertahankannya eksistensi madrasah diniyah adalah karena dari madrasah diniyah lahir banyak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidikan yang sampai sekarang terus mewarnai pengembangan sistem pendidikan nasional.

Madrasah diniyah di Indonesia tumbuh dan berkembang pada permulaan abad ke-20 (Pijper, 1984: 92), pada masa merosotnya perkembangan sistem pendidikan madrasah di dunia Islam. Sementara itu, dunia Islam sendiri berinteraksi secara aktif dengan dunia barat dengan rasa sebagai negeri jajahan yang subordinat, dan karena itu berkecenderungan meniru. Keadaan ini telah mendorong upaya perencanaan lembaga pendidikan baru model Barat di satu pihak, dan upaya reformasi terhadap sistem pendidikan yang ada di pihak lain.

Madrasah yang pertama didirikan di Indonesia adalah Sekolah Adabiah. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909 di Padang. Sayangnya, usia madrasah ini tidak lama, pada tahun 1915 madrasah ini diubah menjadi HIS Adabiah. Empat tahun sebelum Sekolah Adabiah didirikan, yaitu tahun 1905, sebenarnya di Surakarta telah didirikan madrasah Manba’ul `Ulum oleh Raden Hadipati Sasro Diningrat dan Raden Penghulu Tafsirul Anom. Tetapi, karena masih mengikuti sistem pendidikan pondok pesantren (tanpa kelas), madrasah tersebut tidak dikategorikan sebagai madrasah yang pertama didirikan di Indonesia. Baru pada tahun 1916, ditetapkan sistem kelas pada madrasah tersebut, yaitu kelas I sampai kelas XI (Mahmud Yunus 1979: 286-287).

Pada paruh pertama abad ke-20 ini, madrasah telah tumbuh dengan pesat di Indonesia. Statistik Jawatan Pendidikan Agama, Kementerian Agama RI tahun 1954 menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia waktu itu ada 13.849 madrasah (Mahmud Yunus, 1979). Peningkatan segi kuantitatif dari madrasah itu ternyata tidak diimbangi oleh peningkatan segi kualitatifnya. Terbukti dari keanekaragaman (heterogenitas) kurikulumnya, kecuali madrasah-madrasah yang berada dalam satu organisasi, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan sebagainya.

Madrasah diniyah dimaksudkan sebagai institusi yang awalnya disediakan bagi peserta didik yang pada waktu pagi belajar di sekolah umum, dan pada sore hari ingin mendapatkan pelajaran agama. Madrasah jenis ini terbagi dalam tiga jenjang, yakni madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun); madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah ‘ulya (3 tahun). Madrasah yang dibentuk dengan keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 ini hampir tidak memiliki efek sosial, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.

Sesuai dengan fungsi madrasah diniyah, kurikulumnya benar-benar berorientasi pada mata pelajaran agama. Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah.

Dua dasawarsa setelah berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964, tepatnya 9 Maret 1983 ditetapkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah, yang sekaligus mencabut berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964. Yang menjadi pertimbangan utama sebagaimana tersurat pada klausul menimbang dalam PMA Nomor 3 Tahun 1983 ini adalah dalam rangka penyeragaman dan peningkatan mutu pendidikan pada madrasah diniyah, dipandang perlu untuk membakukan kurikulum madrasah tersebut dan meninjau kembali Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964.

Pada pasal 1 peraturan ini, dijelaskan hal-hal sebagai berikut: Madrasah Diniyah ialah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat pendidikan agama Islam. Madrasah Diniyah Awaliyah ialah madrasah diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas I sampai dengan IV dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah Wustha ialah madrasah diniyah tingkat menengah pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah ’Ulya ialah madrasah diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar selama 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.

Pada pasal 2 dijelaskan: Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya memakai sistem klasikal. Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya hanya menyelenggarakan pendidikan agama dan bahasa Arab (sebagai bahasa Alquran). Sedang pada pasal 3 dijelaskan: (1) Madrasah Diniyah Awaliyah menggunakan sistem caturwulan sebagai satuan waktu, dan (2) Madrasah Diniyah Wustha dan ’Ulya menggunakan sistem semester sebagai satuan waktu.

DISKUSI tentang madrasah diniyah sepanjang sejarah pendidikan Indonesia tidak akan pernah berakhir. Satuan pendidikan tersebut telah eksis sejak sebelum Indonesia merdeka dan masih terus berkembang hingga sekarang. Banyak peneliti yang mengungkapkan, bahwa di antara alasan dipertahankannya eksistensi madrasah diniyah adalah karena dari madrasah diniyah lahir banyak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pendidikan yang sampai sekarang terus mewarnai pengembangan sistem pendidikan nasional.

Madrasah diniyah di Indonesia tumbuh dan berkembang pada permulaan abad ke-20 (Pijper, 1984: 92), pada masa merosotnya perkembangan sistem pendidikan madrasah di dunia Islam. Sementara itu, dunia Islam sendiri berinteraksi secara aktif dengan dunia barat dengan rasa sebagai negeri jajahan yang subordinat, dan karena itu berkecenderungan meniru. Keadaan ini telah mendorong upaya perencanaan lembaga pendidikan baru model Barat di satu pihak, dan upaya reformasi terhadap sistem pendidikan yang ada di pihak lain.

Madrasah yang pertama didirikan di Indonesia adalah Sekolah Adabiah. Madrasah ini didirikan oleh Syekh Abdullah Ahmad pada tahun 1909 di Padang. Sayangnya, usia madrasah ini tidak lama, pada tahun 1915 madrasah ini diubah menjadi HIS Adabiah. Empat tahun sebelum Sekolah Adabiah didirikan, yaitu tahun 1905, sebenarnya di Surakarta telah didirikan madrasah Manba’ul `Ulum oleh Raden Hadipati Sasro Diningrat dan Raden Penghulu Tafsirul Anom. Tetapi, karena masih mengikuti sistem pendidikan pondok pesantren (tanpa kelas), madrasah tersebut tidak dikategorikan sebagai madrasah yang pertama didirikan di Indonesia. Baru pada tahun 1916, ditetapkan sistem kelas pada madrasah tersebut, yaitu kelas I sampai kelas XI (Mahmud Yunus 1979: 286-287).

Pada paruh pertama abad ke-20 ini, madrasah telah tumbuh dengan pesat di Indonesia. Statistik Jawatan Pendidikan Agama, Kementerian Agama RI tahun 1954 menunjukkan bahwa di seluruh Indonesia waktu itu ada 13.849 madrasah (Mahmud Yunus, 1979). Peningkatan segi kuantitatif dari madrasah itu ternyata tidak diimbangi oleh peningkatan segi kualitatifnya. Terbukti dari keanekaragaman (heterogenitas) kurikulumnya, kecuali madrasah-madrasah yang berada dalam satu organisasi, seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan sebagainya.

Madrasah diniyah dimaksudkan sebagai institusi yang awalnya disediakan bagi peserta didik yang pada waktu pagi belajar di sekolah umum, dan pada sore hari ingin mendapatkan pelajaran agama. Madrasah jenis ini terbagi dalam tiga jenjang, yakni madrasah diniyah awwaliyah/ula (4 tahun); madrasah diniyah wustha (3 tahun); dan madrasah diniyah ‘ulya (3 tahun). Madrasah yang dibentuk dengan keputusan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 ini hampir tidak memiliki efek sosial, sehingga hanya sedikit peserta didik yang meminta ijazah formal dari institusi pendidikan ini.

Sesuai dengan fungsi madrasah diniyah, kurikulumnya benar-benar berorientasi pada mata pelajaran agama. Berdasarkan Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah.

Dua dasawarsa setelah berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964, tepatnya 9 Maret 1983 ditetapkan Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1983 tentang Kurikulum Madrasah Diniyah, yang sekaligus mencabut berlakunya Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964. Yang menjadi pertimbangan utama sebagaimana tersurat pada klausul menimbang dalam PMA Nomor 3 Tahun 1983 ini adalah dalam rangka penyeragaman dan peningkatan mutu pendidikan pada madrasah diniyah, dipandang perlu untuk membakukan kurikulum madrasah tersebut dan meninjau kembali Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 1964.

Pada pasal 1 peraturan ini, dijelaskan hal-hal sebagai berikut: Madrasah Diniyah ialah lembaga pendidikan dan pengajaran agama Islam yang berfungsi terutama untuk memenuhi hasrat orang tua agar anak-anaknya lebih banyak mendapat pendidikan agama Islam. Madrasah Diniyah Awaliyah ialah madrasah diniyah tingkat permulaan dengan masa belajar 4 (empat) tahun dari kelas I sampai dengan IV dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah Wustha ialah madrasah diniyah tingkat menengah pertama dengan masa belajar 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu. Madrasah Diniyah ’Ulya ialah madrasah diniyah tingkat menengah atas dengan masa belajar selama 2 (dua) tahun dari kelas I sampai dengan II dengan jumlah jam belajar sebanyak 18 jam pelajaran dalam seminggu.

Pada pasal 2 dijelaskan: Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya memakai sistem klasikal. Madrasah Diniyah Awaliyah, Wustha, dan ’Ulya hanya menyelenggarakan pendidikan agama dan bahasa Arab (sebagai bahasa Alquran). Sedang pada pasal 3 dijelaskan: (1) Madrasah Diniyah Awaliyah menggunakan sistem caturwulan sebagai satuan waktu, dan (2) Madrasah Diniyah Wustha dan ’Ulya menggunakan sistem semester sebagai satuan waktu.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/